oleh

Celoteh Nyakbaye, Cerpen”Dia Kembali, Untuk Pergi (1)”

-Cerpen, Fiksiana, KMAB-Telah Dibaca : 89 Orang

Panas dikepalaku belum juga reda, rasa sakit yang mendera membuatku sampai mengenyitkan mata tanda ada yang tidak beres dengan kepalaku saat ini. Terus mengeluarkan suara auman seperti singa kelaparan jika sakit ini sudah mendera.

“Wan, kamu baik – baik saja.” Selalu dia yang memberikan perhatian lebih kepadaku

Hana Pertiwi, gadis keturunan jame alias jawa melayu. Abahnya orang asli Karimun, sementera Aminya asli Yogyakarta, hasil merantau berguru di universitas membuat keduanya jatuh cinta dan buah cinta mereka sekaran ini malah mencintaiku yang belum mampu sampai saat ini memberikan sekeping hati yang aku punya kepadanya.

“Wan, lebih baik istrahat. Izin sana sama piket biar kamu bisa istirat.” Ucapnya lembut

“Tanggung Han, tinggal satu pertemuan lagi, habis itu aku baru izin pulang.” Ucapku masih dengan kedegilan yang selalu aku nampakkan.

Hujan kemaren membuat badanku tidak baik – baik saja, apalagi sejak dua hari yang lalu Emak selalu berteriak meminta menantu, seakan aku bisa membeli menantu idamannya di pasar malam saja.

“Diminum Wan, biar enakkan.” Hana membawakan aku secangkir the

“Aku lebih suka kopi pahit Han.” Ucapku bukan berterima kasih malah membuat diri Hana bertambah repot dengan permintaanku, tapi lihatlah perempuan ini tak membantah malah membalikkan badan, dan aku pasti sebentar lagi kopi pahit akan terhidang di depanku dengan asap mengepul serta aroma khas kopi yang memabukkan.

Seperampat jam sudah berlalu, harapanku sepertinya tidak terkabul. Apakah jam mengajar Hana sudah tiba, sehingga kopi pahit yang aku minta tidak dibawanya.

Ya, kami sama – sama mengabdi pada sekolah menengah bersama. Sudah dari kecil kami tetangga hanya masa kuliah yang tidak membuat kami tetangga. Aku mengambil jurusan kimia sementara Hana mengambil jurusan ekonomi. Tapi takdir selalu mempertemukan kami, lihatlah kami sama – sama ditempatkan pada sekolah yang sama setelah pengumuman penerimaan CPNS dua tahun yang lalu.

Akhirnya bunyi bel menyadarkan aku dari lamunan, dengan langkah yang aku buat tegar aku menuju kelas terakhir untuk hari ini.

***

Sepekan sudah berlalu, sepi tanpa perhatian Hana. Baru terasa tidak ada yang menyapaku dengan ucapan lembut, aku seakan kehilangan sosok Hana, kemana Hana menghilang. Kabar dari teman – teman guru tiga hari lalu mengabarkan Hana sakit tidak mungkin penyakitnya serius tapi jika mengingat sepekan ini tidak hadir mengajar, deg ada apa dengan Hana.

Aku mulai mendekati salah satu guru yang dekat dengan Hana, sekedar mencari informasi.

“Bu Sri, Hana sakit apa sampai lama tidak hadir di sekolah.” Tanyaku selalu terlebih dahulu berbasa – basi.

“Bu Hana habis operasi Pak Ikhwan, istirahat selama sebulan. Jam ngajarnya saja sudah digantikan oleh Bu Ina.” Penjelasan Bu Sri membuat dahiku berkerut, sakit apa Hana bukankah selama ini dia terlihat sehat – sehat saja.

“Operasi apa Bu Sri?” penasara aku dengan penyakit yang diderita Hana

“Saya hanya tahu Bu Hana dioperasi saja Pak. Oh ya, sewaktu kami menjenguk Bu Hana Pak Ikhwan lagi sakit juga ya.” Ucapan Bu Sri hanya aku balas dengan menganggukan kepala saja.

Setelah mendengarkan penjelasan Bu Sri aku berniat untuk menjenguk Hana di rumah, untung saja rumah kami hanya berjarak beberapa rumah saja, jika tidak sakit pasti aku ikut menjenguknya. Akhirnya aku punya alasan untuk bertandang ke rumah Hana, batinku.

***

Sore hari setelah menyelesaikan sholat asar aku bergegas merapikan penampilanku, tujuanku ingin menjenguk Hana sore ini. Setelah sepulang sekolah tadi aku menyempatkan untuk membeli sedikit buah – buah sebagai buah tangan melihat Hana.

Aku melihat sekilas kearah mobil, hanya ke rumah Hana aku tidak perlu membawa mobil. Cukup berjalan kaki, hitung – hitung untuk olah raga. Hanya butuh sekitar tujuh menit, aku sekarang berdiri di depan pintu rumah Hana, dengan lincah tanganku mengetuk pintu sambil mulutku mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama, langkah seseorang mendekati pintu dari dalam terdengar seiring menjawab salam yang aku ucapkan.

“Ikhwan, masuk.” Suara Pak Ismail Abah Hana yang membuka pintu untuku.

“Apa kabar Pakcik Is?” ucapku memulai basa – basi kami

“Baik, apa hal datang berkunjung.” Ucap Pak Is kami sekampung memanggilnya

“Melihat kondisi Hana Pakcik, maaf baru sempat menjenguk. Kemarem saya juga tidak sehat Pakcik.” Jelasku kepada Pak Is

“Hana masih di Batam, masih dalam masa pemulihan setelah operasi. Setelah dirujuk RSUD, Hana dan Uminya berangkat ke Batam. Karena pekerjaan Pakcik tinggal dan menjaga Hani dan Husin karena mereka juga harus sekolah. Mudah – mudahan Hana cepat sembuh” Jelas  Pakcik Is dengan kesedihan yang mendalam.

“Maaf Pakcik, Hana sakit apa? Selama ini Hana terlihat baik – baik saja.” Berhati – hati aku bertanya takut menambah sedih Pakcik Is.

“Ada benjolan kecil di payudaranya, untuk cepat didekteksi. Kata dokter sebaiknya dioperasi saja, sebelum membesar.” Terang Pakcik Is tentang penyakit Hana

“Astafirullah” Deg jantungku langsung berpacu keras sambil mengucap

Setelah lebih setengah jam kami berbasa – basi, aku mohon pamit kepada Pakcik Is.

***

(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan