oleh

Seri Santet #11 – Kain Kafan Mayat Bunuh Diri

-Sosbud-Telah Dibaca : 76 Orang

Benda pertama yang ditarik dari dalam tanah di rumah di kawasan RT 012/10, Kel. Pisangan Timur, Jakarta Timur, ada dua benda yang dibungkus dengan kain kafan seperti mayat sebesar betis orang dewasa dengan panjang sekitar 30 cm (pertengahan 2005).

Ketika benda itu berhasil ditarik Pak Markoi (Kab Serang, Banten) dia pun langsung menarik napas sambil geleng-geleng kepala.

“Pak, biasanya saya angkat benda yang begini orangnya sudah mati,” katanya sambil menarik napas dan menatap saya yang berdiri di dekatnya. Maksud Pak Markoi orang yang menjadi sasaran santet itu sudah meninggal baru benda bisa diangkat.

Astaga!

Saya hanya bisa mengelus dada: “Alhamdulillah. Engkau melindungi saya, Ya Allah.”

Bungkusan itu berisi berbagai macam benda: potongan kemeja, CD dan kaos kaki, beling, paku, gabah, telur ayam, dan belasan benda lainnya.

Pak Markoi mencium kain yang membungkus benda itu, “Ini kain kafan mayat yang mati bunuh diri,” katanya.

Mayat korban bunuh diri yang dimakamkan menjadi buruan dukun-dukun santet. Maka, tidaklah mengherankan kalau ada kuburan yang dibongkar, al. kuburan mayat yang mati bunuh diri, untuk mengambil kain kafannya.

“Harga kafannya jutaan rupiah per meter,” kata Pak Markoi. Kalau dihitung-hitung harga sebuah benda yang dikirim ke rumah mencapai jutaan rupiah.

Tapi, karena tujuannya untuk mencapai kekayaan melalui pesugihan maka uang yang dipakai membayar dukun santet akan kembali melalui pesugihan.

“Tidak usah takut, Pak, Bapak tidak bersalah,” kata Mas Katman, tetangga yang sering membesarkan hati saya menghadapi santet. Mas Katman pulalah yang membantu Pak Markoi di kantor saya menggali lubang untuk menarik benda. Sikap Mas Katman ini jauh berbeda dengan kebanyakan orang, keluarga, kerabat, teman dan sebagian tetangga yang hanya mencibir dan mengejek.

Dalam bungkusan terdapat berbagai macam benda. Yang membuktikan bahwa santet itu ditujukan kepada saya adalah: ada nama saya, nama ibu kandung saya, serta rambut saya.

Ini menunjukkan ada dari kalangan dekat keluarga saya yang berkomplot dengan yang membayar dukun santet. Ada pula foto saya dan foto seorang perempuan yang diisukan berselingkuh dengan saya. Wajah perempuan dalam foto itu disayat-sayat.

Santet untuk mencelakai saya agar cacat sehingga orang yang memelihara pesugihan itu bisa ‘mengambil’ saya dan anak-anak saya sebagai tumbal.

Ketika benda diangkat ’orang rumah’ hanya melongok lalu pergi. Padahal, kami ketakutan melihat benda-benda itu.

Di hari-hari berikutnya pun dia sama sekali tidak pernah mau membicarakan santet. Dia selalu mengelak kalau diajak membicarakannya. Memang, ketika kami sedang sibuk menarik benda dari dalam tanah dia justru pergi dari rumah.

Pak H Ajid dan Pak Markoi sudah mengingatkan bahwa setelah benda diangkat akan ada datang makhluk yang menampakkan dirinya seperti orang yang membayar dukun atau orang yang terlibat dalam pengiriman santet itu.

“Saya tidak mau ada kekerasan,” kata Markoi mengingatkan kalau makhluk yang akan muncul itu menunjukkan seseorang yang saya kenal.

Setelah semua beres kami bertiga berbincang-bincang sambil makan martabak telur. Pak Haji dan Pak Markoi tiba-tiba diam.

Mereka saling memandang.

Saya melihat jam di dinding menunjukkan pukul 01.30. Di tengah keheningan, “Silakan ambil, nanti saya minta Bapak beli lagi,” kata Pak Haji seakan menyilakan makhluk tadi mengambil martabak.Yang saya lihat kemudian martabak telur di piring habis, tapi bukan kami yang memakannya.

Pak Haji pergi ke kamar mandi. Setelah kembali ke kamar lagi-lagi mereka saling bertatapan sambil komat-kamit. Mereka bertanya keberadaan ’orang rumah’.

Ketika saya katakan tidur di kamar mereka hanya saling memandang.

Seminggu kemudian saya ke rumah Pak Haji ’A’. Di sana ada Pak Markoi. Ketika itulah Pak Haji dan Pak Markoi menceritakan siapa yang mengambil martabak telur dini hari itu ketika mereka di rumah saya.

Keterlibatan ’orang rumah’ amat masuk akal karena benda-benda, seperti pakaian (kemeja, celana dalam dan kaos kaki), rambut dan, maaf, rambut kemaluan yang ada dalam santet tentulah diberikan oleh orang yang ada di rumah (pada tulisan lain akan saya bahas tentang benda-benda tsb. al. rambut kemaluan).

“Jangan ada kekerasan, Pak,” kata Markoi kembali mengingatkan saya setelah memberitahu wujud perempuan yang datang mengambil martabak waktu itu. Maksud Pak Markoi jangan terjadi kekerasan di rumah terkait dengan penemuan tsb.

Ketika itu saya hanya bisa berdoa agar orang-orang yang membayar dukun untuk menyantet saya menghentikan perbuatan mereka.

Tapi, fakta berbicara lain karena santet terus-menerus mereka kirim, bahkan sampai hari ini. Selain karena tidak bisa ’mengambil’ putri saya dan saya, mereka pun marah karena dua keluarga mereka mati ’menggantikan’ putri saya dan saya sendiri sebagai tumbal pesugihan untuk nomor 10 dan 11.

Sesuai dengan perjanjian mereka harus menyerahkan 17 korban sebagai tumbal agar kekayaan kekal. Maka, itu artinya masih ada enam nyawa yang terancam melalui santet (Kompasiana, 22 Agustus 2013). *

 

Komentar:

Oom Mas (23 Agustus 2013) Audzubillahiminasyaitonirrojim….

Syaiful W. HARAHAP (23 Agustus 2013) @Oom Mas, klu bisa memilih saya lebih senang tdk mengalami hal ini, tapi tdk ada pilihan krn tdk ditanya terlebih dahulu. Serial ini sbg gambaran untuk rekan2 kompasianer tt santet agar memahaminya berdasarkan pengalaman empiris …..

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed