Ijinkan Gelar Konser Coldplay, Bukti Miskin Empati

Terbaru0 Dilihat

Konser grup band Coldplay yang bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta pada 15 November 2023 mendatang masih menuai pro dan kontra. Pihak yang menolak kedatangan Coldplay di antaranya  adalah kelompok PA 212 dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dua lembaga ini memandang bahwa; memberi ijin, berarti mendukung band asal Inggris itu untuk kampanyekan LGBT dan atheisme yang keduanya bertentangan dengan nilai agama dan Pancasila. Sementara itu ketua MUI Anwar Abbas menyebut, Coldplay merusak akhlak dan moral anak bangsa. (Liputan6, 23/05/2003).

Adapun pihak yang mendukung konser ini umumnya menganggap bahwa hadirnya hiburan ini akan berdampak positif terhadap ekonomi, terbukanya peluang usaha, dan mendatangkan lapangan kerja baru.

Tiket Mahal

Tiket konser ini dibanderol ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. Itu bukan harga yang murah. Meski demikian, publik tampak antusias   untuk mrngantongi karcis masuk tersebut. Sebagaimana dirilis Detik (12-5-2023), harga tiket  yang termahal adalah jenis Ultimate Experience (CAT 1) sebesar Rp11 juta dikenai pajak 15% hingga menjadi Rp13.200.000. Sedangkan tiket yang termurah adalah Numbered Seating (CAT 8) sebesar Rp800.000, setelah dikenakan pajak menjadi Rp960.000

Masyarakat antusias untuk berebut tiket yang disediakan panitia sebanyak lebih dari 50 ribu. Mereka rela untuk struggle demi bisa mantengin aksi Band ini secara langsung. Sebagian dari mereka bahkan rela merogoh tabungan, mencari pekerjaan sampingan bahkan rela menjual barang berharga,

Demi Having Fun

Kegiatan konser selalu diwarnai dengan sukacita. Pemain dan penonton  lazimnya larut dalam alunan musik, bahkan terbuai hingga larut malam. Demikian pula pada konser Coldplay yang pernah digelar di berbagai negara. Penyuka band ini berjuang demi kesenangan. Bahkan, mereka ada yang menganggap menonton konser Coldplay ini sebagai self reward. Mereka merasa berhak menyenangkan dirinya karena sudah bekerja keras selama ini. Menurut mereka, sah-sah saja mengeluarkan uang banyak demi kesenangan. It’s just for having fun.

Yah, kesenanganlah yang acapkali dikejar-kejar oleh manusia saat ini. Demi memperolehnya, mereka bahk rela melakukan apa saja, mengeluarkan kocek berapa jua, dan menempuh jarak yang jauh sekalipun. Semua rela dilakukan hanya untuk mengejar kesenangan sesaat. Standar halal-haram tak menjadi perhitungan, asal bisa funny- bersenang-senang. Mereka bahkan tak  peduli bahwa dalam konser itu terjadi ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) serta rawan pelecehan seksual yang semua itu merupakan kemaksiyatan.

Lebih miris lagi, pegandrung band ini ada rela mencari pinjaman demi bisa membeli tiket. Sangat mungkin transaksi pinjam meminjam ini mengandung riba yang merupakan dosa besar. Belum lagi isu tidak sedap bahwa band ini mendukung gerakan kaum pelangi L687 serta gerakan atheisme.

Di akhir jaman, kesenangan biasa diagungkan. Hedonisme menjadi kebiasaan. Bersenang-senang menjadi tujuan hidup manusia. Mereka seakan lupa bahwa manusia berasal dari Allah Taala dan akan kembali pada-Nya. Mereka gampang lupa bahwa setiap perbuatannya ada catatan. Mereka lupa bahwa setiap detik dalam hidupnya akan dipertanyakan, kelak pada hari penghitungan. Mereka lupa pada hakekat bahwa manusia hanyalah hamba Allah, hingga mereka dengan enteng mengganti penghambaanya kepada hawa nafsu.

Demi Cuan Maksiyat Pun Jalan

Sangat disayangkan bahwa budaya hura-hura ini justru difasilitasi oleh negara lewat ijin yang diberikan. Sementara ketika warga muslim mau gelar pengajian, kadang dibatalkan atau ijin tak diberikan.
Apa yang mereka cari dengan mengadakan konser ini, tentu saja jawabnya adalah demi Cuan. Klaim  bahwa acara ini akan memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, kebenarnya harus dibuktikan. Pasalnya,  dampak positif  secara ekonomi dari kegiatan ini tak menyentuh rakyat.

Sebaliknya, pihak yang paling diuntungkan adalah pengusaha besar terutama di bisnis perbankan, hotel, penyelenggara konser, juga bidmis transportasi. Sedangkan UMKM sekadar mendapatkan tetesan yang tak seberapa. Adapun kemaksiatan, jelas melekat pada aktivitas seperti ini. Campur baur antar jenis, buka-bukaan aurot, keluarnya wanita hingga larut malam, pemborisan dan hura-hura yang membuat insan terlena.

Dalam sistem kapitalisme, umat Islam, bekerja keras kepada para kapitalis pemilik perusahaan besar. Gaji diperoleh  dan dibelanjakan guna membeli produk para kapitalis tersebut.

Di saat seseorang ingin melepas ketegangan  atau meredakan stres sesaat karena tekanan pekerjaan,  dilakukan dengan cara bersenang-senang menonton konser. Uangnya mengalir lewat tiket yang harhaganya tak murah ke para pemilik kapital pula. Terbayang betapa berkuasanya para kapitalis itu menyedot dana dari masyarakat, termasuk umat Islam.

Walhasil, di dalam sistem kapitalisme, para pemilik modallah yang paling diuntungkan. Wajar bila harta umat menumpuk pada kaum  aghniya  memuluskan mereka mereka menjadi crazy rich. Sementara itu, selepas menikmati konser, para penonton kembali pulang ke rutinitas penuh tekanan dan mereka pun kembali stres.

Miskin Empati dan Kesenjangan Ekonomi

Gelar konser Coldplay dengan tiket yang mahal tersebut mengonfirmasi tentang minimnya empati penyelenggara dan pihak pemberi izin. Realitas kemiskinan di negeri ini masih menyesakkan dada.  Puluhan juta rakyat yang tidak punya makanan untuk dikonsumsi hari ini. Jika mengikuti standar Bank Dunia, sebanyak 110 juta jiwa atau 40% penduduk Indonesia terkategori miskin. (CNBC Indonesia, 11/05/2023).

Oleh karenanya, jika memang peduli pada kaum papa dan serius menyelesaikan problem kemelaratan, seharusnya program yang dilakukan adalah memberi makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pekerjaan pada rakyar yang sangat membutuhkan.

Konser Coldplay ini juga mengonfirmasi tentang jauhnya  kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin. Bagi orang kaya, mudah daja saja melepas uang Rp13 juta hanya  untuk bersenang-senang selama beberapa jam. Sementara bagi si papa, uang sebesar itu bisa untuk menopang kebutuhan pokok makan selama setahun.

Realitas ketimpangan itu memang nyata. Menurut World Inequality Report 2022, dalam 20 tahun terakhir, kesenjangan ekonomi di Indonesia tidak ada perubahan signifikan. Selama periode 2001-2021, sebanyak 50% penduduk Indonesia hanya memiliki kurang dari 5% kekayaan rumah tangga nasional. Sementara itu, 10% penduduk lainnya memiliki sekitar 60% kekayaan rumah tangga nasional. (Katadata, 30/06/2022).

Walhasil, perekonomian nasional dikuasai oleh sekelompok kecil kaum kapital pemilik modal. Harta empat orang miliarder di Indonesia setara dengan gabungan harta 100 juta warga termiskin. (DW, 23=02/2017).Ketika Hidup Untuk Meraih Rida Allah

Hidup dalam sistem Kapitalisme telah  membentuk sosok manusia yang bersifat individualistis, egois dan miskin empati. Padahal sejatinya kaum mukmin itu bersaudara. Sungguh kita tak layak untuk bersukacita di atas penderitaan orang lain. Tatkala ada yang merasakan kemiskinan dan kesulitan hidup, selayaknya mukmin lainnya memberikan pertolongan.

Allah Taala berfirman dalam QS Al-Hujurat: 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Adapun Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi laksana satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam.”

Di saat  muslim musti peduli pada saudaranya  dan juga pada sesama manusia tujuannya  adalah meraih rida Allah Taala. Hidupnya memang bukan sekadar untuk bersenang-senang di dunia. Kesenangan di dunia bersifat sesaat lagi semu, sedangkan kesenangan di surga adalah hakiki dan abadi. Sikap hidup individualistis akan terkikis habis dalam kehidupan dimana diterapkan syariat Islam.

Dalam sistem islam dilarang  aktivitas yang ada keharaman di dalamnya, seperti ikhtilat atau campur baur. misalnya. Negara selayaknya  fokus pada aktifitas  mengurusi urusan rakyatnya sesuai tuntunan islam. Negara fokus pads memenuhi kebutuhan dasar mereka, baik sandang, pangan, papan, maupun pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Kesehahteraan bakal mebyelimuti seluruh warga negara, bahagiapun menjelma saat nasing masing warga meraih keridhoan Tuhan dengan ketaatan kepadaNya.

 

Tinggalkan Balasan