oleh

Seorang Ayah bersimpuh di kaki Anaknya

-Terbaru-Telah Dibaca : 85 Orang

Seorang Ayah bersimpuh di kaki Anaknya.
19 November 2022

Cing Ato

(Sumber ceramah dari seorang khatib salat Jum’at)

Seorang anak berumur 10 tahun namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta.

Tentu bisa menebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.

Si ayah berpikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya

Suatu hari istrinya kasi tahu kalau hari Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara”Father’s Day” di sekolah Umar.

“Waduh saya sibuk mah, kamu saja deh yang datang,” begitu ucap si ayah kepada istrinya.

Bagi dia acara beginian sangat tidak penting, dibanding urusan bisnis besarnya.

Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah tidak pernah mau datang ke acara anaknya.

Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya.

Nah, karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan. Fathers day adalah acara yang dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.

Karena ayah si Umar ogah-ogahan, maka dia memilih duduk dipaling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.

Satu-persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menari, menyanyi, membaca puisi, pantomim, Ada pula yang pamerkan lukisannya, dan lain-lain.

Semua mendapatkan applause yang gegap-gempita dari ayah-ayah mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya.

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief?” Tanya si Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu.

“Oh, boleh…” Begitu jawab gurunya.
Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.
“Pak Arief, bolehkah bapak membuka kitab suci Al-Qur’an surat 79 surat An-Naba,” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

“Tentu saja boleh nak…” Jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba tanpa membaca mushafnya (hafalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” Imam besar Masjidil Haram).

Semua yang hadir dalam acara fathers day diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang duduk di belakang.

“Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s.d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat ke-9,” begitu kata pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar.

Lalu Umar pun membaca ayat ke-9.
“Stop, coba sekarang baca ayat 21, lalu ayat ke-33.” Setelah usai Umar membacanya. Pak Arief meminta Umar ayat yang terakhir.”coba Sekarang baca ayat yang ke-40.”

Si Umar pun membaca ayat 40 tersebut sampai selesai.”Subhanallah, kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak.” Begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para yang hadir ikut haru dan tak kuasa menahan air matanya, lalu pak Arief kepada Umar.
“Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacanya di acara ini nak, sementara teman-teman unjuk kebolehan yang lain?” Tanya pak Arief penasaran.

“Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW.

“Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahaya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah(kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.

Kedua orang tuanya bertanya,”Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-quran.”(HR. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan jubah kemuliaan kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akhirat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.”

Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut.

Di tengah suasana hening tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk si Umar. Bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

“Ampun nak, maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al-Qur’an.” Ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

“Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan kemuliaan ayah di akhirat kelak. Ayah maluuu nak,” Ujar sang ayah sambil nangis tersedu-sedu.

Semua jama’ah pun menangis, dan juga mulai meneteskan air matanya, termasuk saya.

Di antara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara Isak tangisnya, luar biasa haru.

Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa, karena menelantarkan anaknya.

Mungkin merasa bersalah, karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya membaca Al-quran.

Atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya.

Wallahu a’lam bish shawab.

……………..

Tulisan ini saya ketik ulang dari Chanel YouTube Farid Hamz.
Semoga bermanfaat.

Komentar

Tinggalkan Balasan