oleh

Hijrahku

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 142 Orang

Jadi terkenang  lagu yang popular pada tahun 80-an yang dinyanyikan Dian P, tidak akan membuat langkahku maju, malah takut mundur kebelakang. Ya Allah, aku menatap kalender beberapa hari lagi tahun baru islam tapi aku masih mengenang yang lalu, tak mampu beranjak dari kenangan dan tenggelam di dalamnya.

Lima tahun telah berlalu tapi kenangan itu masih sangat segar dalam ingatanku seperti baru kemaren, Bang Raihan mengucapkan ijal Kabul dengan suara lantang dengan satu kali hentakan napa sehingga membuat hatiku merasa terharu, bagaimana tidak, selama masa pingitan kami selalu chat maupun video call, dalam setiap kali chat dan video call Bang Raihan selalu mengeluh akan ketakutanya akan gagal dalam mengucap ijab kami nanti, aku tersenyum mendengarnya, untung saja kami berjauhan jika tidak aku pasti dengan gaya khasnya Bang Raihan akan merajuk dan mengacak rambutku menjadi kebiasannya jika lagi marah padaku, seterusnya pipi ini akan menjadi toelan iseng tangan Bang Raihan sehingga aku merasa jengah dibuatnya.

***

Aisyah, namaku, tepat tahun baru hijrah ini umurku bertambah memasuki kepala tiga dengan satu orang putra yang lucu, duplikat dari Bang Raihan tentu membuat Bunda dan Ayah merasa aku perlu memikirkan masa depan anakku yang sekarang sudah mulai bertanya kenapa Papanya tidak pernah bermain denganya. Tatapan sendu jagoanku membuat aku larut dalam luka mendalam kehilangan Bang Raihan.

Alasan yang membuat aku susah untuk menjawabnya, kesalahan fatal yang aku buat sendiri kenapa aku tidak jujur saja mengatakan Papanya sudah tenang di sisi yang Maha Kuasa. Tapi lidah ini malah mengarang cerita yang membuat harapan palsu kepada putra semata wayangku dan membuat aku dalam dilema setiap saat dia menanyakan papanya.

“Kemaren Pak Longmu datang membawa hajat untuk menikahkan Ais dengan Adnan putra Paklongmu yang sekarang menduda.” Ucapan Bunda membuatku mengerjitkan mata dan memandang dengan wajah serius ke arah Bunda, ini bukan lamaran pertama yang datang kepadaku setelah setahun kepergian Bang Raihan.

“Bukankah belum enam bulan Bang Adnan di tinggal mati istrinya Bunda?” ucapku kesal, bagaimana bisa Bang Adnan sudah terpikir untuk menikahiku, batinku kesal.

“Kasian Syahnaz, Ais masih kecil butuh sosok Ibu, Ais tidak kasian dengan Syahnaz.” Bela Bunda.

Aku terdiam mendengar ucapan ibu yang sebenarnya juga aku rasakan, bagaimana si jagoanku nanti jika bertanya kepadaku tentang sosok Ayah, tapi hatiku masih tidak mau hijrah dari bayangan Bang Raihan.

***

“Ma, Adek Syahnaz lucu, Abizar mau dek Syahnaz jadi adek Abil boleh ma?” mata poppy eyes anakku sungguh membuat jantungku berdebar seribu kali lebih cepat dari biasanya, tak terbayangkan ini akan ditanyakan oleh jagoanku.

Tidak bisa aku pungkiri kedekatan Bang Adnan setelah Bunda mengatakan niat Pak Long, dengan anakku yang memang sengaja di atur oleh Bunda membuatku jengah. Hanya senyum resah yang bisa aku hadirkan untuk menjawab pertanyaan jagoanku.

“Ma, jangan senyum jawab pertanyaan Abi Ma. “ rengek jagoanku karena permintaanya hanya mendapat senyum dariku saja.

“Abi sayang, Abi sudah tanya sama Pakcik Adnan mau Abi jadi anakknya?” Ucapku berusaha mencari perkataan yang pas dengan umur anakku sekarang ini.

“Bukan Pakcik Ma, tapi Ayah Adnan. Abi harus panggil Ayah Adnan, bukan pakcik.” Jelas ucapan anakku membuatku bingung

“Siapa yang nyuruh panggil Ayah dengan Pakcik Adnan, Abi?” selidikku, pasti ini ulah Bunda, batinku geram

“Ayah Adnan yang minta Ma.” Sungguh jawaban yang membuatku merasa mati kutu.

“Sudah sebulan ini Abi memanggil Ayah Adnan.” Penjelasan Abizar anakku sungguh membuat sudut netraku menjadi panas, setetes air mengalir disana secepat kilat aku menghapusnya.

“Boleh ya Ma, adik Syahnaz jadi adik Abi.” Ulang jagoanku dengan sungguh – sungguh

“Nanti Mama tanya Nenek dulu.” Ucapku menghindar menjawab pertanyaan Abi

“Nenek boleh Ma, kata nenek tinggal Mama bilang Yan. Ayah Adnan dan Adek Syahnaz akan jadi milik Abi.” Ucapan polos jagoaku menambah rasa nyeri yang dari tadi aku rasakan di sudut hatiku.

***

Malam sudah larut percakapan dengan anakku Abizar masih saja terlintas di pikiranku, bagaimana membuat anak seumur 3 tahun mengerti bahawa aku belum bisa hijrah dari pesona Papanya yang sudah lebih dulu meninggalkan kami di dunia fana yang keras ini. Setetes demi setetes airmata membasahi pipiku, isak yang ku tahan sejak tadi membuat dadaku sebak, aku melihat jagoanku Abizar tertidur dengan nyenyak sesekali terlihat senyum mengukir di bibirnya. Apa yang sedang di impikan anakku sehingga terbawa mimpi, jangan sampai Abizar bermimpi Bang Adnan dan Syahnaz sudah menjadi keluarganya.

Ya Allah, aku menahan isakku jangan sampai isakku membuat jagoanku terbangun dari tidur nyenyakknya, tapi aku tidak mau jika Abizarku bermimpi mempunyai Papa baru, sungguh batinku galau dan kepalaku sakit memikirkan masalah ini.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, lebih baik aku mengambil wudhu dan mengadu kepadanya, batinku melirih.

***

“Aku terima nikahnya bla bla.” Tak  semua ucapan Bang Adnan terdengar olehku. Hanya suara ucapan ijab Bang Raihan yang masih tergiang ketika melafazkan ijab pernikahan kami dulu. Pelukan di pundak mengejutkanku, Bunda tersenyum menatap wajahku, tak sulit aku mengartikan senyum Bunda.

Harapanku satu, bisa  membina hidup baru dengan Bang Adnan demi kepentingan jagoanku dan semuanya lillah karena Allah, senyum ceriah terlihat manis di bibir Abizar yang dari tadi asyik bermain bersama Adik Syahnaznya. Bunda membawaku duduk di samping Bang Adnan yang telah sah menjadi suamiku, meraih tanggannya untukku cium. Sentuhan bibir Bang Adnan di keningku memberikan nuansa baru bagi kehidupanku sejak saat ini.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed