oleh

Titik Balik: Kecimol (Bagian 1)

-Cerpen-Telah Dibaca : 76 Orang

1 | Perkelahian Saat Nyongkolan

 

“Stop, stop! Sudah, sudah! Hentikan!”

Teriakan mencari celah agar dapat terdengar dalam keramaian. Diiringi dentum drum dan petikan gitar, teriakan itu berusaha menyusup indra pendengaran. Sayang kombinasi alat musik yang melahirkan entakan-entakan seolah meniadakan. Lenyap tak berbekas ditelan keriuhan.

“Stop, stop! Sudah, sudah! Hentikan!”

Teriakan itu tak kenal menyerah. Justru semakin dekat dibungkus amarah. Seorang pria dengan peci putih di kepala berusaha menembus rapatnya barisan tanpa kenal lelah. Barisan panjang dalam ketidakteraturan seperti ular sawah. Meliuk-liuk mengikuti irama yang terdengar semakin pecah. Mengentak-entak diiringi drum dan menggeleng-geleng bersama petikan gitar berwarna merah.

Lelaki berjubah putih itu akhirnya berhasil merangsek ke dalam barisan laki-laki berusia belasan. Seketika liukan berubah menjadi patung batu yang diam tanpa gerakan. Ketika membatu justru mereka tersadar oleh keadaan. Di barisan paling belakang, dua orang bocah laki-laki sedang baku hantam dalam perkelahian. Bocah lelaki bertubuh tinggi besar terlihat melayangkan tinju ke muka bocah berjidat lebar serupa lapangan. Dengan gerakan menyamping, kepalan tangan itu hanya menyentuh angin dan mengalami kegagalan. Bocah laki-laki berusia dua belas tahun itu berusaha kembali menerjang ke depan. Kali ini giliran kaki kanannya yang berusaha mencari korban. Sia-sia tanpa mengenai sasaran. Bocah berjidat lebar itu berubah menjadi seekor kancil yang kesurupan. Bergerak dengan lincah meninggalkan rasa penasaran. Namun, perkelahian sesungguhnya akhirnya tak terelakkan. Di depan puluhan pasang mata, keduanya berbagi pukulan dan tendangan. Hingga akhirnya tubuh kecil bocah berjidat lebar itu terjengkang dan terkapar di pinggir jalan. Sementara bocah berbadan besar dan tegap itu mengeluarkan jurus seribu bayangan. Melesat secepat kilat lalu hilang di keremangan senja yang kian temaram menuju kegelapan. Pun pria berjubah putih yang bergegas menyusulnya dengan cepat sebuah gerakan.

Sementara rombongan pengantin itu kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum magrib tiba, mereka harus sampai di lokasi acara pernikahan. Iring-iringan yang mengular kembali bergerak perlahan. Di barisan terdepan seorang perempuan berusia belasan dirias dengan mencolok, tetapi tetap terlihat menawan. Hiasan berwarna emas menghiasi penutup kepala berwarna kuning muda tampak memikat pandangan. Dipadu dengan kebaya panjang warna senada menambah pesona keindahan. Langkahnya begitu bahagia di bawah payung panjang bertangkai kayu yang dibawa pengiring perempuan. Kain songket berwarna cokelat tua berpadu indah dengan sandal selop berwarna keemasan.

Langkah kaki mempelai perempuan terlihat anggun saat menyusuri jalanan beraspal di kampung Gegutu Indah itu. Diiringi perempuan-perempuan berbedak dan gincu tebal, langkah kakinya terlihat teratur meskipun tidak pas dengan pukulan drum yang mengiringi lagu. Dia tidak memedulikan semua dan tetap melangkah tanpa ragu. Dalam pikirannya, dia sebenarnya ingin segera terbebas dari ritual yang menurutnya hanya menghabiskan waktu.

Sementara di barisan belakang, seorang pria berusia dua puluhan terlihat menebar senyum ke sekitar. Dengan ikat kepala berwarna merah menyala, dia terlihat sangat gagah seperti artis layar lebar. Langkah kakinya mantap menjejak jalanan diiringi pemuda yang membawa payung tangkai panjang dengan rumbai yang berkibar. Sepasang itu adalah dua orang yang sedang berbahagia diiringi kesenian kecimol yang namanya sangat tenar.

Sayup terdengar suara penyanyi melagukan kidung pujian kepada Tuhan. Irama koplo terdengar mengikuti setiap ketukan. Entakan demi entakan berpadu dengan petikan dan gesekan. Terus berpadu menciptakan harmoni keindahan. Sore yang berbahagia bagi sepasang yang telah mengikrarkan janji setia menjalani kehidupan.

Baku hantam seolah bukan lagi hal yang harus dikhawatirkan. Kegembiraan mampu menghapus buruknya kejadian-kejadian. Beberapa kali bentrok antaranggota rombongan adalah hal biasa yang akhirnya bisa dimaafkan. Bahkan sudah ada yang diamankan oleh Bhabinsa yang berjaga pun tidak menyurutkan amarah yang tersulut oleh hal-hal tidak penting berupa senggolan. Rombongan terus berjingkrak menguarkan aroma yang menusuk indra penciuman. Di sela-selanya, beberapa gadis dan pemuda berbagi lirikan dan sesekali senyuman. Sementara di pinggir jalan, masyarakat sekitar menjadi saksi sebuah mahakarya seni, begitu mereka memberikan anggapan. Beberapa di antara mereka ikut menggerakkan bibir mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan. Beberapa lagi terlihat mengangkat-angkat tangan. Tidak terkecuali ibu-ibu muda yang menggendong anak balitanya yang kegirangan. Mereka seolah menemukan kembali masa mudanya yang hilang terenggut ketakutan bernama ‘perawan tua’ sebagai sebutan.

Iring-iringan nyongkolan itu menghilang di tikungan. Salah satu tradisi masyarakat Lombok mengiring sepasang pengantin keliling kampung sebagai bentuk pengumuman itu terlihat masih diiringi suara drum berdentuman. Pun petikan gitar yang memenuhi pergerakan petang menuju kegelapan. Suara biduan jelita bernama Fatimah–biasa dipanggil Imah Inges terdengar melantunkan lagu dangdut koplo menggema meraung-raung seolah langit hendak dipecahkan. Kegembiraan masih jelas tertinggal di wajah-wajah pengiring dan juga pria-pria yang tak kenal lelah  mengibing dalam kerumunan. Secara tradisi yang sah proses nyongkolan diiringi oleh kesenian tradisional yang disebut gendang beleq, yaitu berupa kelompok pembawa alat musik gendang berukuran besar sebagai hiburan. Namun, seiring perkembangan zaman, muncullah kelompok kecimol yang mengusung genre musik dangdut sebagai pengiring nyongkolan. Kelompok itu seringkali mengatasnamakan kesenian tradisional untuk menjaga keberlangsungan. Seperti yang terlihat saat itu di tengah macetnya jalanan.

Sementara itu tidak jauh dari iring-iringan yang bergerak menjauh, dua orang beda usia sedang bertukar kata di teras masjid dekat tikungan. Mereka berdua terlibat obrolan tentang apa yang baru saja mereka saksikan.

“Bagaimana ini, Kak Tuan?”

Seorang pemuda dengan sarung kotak-kotak berwarna hijau terlihat membetulkan kancing bajunya sambil menunggu jawaban orang tua yang duduk di hadapannya. Orang tua yang biasa dipanggil Kak Tuan Saleh itu menunduk lalu menarik napas dalam-dalam ke rongga dadanya. Ada semacam beban yang hendak dikeluarkannya.

“Begini, Rajab. Saya dan para tetua di kampung ini sebenarnya sama seperti kalian. Kami sudah gerah,” jawab Kak Tuan Saleh sambil melempar pandangan ke arah tumpukan material bangunan di halaman masjid.

Rajab tidak langsung menyahut perkataan Kak Tuan Saleh yang menatapnya. Dia masih membutuhkan kelanjutan cerita dari pria yang sebagian besar rambut berwarna keperakan menghias kepalanya. Benar saja. Sesaat setelahnya pria yang telah bertahun-tahun menjadi ulama itu kembali angkat bicara.

“Rajab … Saat ini kita sedang mati langkah. Coba perhatikan tembok masjid kampung kita ini,” kata Kak Tuan Saleh mengarahkan pandangan Rajab ke tembok dalam masjid.

Otak Rajab secara otomatis menangkap rangsang dari mata dan mengolahnya sebagai suatu bentuk yang belum sempurna. Beberapa bagiannya tertangkap oleh retina matanya sebagai tumpukan batu-bata. Sebagian lagi berupa lapisan semen kasar saja. Bahkan di titik terjauh matanya mampu melihat jelas, dia menangkap pilar masjid sebagai sesuatu yang hanya berupa beton polos tanpa semen halus sebagai pelapisnya. Hati Rajab mendadak berdesir dalam duka. Dia tahu kenapa orang-orang tua di kampungnya belum bisa mengambil keputusan terkait kenyamanan dan keamanan kampung tercinta.

“Saya memahami itu, Kak Tuan. Tapi apa kita harus menunggu sampai masjid kampung kita ini benar-benar jadi baru bertindak?” Rajab mengembalikan pandangannya ke arah Kak Tuan Saleh.

Kak Tuan Saleh pun membalas tatapan itu dengan senyuman, “Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, Rajab.”

“Tapi ….”

Suara Rajab terputus oleh dentang penunjuk waktu salat. Dia bergegas mengambil air wudu kemudian melangkah menuju mimbar melaksanakan tugasnya, salah satu tugas mulia sebagai penjaga masjid yang taat. Tugas yang diambilnya setelah cinta pertamanya tinggal cerita sesaat. Cinta pertama pada seseorang yang membuatnya memutuskan untuk tidak berikrar setia pada lainnya hingga kelak sekarat.

Senja pun menghilang menyisakan aroma minuman keras tradisional yang menguar. Terbang terbawa angin menuju semesta dari mulut-mulut pria yang tidak henti-hentinya menggoyangkan kepala dan badan tanpa peduli aroma yang keluar.

***

Tentang Penulis: Sudomo

Gambar Gravatar
Seorang pencinta formula fisika, gejala alam semesta, dan rangkaian kata yang cinta mati dengan serpihan surga di bumi -- pulau Lombok. Penulis 'Di Penghujung Pelukan' (Mediakita, 2017) dan 'Pahlawan Antikorupsi: Sudah Adil, Kok! (Funtastic M&C Gramedia, 2018) ini dapat dikenali lebih lanjut lewat kata di www.eigendomo.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed