oleh

Psikiater Buang Muka

-Terbaru-Telah Dibaca : 78 Orang

“Papa orang musyrik karena percaya sama santet.”

Itulah ucapan anak saya, laki-laki, 20-an tahun, yang sedang tergeletak di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur yang dirawat karena indikasi penyakit tifus (2007). Saya dikabari ibunya dari perjalanan umroh.

Dikabarkan dia terpaksa dirawat di masuk rumah sakit karena kondisinya sangat buruk.

Mendengar kabar itu saya memilih lebih dahulu ke Banten. “Ada kiriman di perutnya, Pai,” kata Pak Ajie di Cilegon, Banten.

Setelah benda itu diambil saya melihat dia di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik. Itu hari ketiga dia dirawat. Bahkan, sudah minta pulang.

Yang saya lakukan sama sekali tidak saya beritahu dia. Bagi saya yang penting anak itu terlepas dari cengkeraman santet.

Tapi, karena anak itu sudah menjalan ’cuci otak’ oleh ibu dan keluarga ibunya sejak saya tinggalkan, maka pendiriannya pun teguh bahwa mempercayai santet adalah musyrik [KBBI: 1 orang yang menyekutukan (menyerikatkan Allah); 2 orang yang memuja berhala].

Yang musyrik adalah orang yang membayar dukun untuk mengirim santet. Celakanya, anak itu sudah di bawah genggaman keluarga ibunya sehingga dia hanya mau mendengar dari keluarga pihak ibunya.

Semula anak saya yang perempuan yang dijadikan tumbal nomor 9 dari 17 tumbal yang harus ‘dibayar’ oleh seseorang yang memelihara buto ijo (digambarkan sebagai makhluk seperti jin yang berwarna hijau, bertubuh besar, bertaring tajam, mata berapi, emas di mulut, dan ada intan alat kelamin) sebagai alat untuk pesugihan (mencari kekayaan dengan bantuan makhluk halus tapi dengan imbalan tumbal atau wadal yaitu kurban untuk makhluk halus berupa nyawa anak, istri, suami atau kerabat).

Berkat doa dan usaha orang-orang yang mengobati saya selama ini, di Banten, Tasikmalaya (Jabar) dan Banjar (Jabar), Alhamdulillah, putri saya lolos dari urutan tumbal. Saya sendiri semula di urutan nomor 10.  Orang yang memelihara pesugihan itu sudah menyerahkan delapan wadal, mulai dari adik, ipar, anak, menantu sampai sopirnya.

“Insya Allah, putri Bapak dilindungi Allah dan lepas dari cengkraman buto ijo,” kata Bu Haji di Pandeglang, Banten.

Celakanya, urutan anak saya yang sakit tadi, yang semula nomor 11 ditarik ke nomor 9. Karena sudah dua tahun, biasanya tumbal ‘diserahkan’ pada bulan maulid, tumbal tidak ada, maka yang memelihara pesugihan pun kalang-kabut. Maka, nomor urut pun ditarik ke putra saya yang sakit tadi.

Ketika saya tinggalkan putra saya itu kuliah, tapi setelah lima tahun ternyata anak itu justru tidak kuliah lagi. Tidak mau mandi. Rambutnya gimbal. Tiap hari keluar rumah. Tidak jelas tujuannya. “Dia jalan dipanggil agar celaka,” kata Pak Dadang di Tasikmalaya mengingatkan saya agar menjaga anak itu.

Melihat kondisi anak itu saya berusaha untuk membantunya, tapi ibunya justru menolak dan mengatakan tidak ada kaitannya (kondisi anak tsb.) dengan mistik (KBBI: hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa(.

Setelah saya bawa berobat ke Tasikmalaya dan Banten, anak itu pun mulai ‘sadar’. Dia pangkas rambutnya dan sudah mau mandi. Tapi, ibunya tetap menampik perubahan anak itu karena berobat ke Tasikmalaya dan Banten.

Soalnya, anak itu dibawa ke psikiater. Tiap bulan berobat. Sejak berobat anak itu hanya bisa tidur. Sehari-hari kehidupannya adalah: tempat tidur-dapur-nonton televisi-kamar mandi. Itu saja terus berulang-ulang sepanjang hari. Waktu tidurnya hampir 18 jam sehari. Tidak jelas apakah itu pengaruh dari obat.

”Tolong temani dia berobat.” Ini permintaan ibunya kepada saya (2012).

Semula saya menolak karena berobat ke psikiater tidak ada artinya. Saya sudah mengalami hal yang sama selama belasan tahun berobat dari satu dokter ke dokter lain tapi hasilnya nol besar. Bahkan, nyeri di leher saya pernah diperiksa di kedokteran nuklir di sebuah rumah sakit di Jakarta, namun dokter tetap mengatakan tidak ada masalah.

Alhamdulillah, setelah dua jarum ditarik oleh Pak Ajie dari urat leher sampai sekarang tidak pernah lagi nyeri.

Akhirnya, saya temani anak itu ke psikiater di Jakarta Timur. Ketika nama anak itu dipanggil saya minta dia masuk sendirian, tapi dia memaksa agar saya ikut masuk. ”Papa ikut masuk,” katanya.

Setelah basa-basi psikiater itu memeriksa dan menyuntik anak saya. ”Itu untuk mengganti cairan otak,” kata psikiater tadi.

Astaga!

Sejak saya berobat ke Bu Haji (mulai tahun 2001) dia selalu mengingatkan kalau bersin-bersin dan keluar ingus agar segera ke Bu Haji karena itu bukan ingus. Lalu apa? ”Itu cairan otak, Pak,” kata Bu Haji.

Artinya, apa yang disampaikan psikiater tadi sudah saya ketahui sebelas tahun sebelumnya.

Saya mencoba membicarakan hal itu dengan psikiater, tapi sambil mendongakkan kepala dia buang muka. ”Silakan.” Itulah kata-kata yang diucapkan psikiater tadi sambil menunjuk pintu keluar ketika saya mulai menjelaskan perihal penjelasan Bu Haji.

Padahal, kalau saja psikiater itu arif dan bijaksana mau mendengarkan keluhan saya tentu ada kaitannya. Artinya, sebagai psikiater dia menjalankan terapi medis, tapi penyebab cairan otak itu berkurang bisa ditangani Bu Haji. Sayang, niat baik rupanya ditanggapi dengan hati yang tidak mulia.

Soalnya, sampai sekarang anak itu terus bersin dan mengeluarkan ingus. Saya perhatikan kepalanya mulai meruncing dan hampir botak (kata ibunya karena gemar makanan yang pedas, tapi faktanya orang-orang yang suka makanan pedas tidak juga botak). Tapi, saya tidak bisa berbuat banyak karena anak itu menampik kalau saya ajak berobat ke Banten.

Sejak tahun lalu dia kuliah lagi, tapi tidak ada kemajuan. Bahkan, menurut ibunya dosen di fakultas mengatakan anak itu tidak bisa menangkap pelajaran.

Saya pada posisi yang sulit karena tidak ada yang mendukung saya untuk mengobati anak itu. Banyak orang, ibu anak itu, saudara, guru ngajinya dan lain-lain justru menuduh saya yang menyantet. “Ah, saya tidak tahu Bapak atau Ibu yang nyantet,” kata guru ngaji itu. Padahal, yang jelas saya yang jadi korban dengan penemuan benda-benda di rumah, di kantor dan di badan saya.

Itulah yang terjadi terhadap korban santet. Selalu disalahkan, diejek dan dikatakan musyrik. Padahal, dari beberapa yang mengejek ternyata mereka justru pelanggan setia perdukunan. Naudzubillah min dzalik (Kompasiana, 20 Juli 2013). *

Komentar:

El Maravilla  (20 Juli 2013) wah menarik, apakah kisah nyata pak?

Syaiful W. HARAHAP (21 Juli 2013) @El Maravilla, terima kasih. Yg menyedihkan adalah saya tdk punya urusan dng yg memelihara pesugihan, tapi saya dan anak saya dijadikan tumbal. Orang2 yg mengobati saya tidak memakai peralatan seperti dukun …..

Syaiful W. HARAHAP (21 Juli 2013) @El, Terima kasih. Secara hukum saya pada posisi sulit karena tdk bisa dibuktikan secara hukum. Tapi, pada tululisan berikut akan saya beberkan tanda2 yg punya pesugihan secara kasat mata. Yg pesugihan sdh mati beserta kakaknya, celakanya pesugihan itu diturunkan ke anaknya. Orang pintar yg mengobati saya mengatakan nomor 9 putri saya da nomor 10 saya, tapi alhamdulillah Allah melindungi saya dan putri saya. Apakah krn mrk tdk bisa mencelakai saya dan putri saya untuk wadal sehingga buto ijo menjadikan mereka wadal ….

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed