oleh

Drama Perkahwinanku (1)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 113 Orang

Tidurku terganggu oleh suara dari luar, aku menajamkan pendengaranku apa gerakan yang terjadi di luas sana. Aku meraba tempat tidur di sampingku, mencari sosok yang selalu menemani tidurku selama 25 tahun ini, sosok laki – laki yang bergelar suami serta Abi dari anak – anakku. Tanganku hampa, sosok yang biasa menemaniku tak ada, untuk memastikannya aku membuka netraku yang seperti terlem karena larut malam aku baru bisa memejamkan mata efek menunggu Abi panggilan sayang untuk suamiku yang pulang lembur, baru tiba di rumah pukul 24 dengan wajah lusuh yang sungguh membuatku iba, bagaimana tidak Abi mencari nafkah untukku dan anak – anak dengan mengorbankan waktu istirahatnya.

Netraku membulat, kemana pergiya Abi. Jam dinding menunjukkan angka 3 pagi masih terlalu awal untuk Abi bangun, netraku saja masih lengket rasanya tapi karena tidak melihat keberadaan Abi di kamar, akhirnya aku membangung  tubuh lemah ini keluar kamar, menuju suara ribut yang berasal dari ruang depan rumahku.

Abi dengan siapa, netraku menangkap sosok perempuan yang lagi emosi jika di lihat dari raut wajahnya serta suara – suara yang keluar dari mulutnya, apa yang terjadi, batinku. Langkahku ku percepat menuju ke arah Abi dan perempuan di ruang depan rumahku.

“Bang, ini giliranku. Aku tidak rela Abang pulang ke sini. Ana lagi sakit, sekarang ikut aku pulang.” Deg kalimat terakhir yang aku dengar sebelum aku sampai di samping suamiku membuat langkahku terhenti beberapa langkah dari mereka yang lagi seru berdebat.

“Abi.” Akhirnya suaraku keluar, pandangan mata mereka berdua langsung menatap kearahku serentak.

Raut wajah suamiku sungguh membuat jantungku berpacu, kenapa begitu raut wajah Abi, ada yang salah, batinku mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Wajah wanita itu mengapa tiba – tiba berubah menjadi mengerikan, manik matanya seperti mau menelanjangiku dengan senyum sinis yang tersunging di bibirnya yang merah merona.

“Aku membawa suamiku pulang.” Duniaku seakan runtuh ketika perempuan itu berucap

“Abi, apa maksudnya.” Suaraku terdengar lirih karena shock dengan apa yang dikatakan perempuan itu, kakiku goyah, aku butuh tompangan untuk mengokohkan tegakku.

“Umi, tenang. Abi bisa jelaskan.” Secepat kilat Abi meraih badanku sebelum sempat aku jatuh dari diriku.

Netraku nanar menatap Abi, perempuan itu mendekat kepada kami, memegang tangan Abi yang lagi menompang tubuhku.

“Maaf Kak, anakku sakit, dia butuh Ayahnya saat ini.” Ucapannya mengiris hatiku seketika.

“Abi, apa maksudnya ini.” Sudut netraku memanas, lirih suaraku sungguh mengoyak jantungku mengeluarkan darah.

“Umi, Abi pamit dulu. Abi janji besok Abi akan menjelaskan semuanya. Sekarang izinkan Abi untuk pergi dulu. Umi jangan pikir yang macam – macam dulu, sekarang kunci pintu dan tidurlah, Umi pasti butuh istrirahat.” Suara yang selalu menyejukkan hatiku tapi kali ini tidak membuat aku tenang.

“Abi pasti pulangkan.” Ucapku ragu, dengan airmata yang mengalir deras di pipiku.

“Insyaallah, izin Allah Abi pulang besok sore.” Janjinya tapi tidak membuatku tenang. Tapi aku dengan terpaksa mengizinkan Abi untuk pergi daripada membuat heboh di subuh ini.

***

(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed