oleh

Awal Deritaku (part 1)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 86 Orang

Klise sebenarnya, disaat seseorang mencintaimu, ia tak harus mengatakannya. Kau akan tahu dari cara ia memperlakukanmu. Namaku Cahaya Permata Bunda, sebenarnya aku tidak suka dengan nama pemberian orang tuaku yang menurutku aneh saja. aku bukan anak tunggal yang harus diberi nama permata bunda. Tapi menurut ibuku, setelah menikah mereka harus menunggu selama 5 tahun baru mereka diberikan momongan sehingga mereka memberikan nama itu. Sementara kedua adikku yang  laki – laki hanya diberi nama Azmi dan Azhar.

Aku tumbuh dewasa dengan kasih sayang yang menurutku biasa – biasa saja walaupun namaku ada permata bunda bukan berarti aku menjadi anak kesayangan kedua orang tuaku. Ayah yang cendrung keras alias displin dalam mendidik membuat aku menjadi anak yang keras hati. Nama saja perempuan tapi pantang bagiku untuk menangis.

Aku masih bisa mengingat sewaktu kelas IV SD aku berkelahi dengan kakak kelas yang notabene laki – laki yang badanya lebih besar dan kekar. Merasa aku akan kalah maka aku mengambil tongkal bola gasti dan memukulkannya tanpa memikirkan apakah akan menyebabkan luka parah atau tidak. Semenjak itu aku diberikan julukan gadis batu.

Ayah selalu mengingatkan anak pertama harus kuat serta bisa menjadi contoh teladan bagi adik – adikku. Harus selalu no satu, harus berani. Harus rajin. Harus disiplin, semuanya harus dan harus.

Karena didikkkan ayah yang keras maka aku tumbuh dengan watak yang keras tidak pernah mau menyerah dengan keadaan. Kelas dua SMA ayah dipanggil yang maha kuasa karena sakit jantung yang dideritanya. Hanya tinggal aku dan ibu serta kedua adikku yang menjadi tanggungan ibu sekarang. Ibu yang tidak pernah bekerja, karena ayah selalu mengatakan ibu dirumah saja, tugas ibu mendidik anak – anak cukup ayah yang bekerja.

Kepergian Ayah membuat ibu terguncang, walaupun kami tidak mati kelaparan karena ada pensiunan ayah, tapi itu tidaklah cukup untuk kehidupan kami sehari – hari. sebagai anak tertua tentu saja aku tidak mau ibu berlarut – larut dalam kesedihan dan kekurangan biaya untuk kehidupan kami sekeluarga. Dengan tekat bulat aku mengajak ibu untuk berjualan nasi lemak, karena nasi lemak buatan ibu sangat enak.

Walaupun harus bangun pagi, bahkan sangat pagi karena nasi lemak harus dimasak bersama lauk pauknya baru bisa di bungkus dengan daun pisang baru bisa dijajakan. Setiap hari Aku dan Ibu harus membuat 100 bungkus nasi lemak untuk menambah biaya kehidupan kami tapi aku tidak peduli. Dengan tubuh ibu yang tidak sehat karena di tinggal Ayah kadang – kadang aku harus menyelesaikan semua bungkusan nasi lemak karena ibu sudah kelelahan dalam membuatnya.

Aku tidak pernah mengeluh, kata – kata Ayah masih terngiang di kepalaku, mau hidup enak harus berusaha keras dari muda. Jangan malu bekerja keras yang penting halal. Perempuan laki – laki sama harus bekerja keras untuk jadi orang sukses.

Kerja keras membuatku menjadi juara kelas, hadiah dari juara kelas dari pihak sekolah aku mendapatkan beasiswa tidak perlu membayar uang sekolah selama 6 bulan, Alhamdulillah aku bisa meringankan beban ibu. Tak terasa aku sudah lulus SMA, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguran tinggi negeri.

“Cahaya, ibu tidak punya dana untuk kuliahnya.” Kata ibu sewaktu aku menyampaikan bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan keperguruan tinggi. Aku tidak patah semangat dengan perkataan ibu, aku hanya mendengarkan dengan tersenyum sambil berkata,” Insyaallah ada jalannya bu.” Cita – citaku sederhana namun banyak, salah satunya membahagiakan ibu dan menyekolahkan adik – adikku sampai sarjana. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed