oleh

Celoteh Nyakbaye, Cerpern “Merekam Hari (1)

-Cerpen, Fiksiana, KMAB-Telah Dibaca : 170 Orang

“Bang, jangan lupa makan di Sekolah.” Teriakan suaraku mengema di dalam rumah.

Rutinitas yang hampir setengah tahun ini aku lakukan, zaman boleh modern tapi yang namanya perjodohan masih berjalan. Asal usul pasangan menjadi taruhannya, kata orang jawa Bibit, Bobot, serta Bobot menjadi patokan yang harus diingat dan tak boleh dilanggar.

Kampung yang dulu masih kecamatan sekarang berubah provinsi beberapa tahun ini pesat berkembang. Dulu hanya kampung yang penuh dengan hutan, sekarang lihatnya tempat jin buang anak kata orang, menjadi pusat kota yang dikenal dengan naman Costal Area, keren namanya tapi aku tidak tahu siapa pencetus pertama nama itu. Mirip nama tempat yang berbau – bau di negera asing gitulah.

Suku Melayu, itu sukuku, nikah dengan sepupu sudah lumrah seperti aku ini. Sudah mengenal Bang Putra sejak masih dalam kandungan. Usia kami yang terpaut empat tahun menjadikan kami pasangan yang cocok kata Mak Ngahku, sementara aku anak dari Mak Ucu. Mak Ngah yang bersuamikan orang jawa sehingga Bang Putra lebih kalem, jejak Ayahnya mendarah daging di badannya. Sementara aku yang anak melayu tulen karena Mak memilih suami satu suku membuat watakku keras masih kata Mak Ngahku jadi cocok dengan Bang Putra anaknya yang kalem, Mak Ngah yang tidak punya anak perempuan sangat menyayangiku sehingga dari kecil sudah mengadang – gadangkan diriku sebagai menantunya.

Entah sejak kapan, aku mulai menyukainya Bang Putra. Mungkin karena sedari kecil telingaku sering didengarkan dengan kalimat akan menjadi pendampingnya, rasa itu tumbuh bak bunga mekar dan tak dapat aku hindari.

Tatapan netranya yang selalu membuat diriku bagaikan dalam kondisi jantung yang tidak baik saja, akhirnya aku menikah walaupun ada rasa sesak bahwa aku harus meninggalkan cita – cita untuk menjadi salah satu mahasiswa di perguruan ternama di Yogyakarta.(Bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan