oleh

Aku, Kau dan Dia

-Terbaru-Telah Dibaca : 193 Orang

Kau, Aku dan Dia

Puisi indah yang pernah kau baca saat itu, namun itu hanya menyisakan pilu. Karena kau telah berjodoh dengan dia. Mimpi tinggalah mimpi. Dan kita hanya bisa terima dan sadari bahwa cinta tak selamanya indah bahwa cinta tak harus memiliki. Biarlah semua abadi dalam lubuk hati sebagai kisah yang pernah ada. yang hanya dapat di rasa tidak dapat di raba.

Kau lebih memilih dia karena kabar yang kau terima diriku telah berdua. Padahal kabar itu tidaklah benar. Aku menunggumu dalam waktu panjang namun kau tak jua datang. Akupun terima lamaranya berharap akan tumbuh rasa cinta. Kenyataan pun berkata beda. Kau disana aku disini masih menyimpan  rasa. Tapi apa hendak di kata kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa saling doa untuk kebahagiaan kita dengan pasangan kita.

“Mira, semoga kau bahagia ya, walaupun dulu aku belum tau keadaanmu, namun aku selalu berdoa untukmu,” ucapnya lirih.

“Aamiin, ya insyaAllah aku bahagia, No. Di awal pernikahanku dulu aku memang masih belum bisa mencintai suamiku namun lambat laun dengan kehadiran bayi mungil dalam pangkuanku mulai tumbuh benih  cinta itu.” Jelasku.

“Maafkan aku, Mir. Aku memang salah aku begitu saja percaya kabar itu. sehingga aku mencari yang lain. Namun sekarang setelah aku tahu yang sebenarnya aku menyesal.” Ungkapmu.

“Heiii, jangan begitu.” Seruku

“Ga, Mir. Rasa itu masih ada dan sulit aku hilangkan walau memang kenyataan kita sudah ada yang memiliki. Dan aku menuyesal telah meninggalkanmu.” Katamu.

“Sssssst. Hentikan. Ga ada yang perlu di sesali semua adalah kehendak-Nya kita harus terima, syukuri dan jalani dengan iklas. Tuhan tak akan pernah salah meberikan sesuatu pada hamba-Nya.” Jawabku.

Setelah pertemuan itupun aku tak lagi menghubungimu. Jujur aku akui aku juga masih ada rasa. Namun aku buang semua rasa yang ada, memang sulit namun itu tak boleh terjadi. Hari berlalu bulan pun berganti. Nino tetap saja selalu menghubungiku menanyakan kabarku. Aku jawab seadnya namun ia selalu katakana tak bisa melupakan aku.

Huuuf aku harus katakan apalagi  ke Nino. Sudah jelas-jelas kami telah berkeluarga dan telah memiliki buah hati pula.

“Kumohon Nino, hentikan semua ini. kau harus tau dan mengerti.  Aku  hanyalah masa lalumu, dia adalah saat ini dan masa depanmu.  Dia adalah kebahagiaanmu. Jadi please jangan terlalu sering menghubungiku ya. Kita jadikan pertemua ita sebagai silaturahmi. Demi anak-anak kita demi keluarga kita.” Pintaku.

“Aku   tak bisa Mir, setiap hari aku ingin selalu mengetahui keadaanmu.” Ungkapnya.

“No, walau aku tau sejauh apapun pergi, masa lalu bukanlah sesuatu yang benar-benar bisa  dilupakan begitu saja. Biarlah masa itu kan tetap terkenang dan ada di hati. Kuharap kamu bisa terima semua ini ya!” harapku.

“Ok Mir. Aku akan berusaha.”jawabmu.

“Terimaksih,No. Aku sangat berharap kau bisa ajak istri dan juga anakmu silaturahmi ke rumah ya. Kita jadikan pertemuan kita untuk menyambung silaturahmi.” Sedikit lega dengan niat Nino untuk bisa memenuhi permintaanku.

Dua minggu berselang dan Nino pun melakukan apa yang aku pinta. Dia tak lagi menghubungiku setiap hari. Jika ada hal-hal penting atau kabar keluarga sajalah dia menghubungiku. Jika aku bisa dan punya waktu aku datang ke keluarganya untuk sekedar menjenguk.

Apapun keindahan yang tampak, akan hilang kemuliaannya jika berada di jalan yang salah. Semurni apapun cinta, jika datang pada saat yang tidak tepat, pastilah akan menyiksa dan melukai. Biarlah cinta pertamaku bersamamu hanya sebuah cerita indah untuk kita.

Semoga kau bahagia bersama dia begitu pula aku semoga bahagia dengan suamiku. Berharap kita bisa tetap jalin silaturahmi dengan baik, bisa di pertemukan dalam keadaan baik saling bercerita bersama keluarga kita.

Ya rabb ya Rabbi  limpahkan cinta dan kasihMu untuk kami jangan biarkan kami menahan rasa yang tidak wajar. Jauhkan kami dari hal-hal yang membuat hati kami bimbang. Kuatkan cinta kami untuk pasangan kami masing-masing. Aamiin

Aku bersyukur kami lebih nyaman  seperti ini kami sebatas mengetahui keadaan masing-masing. dan untuk membuktikan bahwa Nino benar-benar telah bahagia dengan keluarganya. Dia aku undang ke rumahku. Alhamdulilah dia datang bersama istri dan anaknya. Kami berbincang dengan banyak hal , bercanda dan menceritakn apa yang kami alami. Serasa kami seperti keluarga.

Terimkasih Tuhan. Atas segalah rahmad dan kasih sayang-Mu. Bimbing kami ke jalan-Mu dan golongkan kami orang-orang yang pandai bersyukur.

 

#KarenaMenulisAkuAda

#Day20KMAAYPTDChallenge

Gunungkidul, 10 Sepetember 2021

Tentang Penulis: Sumarjiyati

Sumarjiyati, seorang guru PAI di daerah Gk dan telah memiliki 2 orang anak. Menyukai dunia tulis menulis setelah mengikuti pelatihan menulis bersama PGRI. Menulis baginya adalah suatu hal yang membahagiakan, dengan menulis kita bisa berbagi inspirasi. Untuk mengabadikan kenangan " tulis yang kita lakukan, lakukan yang kita tulis"

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed