oleh

Jalan Cintaku (4)

-Terbaru-Telah Dibaca : 119 Orang

Nanar netraku melihat infuse yang terpasang di tangan mungil Dani, begitu egonya sampai mengorbankan Dani hanya karena takut menjadi buah bibir tetangga. Tak bisa lagi aku tahan air yang sejak dari tadi ingin keluar. Aku terisak, untung saja hanya aku sendiri yang berada di kamar rawat inap Dani, setelah tadi Bang Dahlan mengizinkan aku untuk menunggu Dani.

“Mama.” Aku tersentak mendengar suara lirih Dani memanggil aku

“Ya sayang, mana yang sakit.” Lirih suaraku menekan isak yang harus aku sembunyikan dari Dani

“Mama kemana, kenapa tidak datang ke rumah.” Dengan mata sayu yang semakin membuatku merasa bersalah.

“Maaf mama sibuk, tapi sekarang Mama ada. Dani cepat sembuh ya.”

“Mama peluk.” Aku meraih Dani dalam pelukanku

Pintu kamar rawat inap Dani terbuka, aku melihat Bang Dahlan bersama Mak Long, ternyata sudah masuk waktu besok.

“Hana, Dani rindu berat sama Hana. Tapi Mak Long tahu pasti Hana terganggu dengan ucapan tetangga kita karena itu Mak Long tak mengabari Hana, setiap hari selama dua minggu ni Dani bertanyakan Hana dan puncakknya dua hari yang lalu terpaksa kami mengajak Dani ke rumah sakit dan terpaksa di rawat.” Jelas Mak Long panjang lebar.

“Maafkan Hana Mak Long.” Ucapku menyesal.

***

 

Sebulan sudah berlalu, Dani sekarang lebih sering di rumahku daripada di rumahnya. Ini semua karena Dani tidak bisa lepas dari diriku, aku tidak lagi mengambil pusing apa yang dikatakan tetangga dari pada Dani menjadi tumbal dari keusilan mereka terhadap hidup Aku dan Dani.

“Assalamualaikum, Hana ada waktu nanti malam. Ada yang perlu Abang bicarakan dengan Hana.” Aku memandang chat Bang Dahlan yang masuk.

“Tak bisa bicara di rumah saja Bang.” Balas chatku kepada Bang Dani

“Sekali – sekali kita ajak Dani keluar, Abang harap Hana tidak menolak.”

Aku memandang Dani yang bermHana dalam pengawasanku, melihat Dani aktif membuatku merasa bahagia.

“Abang jemput jam berapa.” Akhirnya aku menyetujui ajakan Bang Dahlan.

“Habis magrib Abang jemput Hana dengan Dani.”

***

Di sinilah kami, duduk di salah satu rumah makan yang berada di costal area tempat yang menjadi kerumunan masa untuk menghilangkan lelah setelah seminggu bekerja mencari rezeki. Rumah makan yang terletak di atas laut dengan sejukkan angin malam, mataku tak lepas dari Dani, Dani sedang lasak – lasaknya aku ada rasa cemas ketika Bang Dahlan mengatakan kami akan makan di rumah makan ini. Aku takut Dani tercebur ke laut, tapi Bang Dahlan memastikan kami berdua pasti bisa mengawasi Dani.

Sedari tadi sudut netraku menyadari bagaimana Bang Dahlan memperhatikan interaksi Aku dan Dani, sesekali Bang Dahlan akan meraih Dani jika melihat aku kewalahan dengan ulah Dani yang berusaha mendekati pagar rumah makan yang mengelilinginya.

“Hana, Abang tidak pandai berbasa basi apalagi merayu. Menikahlah dengan Abang.” Pernyataan Bang Dahlan sempat membuat diriku menatap Bang Dahlan intens.

“Ini bukan demi Dani saja, tapi juga demi Abang, Abang akan merasakan hampa jika tidak melihat Hana. Hana tidak saja mengisi hari Dani tapi juga mengisi hari – hari Abang. Seperti ada yang kurang jika tidak melihat Hana sehari saja.” aku melihat senyum malu ketika Bang Dahlan menyatakan isi hatinya.

“Abang tahu ini pasti membutuhkan waktu untuk Hana, jangan hanya pikirkan Abang dan Dani tapi juga pikirkan apa yang Hana inginkan, Abang akan menunggu jawaban Hana.” Jujur perkataan Bang Dahlam mengacaukan pikiranku saat ini.

Untung saja Dani ada di antara kami sehingga aku bisa menyembunyikan situasi canggung di antara kami, apalagi setelah mengatakan itu aku merasakan sikap dan tatapan netra Bang Dahlan begitu berbeda.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed