oleh

Lamunanku (3)

-Terbaru-Telah Dibaca : 44 Orang

“Sinta, jangan lembur malam ini. Tolong Mak Cik memasak ada tamu yang nak datang.” Sambutan pagiku hari ini, belum juga masuk segelas air untuk mememani pagiku tapi permintaan Mak Cik yang menyakitkan hati.

Akhirnya langkahku menjauh dapur, ku biarkan dahagaku, memilih keluar rumah menuju kantor.

Masih terlalu pagi, tapi hanya kantor satu – satunya tempat yang bisa aku kunjungi. Setelah meletakkan tas, aku membuka computer kantor, mengambil file yang akan aku arsipkan seperti pekerjaanku sebelumnya. Seakan teringat kalau tenggorokan belum diberikan sentuah air, aku berjalan menuju pantry untuk menyeduh secangkir teh.

***

Jam di dinding kantor sudah menunjukkan angka empat, semua karyawan sudah siap – siap untuk pulang. Dengan malas aku mengemas semua barangku serta merapikan mejaku. Mengambil tas, mengikuti semua yang pulang ke rumah dengan bahagia, sementara aku entahlah mungkin ini sore yang aku tidak pernah aku harapkan.

Motor bututku melaju membelah jalan raya, rasanya aku sudah menjalankan motorku dengan kecepatan terendah tapi sepertinya terlalu cepat aku sampai di rumah Pak Cik. Dengan malas aku mengucapkan salam, melangkah masuk menuju ke kamarku.

“Sinta, dah balek? Cepak ke dapur.” Teriakan Mak Cik membuat raga dan jiwaku terasa lelah selelahnya.

***

Ba’da Isya, Pak Cik baru pulang dari masjid menunaikan sholat berjamaahnya. Aku mengurung diri di kamar setelah sehorean menyiapankan makan malam serta beberapa kue mue untuk tamu yang katanya akan datang.

Detik jam dinding terus berjalan, aku melihat jam di nakasku. Sudah pukul Sembilan malam, mana tamu yang kata Mak Cik nak datang.”

Aku memandang perutku yang sudah menjerit minta di isi. Tapi karena pesan Mak Cik untuk menunggu tamu datang baru makan malam, dengan terpaksa aku menahan lapar yang menyiksa batinku.

Prang, aku terkejut mendengar suara benda jatuh di luar kamarku. Tidurku yang tidak nyenyak karena lapar terganggu, mengucek mataku berusaha mengumpulkan nyawaku yang belum terkumpul semua. Aku melangkahkan kaki menuju pintu kamar, ingin mencari apa yang terjadi diluar sana.

“Ini pasti semua gara – gara Abang.” Suara Mak Cik membahana

“Apa yang Abang katakana sama Pak Daud sehingga tak jadi bertandang ke rumah kita.” Berapi suara Mak Cik mencari alasan ketidak hadiran Pak Duad ke rumah malam ini.

“Sudahlah, kalau orangnya tak jadi datang biarkan saja.” Suara Pak Cik seperti tidak mempedulikan kemarahan Mak Cik.

“Penat masak Bang, belum lagi habis duit untuk menyiapkan semua lauk dan kue untuk mala mini.” Marah Mak Cik.

“Tak ada yang menyuruh awak memasak berlebihan.” Masih dengan intonasi cuek Pak Cik menjawab perkataan Mak Cik.

“Tangkapan besar Bang, tak mungkin kita menyajikan makan sederhana.” Masih dengan emosi Mak Cik berkata.

“Saya lapar, awak tak lapar. Tak mungkin Pak Daud datang bertandang dah malam begini. Kalau Awak tak nak makan Saya makan sorang.” Ucap Pak Cik berlalu menuju meja makan.

“Sinta, mari kita makan.” Ucap Pak Cik ketika melihat aku terpaku di depan pintu kamar, sebelum Pak Cik menuju dapur ke meja makan.

Aku hanya menganggukkan kepala dan melangkah menuju arah kemana Pak Cik melangkah.(bersambung)

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed