oleh

Jalan Cintaku (1)

-Terbaru-Telah Dibaca : 31 Orang

Senyum manisnya membuatku jatuh cinta, sesekali dia berlari kearahku. Lucu mau menganggu tapi tidak mau diganggu, netraku terus mengawasinya. Teriakan kecil lucu mengusik kalbuku membuatku semakin cinta kepadanya. Sudah beberapa bulan ini, sejak aku tidak lagi mengajar akibat pandemic melanda, aku salah satu yang terkena dampaknya, di PHK dengan janji jika pandemic berakhir akan diperkerjakan kembali. Hanya doa serta meMakHana tabungan sebaik mungkin untuk mencukupi keperluanku, untung masih ada orangtua yang bisa menjadi sandaran hidup. Menghonor di sekolah swasta yang kecil karena pandemic tahun ini tidak banyak siswa yang mendaftar sehingga ada beberapa dari kami terpaksa berhenti mengajar sementara.

Flashback

“Hana, Mak Long meminta Hana untuk menjaga cucunya. Anak  alharhumah kak intan, daripada menganggur Han.” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mak.

“Kesian kat anak intan tu, baru setahun dah kena tinggal Maknya.” Mak terus saja berceloteh.

“Hana kapan nak menikah?” tiba – tiba Mak mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung nak jawab apa.

“Menikah sekarang tak ada pesta, jadi tak sangat menyusahkan.” Mak terus saja berceloteh

“Nikah dengan siapa Mak, Mak ada calon untuk Hana.” Aku terkejut sendiri dengan perkataanku.

“Betul ni Mak yang carikan jodoh.” Akhirnya aku tersenyum masam mendengar perkataan Mak.

***

Sudah lebih tiga bulan aku menjaga si kecil anak almarhum kak intan, baru sekali aku bertemu dengan dudanya kak intan. Orangnya yang terkesan pendiam, entah itu karena baru kehilangan istrinya atau memang seperti itu dirinya.

“Bang Dahlan memang macam tu Hana, sejak meninggal istrinya lebih banyak berdiam diri.” Oceh Mak Long ketika aku mengantar si kecil yang sudah memikat hatiku.

“Mama.” Aku tersenyum geli jika si kecil Dani memanggilku Mama.

Si kecil Dani, baru pandai berjalan dan berbicara setiap hari aku menjadi ibu pengasuh, lumayan ada tambahan pendapatan. Walaupun ada rasa cemas, jika sampai aku di panggil untuk mengajar lagi, siapkah aku berpisah dengan si Dani kecil yang sudah memikat hatiku.

Hujan turun dengan tiba – tiba, aku tidak sedia payung dan entah apa pula payung Mak Long juga lagi di pinjam. Akhirnya aku harus menunggu hujan reda, sambil menunggu hujan aku bermain  bersama Dani kecil. Seakan lupa akan dunia bukan hanya milik kami, aku tertawa dan mengoceh membuat Dani juga mengeluarkan suara lucunya yang membuatku lupa kalau sore sudah berganti malam. Azan magrib berkumandang, terpaksa aku menumpang sholat magrib di rumah Mak Long, selesai menunaikan kewajibanku aku kembali bermHana bersama Dani karena hujan belum menunjukkan akan reda.

“Hana kita Makan bersama ya.” Ucapan Mak Long membuatku terkejut

“Biar nanti saja Mak Long, Hana Makan di rumah saja.” ucapku cepat

“Temankan Mak Long Makan, semejak almarhum pergi jarang Bang Dahlan kau nak Makan bersama.” Aku sedih mendengar ucapan Mak Long. Macam manapun Mak Long sangat menyayangiku.

Ketika kami hendak memulai Makan, Bang Dahlan keluar dari kamar

“Dahlan mari Makan bersama.” Ucap Mak Long

“Ya Mak.”

Aku dan Mak Long terkejut dengan respon Bang Dahlan yang menurut ketika diajak kami, sekarang kami sudah duduk berempat di meja Makan. Dani yang dari tadi di pangkuanku juga ku suap dengan nasi buburnya.(bersambung)

Tak ada kata – kata yang keluar dari mulut Bang Dahlan, hanya menyiMak suara yang keluar dari mulut Mak Long dan si Dani kecil yang sedang suka – sukanya berbicara.

“Mama turun.” Aku tersenyum dan menurunkan Dani, kebetulan aku juga sudah selesai Makan.

“Mak, kenapa Dani memanggil Mama kepada Hana.” Suara Bang Dahlan membuatku langsung memandang Bang Dahlan, ekspresi tidak sukanya jelas terlihat.

“Budak – budak dahlan biarkan saja.” ucap Mak Long

“Tapi Mak.”

Belum selesai ucapan Bang Dahlan Mak Long bersuara

“Sudahlah Dahlan, kalau Dahlan tak suka Dani memanggil Hana mama. Carikan Dani mama baru secepatnya.”

Muka Bang Dahlan memerah bagaikan udang yang direbus, mendengar Mak Long berucap.

“Mak belum juga kering kubur Lia.” Suara yang mengadung emosi, Bang Dahlan meninggal Makannya yang belum selesai.

Entah alam berpihak kepadaku atau apa yang pasti hujan sudah reda, dengan perasaan yang tidak enak aku minta diri dengan Mak Long.

“Mak Long, Hana pulang dulu.”

“Mama mama mama.” Teriakkan Dani memecah keheningan karena emosi Bang Dahlan, suara tangis Dani yang tidak mau aku pamit pulang.

Langkah berat tiba – tiba sudah berada di sampingku, mengambil kasar Dani dari pelukku dan membawanya ke kamar.

Aku sungguh merasa tidak enak hati, dengan cepat aku meninggalkan rumah Mak Long setelah mencium tangan Mak Long. Rintik hujan ternyata turun, seiring hatiku yang menangis melihat perlakuan Bang Dahlan yang tidak manusiawi kepada Dani.

“Assalamualaikum.” Serak suaraku memberi salam, sebelum masuk ke rumah.

Secepat kilat aku menuju kamar, jangan sampai Mak melihat luka di wajahku, aku kesal dengan sikap Bang Dahlan. Seingatku Bang Dahlan merupakan orang yang easy going, selalu tersenyum dan bersahabat. Walaupun aku tidak terlalu dekat dengan Bang Dahlan, tapi setiap ada acara keluarga Bang Dahlan selalu menjadi pusat perhatian karena pribadinya yang menyenangkan. Atau mungkin karena kehilangan Kak Lia Bang Dahlan berubah, semua berkecamuk dalam pikiranku. Kasihannya si Dani kecil, batinku.

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed