oleh

Maafkan Aku Membuatmu Derita (part 5)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 35 Orang

Mobil aku parkirkan di depan rumah, tidak seperti biasanya Ibu tidak terlihat menyiram kebun bunga yang selalu dirawatnya. Aku mengucapkan salam, salamku juga tidak di jawab Ibu, akhirnya bergegas masuk ke dalam pasti terjadi sesuatu dengan Ibu.

“ Ibu…Ibu ….Ibu” masih tidak ada jawaban, aku berlari menuju kamar tidur ibu membuka pintu dan menengok ke dalam ibu tidak ku temukan kamar kosong. Aku menuntup pintu berlari kearah dapur sambil memangil

“ Ib…. belum selesai aku mengucapkan kata Ibu aku melihat ibu terbaring di lantai ruang dapur. Secepat kilat aku berlari ke arah Ibu, meraih tangannya memeriksa denyut nadi Ibu.

“ Alhamdulillah masih ada” kataku dalam hati. Aku mengangkat Ibu ke kamar, sesampainya di kamar dan meletakkan Ibu di tempat tidur. Aku mengambil handphoneku di nekan tuts handphone menghubungi rumah sakit meminta mengirim ambulance kerumahku.

Sambil menunggu ambulance dating aku berusaha menyadarkan Ibu dengan mengosokkan minyak angin di kening ibu dan menciumkan aromanya di hidung Ibu. ku ulang beberapa kali, baru aku melihat pergerakan dari Ibu. ibu mengejap – ngejapkan matanya beberapa kali seperti ingin mengingat apa yang terjadi.

“ Ibu…Ibu sudah sadar” kataku sambil memicit – micit kening Ibu hanya untuk mengurangi rasa sakitnya.

Tak lama ambulance datang, bersama ibu aku kerumah sakit. Di ruang IGD, ibu diberikan pertolong dan akhirnya ibu terpaksa di rawat inap.

***

Sudah 5 hari ibu di rawat rumah sakit, menurut dokter penyakit ibu lama ibu kambuh.

“ Indra, cepatlah menikah sebelum Ibu ingin melihat Indra menikah?” kata – kata Ibu menohok hatiku. Aku meraih tangan Ibu dan menciumnya,

“ Ibu jangan berkata seperti itu, Ibu akan sembuh”

“ Cepatlah menikah, bawalah Cahaya kemari.”

Aku sampai melupakan Cahaya, bagaimana kabarnya.

“ Iya bu, Indra akan mengajaknya kemari untuk melihat Ibu.”

Dua hari yang lalu Cahaya meneleponku sewaktu aku di luar kota, aku sudah berjanji akan menelepon jika sudah pulang tapi karena kondisi ibu yang seperti ini aku jadi lupa menelepon Cahaya. Semoga Cahaya tidak marah kepadaku, aku sudah berniat untuk menelepon Cahaya, aku mencoba menghubungi Cahaya satu dua sampai tiga kali aku menelepon Cahaya tapi tidak ada jawaban. Apakah Cahaya marah karena aku telah berjanji untuk meneloponya tapi karena kondisi ibu aku lupa untuk menelepon Cahaya.

Mungkin Cahaya marah sehingga tidak mau mengangkat telepon dariku.(bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed