oleh

Drama Perkahwinanku (2)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 127 Orang

Sudah dua kali besok berarti sudah 3 hari Abi tidak pulang kerumah, gelisah tentu saja tapi setiap aku menelepon untuk mencari informasi selalu saja operator yang menjawab dengan manis tapi membuat hatiku terluka dan terasa sakit. Abi, mana janji Abi untuk pulang besok, batinku menjerit. Perlahan aku menghapus sudut netraku yang memanas, jangan sampai dilihat anak – anak aku tidak mau mereka kecewa dengan Abi yang selalu menjadi idola mereka.

Anganku melayang, bagaimana seandainya Abi seperti sinetron yang sering tayang sekarang ini, Abi terpikat dengan daun muda, sehingga daun tua diabaikan. Hatiku menolak tidak mungkin Abi menduakanku, Abi termasuk orang yang taat beragama, sekali lagi angan melayang jangan sampai Abi mengikuti sunah rasul dengan menikah karena alasan agama. Akh kepalaku tambah pusing.

“Umi umi, umi kenapa?” Panggilan si kecil anakku nomor 3 yang sudah tidak kecil lagi membuatku gelagapan.

“Umi baik – baik saja, hanya sedikit sakit kepala.” Ucapku terbata – bata

Si bungsu menghempaskan badannya duduk disampingku sambil merangkulku

“Abi tumben sudah 3 hari tidak pulang Mi.” ucapnya sambil bermanja – manja kepadaku

“Aisyah juga kenapa tanya Abi, biasanya tidak pernah.” Ucapku sekenanya

“Umi, aneh masak Ais tidak boleh tanya? Tidak biasanya Abi seperti ini Mi.” ucap Anakku merajuk dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.

“Abi lagi ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan di luar kota.” Ucapku sambil mengelus kepala anakku.

“Tumben rambutnya dibiarkan panjang Ais.” Aku berusah mengalihkan pembicaraan

“Hm pakai jilbab juga umi, siapa yang melihat panjang dan pendeknya rambut Ais.” Ucapnya masih dengan mulut yang dimonjongkan, aku tersenyum sedikit walau hatiku masih sakit dengan ketidak pulangan Abi yang sudah melebihi janjinya dan juga tidak memberikan kabar.

***

“Assalamualaikum.” Suara serak khas Abi mengema di ruang kamar kami

Aku masih tetap memandang keluar jendela, malas untuk memandang Abi. Sudah seminggu baru Abi pulang, batinku merintih.

“Kok salam Abi tidak di jawab Umi?” Ucap Abi sambil menghampiri Aku di jendela Kamar, berdiri di sampingku dan tangan itu sepertinya tidak merasa bersalah melingkar di pinggangku  yang tak seramping dulu.

Aku mencoba melepaskan pelukan tangan Abi di pinggangku, dengan berjalan menjauhi jendela dan menuju sofa yang berada di kamar dan menghempaskan tubuhku yang terasa sakit semua, bukan hanya hatiku yang sakit saat ini.

Langkah menjauhi jendela dan mendekati sofa semakin mendekat, aku tidak mengalihkan pandanganku dari gawai yang berada di tanganku, aku biarkan saja tubuh itu yang akhirnya mengambil posisi di salah satu sofa yang berada di kamar kami.

Perlahan tapi pasti aku mendengarkan helaan napas berat

“Umi.” Aku membiarkan saja suara itu tanpa memandang ke arah suara itu datang.

“Umi.” Sekali lagi aku mendengar suara Abi memanggilku, tapi aku tetap pada posisi diamku.

Aku berdiri melangkah menuju pintu kamar, kamar terasa panas aku tidak sanggup berlama – lama di dalamnya.

Rengkuhan tangan kekar di leganku, ku tepis

“Saya mau ke dapur, ada yang ingin dimakan.” Ketus suaraku, tanpa memandang wajah suamiku aku keluar kamar.

Ya Allah betapa berdosanya aku, tapi sunggh hati ini merasakan sakit yang teramat sangat, melihat Suamiku bertingkah seolah – oleh tidak ada kejadian.

“Mak ijah, tolong buatkan sarapan buat bapak.” Ucapku kepada pembantu rumah kami.

Setelah mengatakan itu, aku berjalan menuju ke halaman samping yang kusulap menjadi taman bunga. Aku memandang bunga – bunga yang bermekaran menyejukkan mataku tapi hatiku masih merasakan sakit yang teramat sangat. Aku duduk si salah satu bangku yang berada di sana, seandainya aku bunga, maka sekarang saatnya setiap kelopakku akan jatuh berguguran bunga yang sudah hilang serinya hanya menunggu layu. Sudut netraku memanas, satu persatu menetes ada luka yang mengangga, tapi aku harus bertahan demi anak – anak.

“Umi, Assalamualaikum.” Suara si bungsu seperti biasanya jika pulang kuliah seperti anak tarzan saja.

Cepat aku menghapus lelehan airmata yang membanjiri pipiku

“Waalaikumsallam Ais, anak gadis seperti preman kampung saja. jangan menjerit – jerit nanti jauh jodoh.” Ucapku sambil menjawab salam putriku.

“Abi sudah pulang Umi, ada mobil Abi di depan.” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Aisyah.

“Ais mau jumpa Abi dulu Mi.” ucap Ais setelah mencium tangan serta pipi kiri kananku.

Tak berselang lama, aku mendengar langkah mendekati taman samping rumah.

“Umi, Abi pamit keluar dulu.” Ucapan Abi sungguh membuat jantungku berdebar kencang, hatiku menangis. Hanya anggukan kepala yang bisa aku berikan, tidak ada ciuman tangan maupun kening yang menjadi sasaran cium Abi setiap mau keluar rumah.(bersambung)

***

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed