oleh

Awal Deritaku (part 8)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 134 Orang

Rasanya aku sudah berabad – abad berada di kamar Ibu Indra tanpa mengeluarkan kata – kata seperti orang bisu. Aku hanya mendengar kata – kata Ibu dan Indra. Alhamdulillah aku tidak perlu mencari alasan untuk pergi dari kamar ini,, ketika aku mendengar suara Indra , “ Bu, Indra dan Cahaya harus kembali lagi ke kantor. Besok jika Cahaya tidak sibuk dia akan datang lagi menjenguk Ibu. Sambil menepuk – nepuk tanganku yang masih di genggamnya Ibu Indra berkata “ besok jika tidak sibuk datanglah menjenguk ibu sambil melepaskan genggamnya. Aku meraih tangan tua itu dan menciumnya sambil berkata “ Insyallah bu “sambil tersenyum aku melihat ada cahaya kebahagian dimatanya mendengar jawabanku.

Indra mengeser kursi yang aku duduk untuk membantu aku berdiri dan mengambil posisiku mencium kening tua dan tangan tua itu sambil berkata “ baqda Isya Indra kemari lagi bu.

Pukul sudah menunjukkan angka 1.15 siang ketika aku dan Indra keluar dari kamar Ibunya berarti 1 jam aku berada di kamar Ibunya Indra, sambil berjalan menuju lift aku seperti specless begitu juga Indra. Pintu lift terbuka, aku dan Indra masuk hanya kami yang berada di dalam lift aku mendengar suara Indra. “ Terima kasih sudah membuat Ibu bahagia sambil memandangku lekat dimataku. Aku tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangan mata kearah lain menghindar tatapan mata Indra yang tiba – tiba membuatku takut. “ Bolehkah aku mengajak Cahaya makan siang sekarang? Aku belum makan. Tanpa aku sadari kepalaku mengangguk mengiyakan ajakan Indra. Sesampai di lantai satu rumah sakit, keluar dari lift aku baru teringat bahwa aku datang kemari dengan mobilku, bagaimana ini. Belum lagi aku mengeluarkan kata – kata aku mendengar suara Indra “ Kita makan di café depan rumah sakit saja jika Cahaya tidak keberatan karena perutku sudah lapar sekali sambil memandangku meminta persetujuan. Aku hanya tersenyum kearah Indra dan menganggukkan kepala tanda setuju. Kami berjalan beriringan menuju café yang berada diseberang rumah sakit. Sewaktu mau menyeberang jalan Indra meraih tanganku dan memegangnya serta tangannya yang satu lagi memberi tanda kepada mobil dan Honda yang lewat untuk memberikan kami kesempatan untuk menyebrang.

Sesampainya di seberang jalan Indra melepas tangannya dari tanganku, aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan indra sambil berfikir mungkin inilah jodohku ya Allah. Sambil melirik dan tersenyum memandang wajah sekilas, Indra mengajakku duduk di pojok café, suasana kafe tidak begitu ramai mungkin sudah lewat jam makan siang. Indra memesan ayam gerpek dan jus orange sementara aku meminta gado – gado dan jus tomat campur wartel. Sambil menunggu pesanan kami datang Indra membuka percakapan di antara kami.(bersambung)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Wah lkama lama jadi buku nih Bu Siti Nurbaya, Sudah sampai cerbung “Awal Deritaku” di episode ke 8. Bu Guru. biasanya 30 – 40 episode sudah memenuhi syarat ketebalan sebuah Novel. Lanjutkan nanti YPTD terbitkan . Tetap semangat. Salam Literasi. YPTD

News Feed