oleh

Resah (1)

-Terbaru-Telah Dibaca : 24 Orang

Tidak ada yang terjadi, sudah beberapa hari ini dadaku bergemuruh. Instingku berkata ada yang tidak beres tapi aku tidak tahu apa itu. seperti biasa aku melakukan rutinitasku dengan biasa saja walaupun ada rasa yang sungguh membuatku berkata harus berhati – hati dalam melakukan sesuatu. Aku sekali lagi memandang sekelilingku memastikan semuanya baik – baik saja, mengecek satu persatu bawaanku memastikan tidak ada yang akan membuat celaka nanti tentunya.

Motor maticku sudah berjalan pelan di jalan menuju sekolah, perasaanku bertambah tidak nyaman tapi aku tekan sekuat hati berharap naluri perempuanku tidak menjadi kenyataan. Jalanan semakin ramai maklum hari senin menjadi waktu orang untuk berebut ke tempat kerja dan melakukan rutenitas sebagai pekerja tentunya, termasuk diriku yang sekarang juga bergabung bersama mereka menuju tempat kerja untuk mengais sesuap nasi dan sebongkah emas untuk jaminan masa depan, aku berusaha membuat diriku nyaman walau resah tetap melanda.

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di sekolah tempatku bekerja. Sudah lebih dari enam tahun aku mengabdi hanya karena nasib aku belum juga diangkat menjadi ASN karena sudah lebih lima tahun jurusanku tidak dibuka. Untungnya masih adan insentif dari pemerintah kabupaten yang membayar gajiku membuatku harus bernapas lega, sebentar lagi adikku yang bungsu akan tamat sekolah pasti akan membutuhkan biaya besar. Tapi aku tidak pernah takut karena rezeki datang dari-Nya sudah ada satu adikku aku kuliahkan setelah Ayah meninggal aku menjadi tulang punggun keluarga.

***

Lonceng tanda berakhirnya pelajaran hari ini, tidak membuat aku harus pulang secepatnya aku sudah berjanji kepada peserta didikku untuk berbenah ruang kelas karena aku wali kelas. Setelah meletakkan semua perlengkapan mengajarku aku kembali ke kelasa binaanku, mereka semua sudah menunggu dengan semua peralatan perang mereka, ada yang memegang sapu, kemoceng, pel dan banyak lagi.

“Bu Aisyah kan cantik, kapan mau menikah?” ucapan salah satu siswaku membuat suasana menjadi riuh mendadak.

“Ada yang mau menjodohkan Ibu dengan seseorang.” Selorohku kepada mereka semua

“Boleh bicara tapi sambil kerja, ayo kerja , ayo kerja.” Kami bekerja sambil bercanda serta bicara tidak ada ujung pangkalnya. Maklum mengajar anak SMA tentu harus menyelami jiwa mereka semua, jangan sampai mereka kurang ajar sama kita karena mereka merasa dekat dengan kita.

“Alhamdulillah sudah beres semuanya. Kita pulang, tapi langsung pulang ya, jangan ada yang keluyuran lagi.” pesanku sebelum kami bubar dari  gotong royong kelas. Langkah kaki terhenti ketika aku mendengar namaku dipanggil.

“Bu Aisyah.” Sinta salah satu siswaku, sudah beberapa pekan ini aku melihat wajah muram di mukanya yang cantik.

“Ada apa Sin.” Jawabku lembut.

“Sinta ingin bicara dengan Ibu.” Suaranya hampir tidak berdengar

“Ayo kita bicara di majelis guru saja.” ajakku kepada Sinta

Setelah kami duduk di sofa majelis guru, aku memperhatikan sinta yang masih belum membuka mulutnya.

“Katanya mau bicara sama Ibu.” Pancingku

Sinta melihat sekeliling, aku juga mengikuti pandangan sinta

“Tidak ada orang semua pada sudah pulang, ada apa sinta.” Ucapku

“Sinta mau minta tolong sama Ibu.” Ada pengharapan dari ucapannya

“Mau minta tolong apa? aku menatap manik matanya yang lugu

“Sinta mau Ibu menikah dengan Papa Sinta.” Deg jantungku seakan berhenti. Ada apa dengan anak ini, batinku.

“Bu mau ya nikah dengan Papa Sinta.” Mohonnya lagi.

“sebenarnya ada apa sinta, cerita dulu sama ibu permasalahannya baru ibu bisa bantu sinta.” Aku meliha ada keputusaan di wajah sinta. Dengan helaan napas berat akhirnya sinta bercerita.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed