oleh

Hujan Bawa Diaku(part 2)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 72 Orang

Aku kembali kedalam rumah, menutup pintu baru saja aku akan menekan kunci

“Assalamualaikum.” Suara yang ku tunggu – tunggu dari tadi

“Walaikumsallam.” Aku menjawab cepat serta membukakan pintu untuknya.

Wajah lesu terpangpang didepanku, tangannya menghulurkan beberapa bungkusan. Aku mengambil bungkusan yang dihulurkannya, tangan lainku mengandeng legannya.

“Sudah berbuka Bang?” tanyaku

“Sudah.” Hanya itu saja jawabannya

“Abang mau dibuatkan kopi?” tawarku padanya

“Abang mau mandi dulu.” Suaranya mengandung kepenatan yang dalam

Aku berjalan menuju dapur, meletakkan barang – barang yang diberikan suamiku.

Aku membuka kantong demi kantong, ada baju untuk aku dan anakku, ada kue kering 2 macam dan daging sapi beserta bumbu hanya aku tinggal membeli santan saja untuk membuat rendang. Aku meletakkan daging dan bumbu di dalam lemari es, hampir aku menabrak suamiku ketika aku berbalik ingin membawa kantong yang berisi baju untukku dan anakku.

Suamiku sudah wangi, rambutnya basah walaupun lelah tapi masih tampak gagah.

“Mana kopinya?” Tanya suamiku

“Astafirullahalazim lupa Bang, tunggu sebentar ya.” Kataku

Kantong aku letakkan lagi di atas meja makan, aku berjalan mengambil gelas dirak dan mengisi kopi dan gula

“Gulanya sedikit saja.” ujar suamiku sebelum aku menambahkan sendok gula ke dua. Aku mengangguk dan menuangkan air panas dari termos ke dalam gelas, mengaduknya dan membawanya kehadapan suamiku.

Suamiku mengeluarkan sesuatu dan menunjukkannya kepadaku, netraku membulat. Di tangan suamiku ada gawai baru.

“Kita pulang kampung dengan virtual saja.” katanya sambil tersenyum memandangku.

Netraku penuh air tapi aku berusaha menahannya, akhirnya tahun ini kami tidak pulang kampung lagi.

Takbir sudah mengema, sebentar tadi sudah ada pengumuman dari Kementrian Agama berdasarkan sidang Isbat tahun ini besok ditetapkan tanggal 1 Syawal. Aku sudah berharap kami sekeluarga bisa bertemu keluarga besar di kampung dengan virtual saja.

Tiba – tiba guruh berdentum dengan kuatnya tanpa ada tanda – tanda hujan turun dengan lebatnya, aku langsung mengadahkan tanganku berharap dengan cemas semoga di kampung tidak hujan seperti disini.

Sekali dua kali nada sambung terus berbunyi tapi tidak ada yang mengangkatnya sampai bunyi suara operator terdengar

“Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan.” Suara merdu itu  terus mengoceh.

Kami mengulang lagi mendail nomor telepon orangtuaku di kampung, masih respon yang sama. Aku terus berdoa semoga malam ini kami bisa tetap bertemu keluarga di kampung secara virtual. Harapan tinggal harapan sudah lebih dari tiga jam belum juga bisa terhubung.

Aku menghela napas berat, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dengan rasa kecewa yang besar, kami sepakat untuk menelepon besok pagi saja setelah sholat Id. Hujan ternyata membawa diaku dengan derasnya hujan sederas airmataku yang turun karena kecewa tidak bisa bertemu secara virtual dengan keluargaku.***

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed