oleh

Salam Mimpi (part awal)

-Terbaru-Telah Dibaca : 42 Orang

Hamparan hijau membentang, merpati saling berkejar. Aku menikmati pemandangan indah di depanku dengan senyum tersunging manis di bibir. Semua menyejukkan netraku, binar bahagia tidak hanya di mata tapi seluruh jiwa dan ragaku. Ada suara mengusik ketenanganku, malas aku memalingkan wajah ke arah suara itu, aku tetap fokus dengan pemandangan di depanku.

Guncangan seperti gempa tiba – tiba terasa, aku melihat kanan dan kiriku tapi hanya tubuhku saja yang bergerak pemandangan di depanku terlihat biasa saja.  semakin kuat guncangan di badanku.

“Bangun bunda, bangun.” Suara kecil membuyarkan semua mimpi indahku.

Mengerjapkan netra yang masih terasa lengket, mencium bau sabun dan shampoo yang berlebihan akhirnya aku sempurna membuka netraku, si jantung hati pengobat segala galau, dengan senyum manisnya menjadi pamandangan indah pagiku hari ini.

“Indra sudah mandi, hebat anak bunda.” Ucapku sambil merengkuhnya dalam peluk, ciumanku sudah mendarat di pipi tembamnya.

“Lapar bunda, jam berapa kita sekolah Bunda.” Ucapnya membuatku tersenyum

“Hari ahad kita tidak kesekolah sayang.” Ucapku, sekali lagi aku mendaratkan ciuman di pipinya yang gembil.

Aku, Aini Putri single parent dari Indra Samudra, walaupun punya suami seperti single parent saja. Bagaimana tidak single parent sejak suamiku berhasil mengijab Kabul maduku hanya setahun sekali dia datang, meminta maaf pada hari suci lebaran nan fitri, selebihnya nihil hanya chat wa menanyakan kabar putra semata wayang yang mungkin kini juga lupa akan wajahnya.

***

Setelah penat berlari pagi yang menjadi rutinitas kami di hari ahad, aku memandang Indra kecil yang sedang asyik memakan kebab yang sempat kami beli sewaktu berlari di costal area, yang menjadi salah satu pusat wisata di kabupatenku.

“Bunda mau.” Ucapnya sambil mengunyak terus kebab di mulutnya

“Buat Indra saja, bunda minum air saja.” balasku

Setelah keringat mengering, dan lelah berlari tidak terasa lagi aku mengandeng Indra untuk pulang. Belum juga lama kami meninggalkan coastal area, pemandangan di depanku sungguh membuatku menggelengkan kepala bagaimana tidak, dia Bang Andra mengandengan wanita yang bukan maduku.

“Bunda lihat siapa.” Sahut Indra melihat aku fokus pada satu titik sehingga memelankan mobil agya yang lagi aku kemudi.

“Bunda tidak lihat siapa – siapa hanya capek jadi jalannya pelan, takut nabrak.” Imbuhku, yang spontan membuat Indra memijit pahaku

“Kita tidak usah ke pasar jika Bunda capek.” Ucapanya menerbitkan senyum di bibirku.

“Indra jangan sampai seperti Ayahnya yang sudah menyebar jarum cinta,” batinku lirih.

***

“Ain apa tidak sebaiknya kalian cerai saja, bangun bahagiamu.” Percakapan dengan Ambar sahabatku di sekolah tergiang – giang di benakku.

Cerai halal, tapi menyakitkan bagi anakku Indra. Sudah tidak ada cinta buat bang Andra tapi aku juga belum bisa membuka hati untuk pria, takut di sakiti membuat aku menutup diri. Hanya Ambar yang menjadi tempat curhatan hati jika aku merasa galau dan gundah gulana.

Tidak ada satu orangpun selain Ambar yang mengetahui kemelut rumah tanggaku, untung saja aku ASN dengan sertifat profesi sehingga Alhamdulillah aku tidak kekurangan jika Bang Andar tidak memberi nafkah kepada kami. Bersuami tapi janda, selalu menjadi motivasiku untuk tetap bekerja apalagi Indra anak semata wayang yang menjadi penglipur lara.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed