oleh

Jalan Cintaku (1)

Senyum manisnya membuatku jatuh cinta, sesekali dia berlari kearahku. Lucu mau menganggu tapi tidak mau diganggu, netraku terus mengawasinya. Teriakan kecil lucu mengusik kalbuku membuatku semakin cinta kepadanya. Sudah beberapa bulan ini, sejak aku tidak lagi mengajar akibat pandemic melanda, aku salah satu yang terkena dampaknya, di PHK dengan janji jika pandemic berakhir akan diperkerjakan kembali. Hanya doa serta memakain tabungan sebaik mungkin untuk mencukupi keperluanku, untung masih ada orangtua yang bisa menjadi sandaran hidup. Menghonor di sekolah swasta yang kecil karena pandemic tahun ini tidak banyak siswa yang mendaftar sehingga ada beberapa dari kami terpaksa berhenti mengajar sementara.

Flashback

“Hana, Mak long meminta hana untuk menjaga cucunya. Anak  alharhumah kak intan, daripada menganggur Han.” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mak.

“Kesian kat anak intan tu, baru setahun dah kena tinggal maknya.” Mak terus saja berceloteh.

“Hana kapan nak menikah?” tiba – tiba Mak mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung nak jawab apa.

“Menikah sekarang tak ada pesta, jadi tak sangat menyusahkan.” Mak terus saja berceloteh

“Nikah dengan siapa mak, mak ada calon untuk Hana.” Aku terkejut sendiri dengan perkataanku.

“Betul ni mak yang carikan jodoh.” Akhirnya aku tersenyum masam mendengar perkataan mak.

***

Sudah lebih tiga bulan aku menjaga si kecil anak almarhum kak intan, baru sekali aku bertemu dengan dudanya kak intan. Orangnya yang terkesan pendiam, entah itu karena baru kehilangan istrinya atau memang seperti itu dirinya.

“Bang Dahlan memang macam tu Hana, sejak meninggal istrinya lebih banyak berdiam diri.” Oceh mak long ketika aku mengantar si kecil yang sudah memikat hatiku.

“Mama.” Aku tersenyum geli jika si kecil Dani memanggilku Mama.

Si kecil Dani, baru pandai berjalan dan berbicara setiap hari aku menjadi ibu pengasuh, lumayan ada tambahan pendapatan. Walaupun ada rasa cemas, jika sampai aku di panggil untuk mengajar lagi, siapkah aku berpisah dengan si Dani kecil yang sudah memikat hatiku.

Hujan turun dengan tiba – tiba, aku tidak sedia payung dan entah apa pula payung mak long juga lagi di pinjam. Akhirnya aku harus menunggu hujan reda, sambil menunggu hujan aku bermain bersama dani kecil. Seakan lupa akan dunia bukan hanya milik kami, aku tertawa dan mengoceh membuat dani juga mengeluarkan suara lucunya yang membuatku lupa kalau sore sudah berganti malam. Azan magrib berkumandang, terpaksa aku menumpang sholat magrib di rumah mak long, selesai menunaikan kewajibanku aku kembali bermain bersama dani karena hujan belum menunjukkan akan reda.

“Hana kita makan bersama ya.” Ucapan Mak Long membuatku terkejut

“Biar nanti saja mak long, Hana makan di rumah saja.” ucapku cepat

“Temankan mak long makan, semejak almarhum pergi jarang bang Dahlan kau nak makan bersama.” Aku sedih mendengar ucapan mak long. Macam manapun mak long sangat menyayangiku.

Ketika kami hendak memulai makan, bang dahlan keluar dari kamar

“Dahlan mari makan bersama.” Ucap Mak Long

“Ya mak.”

Aku dan mak long terkejut dengan respon bang dahlan yang menurut ketika diajak kami, sekarang kami sudah duduk berempat di meja makan. Dani yang dari tadi di pangkuanku juga ku suap dengan nasi buburnya.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed