oleh

Sepersepuluh Detik Pertama

-Terbaru-Telah Dibaca : 31 Orang

Sepersepuluh Detik Pertama

Tiada yang istimewa bahkan cenderung tidak ada rasa suka bahkan merasa tiap kehadirannya ada yang aneh. Jauh dari sifat dan sikap yang menunjukkan bahwa kamu akan jadi seorang teman, sahabat bahkan pacar apalagi suami. Lucu memang. Aku yang setiap hari berada dalam ruang lingkup kerja yang sama. Namun ada hal yang tak ku suka darimu. Namun karena pekerjaanlah aku tiap hari harus berada di dekatmu.  Seperti pepatah jawa mengatakan “ sopo sengit dulit”artinya “siapa yang benci akan memiliki”. Mungkin kata-kata itu yang pantas aku dapatkan dari kisah ini.

Bertemu setiap hari di satu lokasi kerja. Pelan tapi pasti frekuensi pertemuan itu membawa dia kepada sebuah kisah. Kisah di mana tidak seperti di awal jumpa. Saat suatu moment membawa aku dan dia menyelesaikan tugas dari atasan. Tugas yang harus di selesaikan. Mau tidak mau aku harus menunjukkan kepatuhan dan disiplin ku pada seorang pimpinan.

Siang itu di ruangan yang sama, hanya aku dan dia. Obrolan ringan mengenai tugas itu mengawali perbincangan selanjutnya dalam tugas tersebut. Hanya sepersepuluh detik pertama tak sengaja tatapan ku bertemu dengan tatapannya. Upz.. rasa apa ini. Tanyaku dalam hati. Ooh tidak mungkin. Ini rasa yang membuat aku seperti terlelan. Ya aku seperti masuk dalam sebuah lorong yang membawa pada getaran-getaran yang menakutkan tapi membuat diri semakin ingin masuk ke dalamnya.

“Bu, boleh saya mampir kerumah,? tanyamu.

“Ohh silahkan, Pak,” jawabku. Sedikit ragu sebenarnya. Lama aku tak ada teman laki-laki yang datang kerumah. Entah bagaimana aku menanggapinya.

Sesampainya di rumah kebetulan Ayahku  ada di rumah. Setelah aku persiapkan masuk, kamu berbincang bersama Ayah. Belum pernah bertemu namun sudah kelihatn akrab. Tak begitu paham apa yang mereka perbincangkan. Yang jelas aku datang untuk membawakan minum Ayah dan juga kamu tertawa. Aku pun hanya ikut tersenyum.

Hari selanjutnya aku merasakan hal yang berbeda. Tiap aku dengar suaramu ,tatapanmu dan semuanya tentang kamu. Hati dan diri merasa ada sesuatu. Benar juga adanya ternyata getaran itu juga ada pada kamu. Ku tau saat sore itu kau dengan sedikit malu-malu membicarakan tentang teman dekat. Awalnya kau menceritakan kisah yang kau alami bersama teman dekatmu. Kau meminta saranku tentang hal yang menimpamu.

Sebisa mungkin aku jawab sesuai dengan versi penilainaku. Kau pun mengiyakan dan setuju dengan saranku. Dari sana kau sepertinya juga merasakankan sesuatu. Itu dapat ku tau dari ungkapan terakhir yang kau sampaikan padaku. Bahwa kamu berniat untuk bisa menjalin ikatan denganku. Secepat inikah kau berniat untuk memilikiku. Ya rabb mohon petunjuk-Mu.

Berjanji dalam hati kecilku setelah hal yang aku alami di masa lalu, bahwa aku berprinsip tidak akan pacaran. Hal itu telah membuatku mampu untuk melangkah tanpa beban apapun. Aku pasrahkan pada sang pemilik jiwa bahwa Allah  Swt telah memilihkanku satu orang untuk dijadikan sebagai teman dalam hidupku. Untuk bisa saling menyayangi mencintai dalam meraih Ridho-Nya.

***

Pikiranku jauh melayang ke sebuah impian dan harapan, akankah bahagia dapat aku raih bersamanya. Mau tidak mau aku harus bisa jawab pertanyaan itu. Sedikit muncul keraguan dalam benakku akan dirimu. Kembali aku pasrahkan pada sang pemilik jiwa, tiap malam tangan menengadah tanpa lelah mohon petunjuk-Nya. Aku tidak mau memutuskan sesuatu hanya karena menuruti hati yang kadang keraguan menyelimuti. Libatkan Allah dalam setiap keputusan dalam hidup. Doa ,doa dan doa. Jawaban atas do’a itu adalah kamu. Kamu datang melamarku dengan keseriusanmu ingin memiliki diriku.

Kamu benar-benar bersungguh-sungguh atas semuanya. Kau tunjukkan dengan kedatanganmu ke orang tuaku.

“Nak, kamu sudah siap kan untuk di pinang oleh Pak Tino?,” tanya Ayahku.

“Ya Ayah, dulu sebelum Pak Tino datang dalam hatiku sudah berjanji tak akan pacaran-pacaran lagi dan siapa yang datang melamarku akan aku terima.” jawabku.

“Kalau begitu Ayah serahkan padamu, Nak. Ayah percaya padamu, walaupun kau belum lama mengenalnya namun Ayah yakin. Keputusanmu adalah hal terbaik. Doa Ayah besertamu,” ucap Ayah.

Kami pun berpelukan, dan sperti kudapatkan kedamaian Bersama Ayah. Dan Waktu menjawab semuanya. Hari dimana ditentukan untuk melangsungkan ijab qobul. Akhirnya aku sah menjadi milikmu. Seperti tak percaya namun itulah kenyataannya.

Mentari pagi bersinar begitu cerah, kicau burung terdengar begitu indah, embun pagi menyejukkan jiwa. Hembusan udara pagi menyentuh  sanubari. Hari ini aku menatap dunia penuh warna bersamamu, ada kamu di sampingku, mendampingku setiap jengkal langkahku. Kau dan aku telah di satukan dalam ikatan kasih suci.

Selamat datang cinta selamat menempuh lembaran baru, bismilah insyaAllah mohon Ridho-Nya untuk bisa berlayar bersamamu menuju pelabuhan cinta.

 

#KarenaMenulisAkuAda

#KMAAYPTDChallenge

Gunungkidul, 28 Sepetember 2021

Tentang Penulis: Sumarjiyati

Sumarjiyati, seorang guru PAI di daerah Gk dan telah memiliki 2 orang anak. Menyukai dunia tulis menulis setelah mengikuti pelatihan menulis bersama PGRI. Menulis baginya adalah suatu hal yang membahagiakan, dengan menulis kita bisa berbagi inspirasi. Untuk mengabadikan kenangan " tulis yang kita lakukan, lakukan yang kita tulis"

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed