oleh

Seri Santet #18 – Ditipu Guru Agama

-Sosbud-Telah Dibaca : 18 Orang

Karena tabiat anak saya, laki-laki, tidak seperti anak sesusianya sejak kelas lima SD saya terus berusaha mencari penjelasan tentang tabiatnya itu.

Berbagai tingkahnya tidak mencerminkan usianya. Seorang rekan paranormal mengatakan bahwa sudah dimasukkan ilmu ’macan putih’ ke tubuh putra saya. Ya, salah satu tabiatnya memang persis harimau. Tenaganya kuat sekali.

Itu artinya, ada ‘makhluk’ yang menyandera putra saya. Belakangan anak saya menceritakan bahwa namanya diganti oleh keluarga ibunya dan ditabalkan tengah malam di sungai kecil dengan air kembang.

Melalui seorang guru agama, sebut saja ”X”, yang tinggal di wilayah Kab Karawang, Jabar, saya pun akhirnya berkenalan dengan seorang paranormal di Kopo, Cikampek, Jawa Barat (Jabar).

Guru agama ini beberapa kali datang ke rumah dipanggil ’orang rumah’. Katanya bisa mengobati penyakit terkait dengan mistik.

Suatu hari, di tahun 2004, ”X” mengatakan bahwa saudara ’orang rumah’ memelihara ilmu yang tidak baik bagi seorang Muslim.

Tapi, ’orang rumah’ bersikeras dan mengatakan itu tidak benar. ”X” kemudian menawarkan diri untuk mengusir mahkluk yang ada di badan anak-anak saya dan yang ada di rumah.

Menurut “X” dia harus pergi ke petilasan Parahyangan di Ujung Genteng, sebuah tempat di selatan Sukabumi, Jawa Barat. Dia harus membawa sajen, antara lain ayam cemani (ayam yang seluruh tubuhnya hitam).

Saya sendiri pernah ke Ujung Genteng (1987) untuk liputan, ketika itu saya bekerja di Tabloid “Mutiara”, Jakarta.

Bertolak dari pengalaman saya ke sana, maka saya berikan biaya yang pantas. Hitung-hitungan saya ”X” membutuhkan waktu minimal empat sampai lima hari pulang pergi.

Eh, baru dua hari setelah pergi dari rumah dia sudah ada lagi di rumah membawa tanah.

Menurut ”X” tanah itu dari petilasan Parahyangan di Ujung Genteng.

Tapi, saya tetap curiga.

Dia berangkat dari rumah hari Senin sore.

Katanya dia mau ke rumahnya dulu di sebuah kota kabupaten di Jawa Barat.

Maka, paling cepat dia berangkat dari Karawang ke Sukabumi hari Selasa pagi karena waktu itu di malam hari sulit mendapatkan angkutan umum dari Karawang ke Kp Rambutan.

Maka, paling cepat dia kembali ke rumah saya di Jakarta Timur, kalau tidak ada halangan adalah hari Sabtu.

Tapi, Rabu siang dia sudah di rumah dengan membawa tanah. Katanya dari petilasan Parahyangan. Mungkin, ”X” berpikir saya mengada-ada tentang penjelasan saya bahwa saya pernah ke Ujung Genteng.

“Ya, Pak saya langsung ke sini dulu (ke rumah saya-pen.) sebelum ke Karawang,” katanya dengan tegas.

Dia pun bercerita tentang perjalanannya ke petilasan Parahiyangan yang mendapat rintangan.

”Macan mengejar saya mau menerkan ayam cemani yang saya bawa,” kata dia bercerita.

Tuhan Maha Kuasa. ”X” memberikan nama dan nomor telepon orang yang dia sebut sebagai kuncen petilasan asal tanah yang dibawanya.

Kecurigaan saya kian besar karena kode area nomor telepon yang dia berikan bukan kode area wilayah Sukabumi tapi kode area wilayah Karawang.

Beberapa hari kemudian saya hubungi nomor itu.

Ternyata rumah Pak Wawan. Saya buat janji ketemu.

Di ’ruang kerja’ ada sertifikat dari Kejaksaan Negeri yang menandakan dia legal praktek sebagai seorang paranormal.

“Bapak ini bagaimana, mau ngobati anaknya kok biayanya ditawar-tawar,” kata Pak Wawan ketika saya tiba di rumahnya.

Ada apa pula ini?

Rupanya, “X” hanya memberikan Rp 300.000 kepada Pak Wawan untuk membeli ayam cemani.

Menurut cerita Pak Wawan saya hanya memberikan uang Rp 300.000 untuk membeli ayam cemani.

Harga ayam cemani Rp 550.000. Saya memberikan uang melalui ”X” sesuai dengan harga yang disepakati untuk membeli ayam cemani yaitu Rp 550.000.

Biaya perjalanan dan uang makan ”X” saya berikan berdasarkan hitung-hitungan saya. Ongkos dari Jakarta-Sukabumi-Ujung Genteng pp. Bahkan, ongkos dari Sukabumi ke Ujung Genteng saya hitung berupa biaya sewa mobil karena angkutan umum jarang ke sana.

Dari Pak Wawanlah kemudian saya ketahui bahwa tanah yang disebut ”X” dari petilasan Parahyangan di Ujung Genteng, ternyata dia ambil dari kuburan yang dikeramatkan di kampung Pak Wawan di Cinangka, Kopo, Cikampek, Jabar (Kompasiana, 25 Desember 2013). *

Komentar:

Abdul Fatwa (25 Desember 2013) jangan percaya yg gituan pak lebih baik berdoa kepada ALLAH saja… terima kasih

Syaiful W. HARAHAP (26 November 2021( @ Abdul Fatwa, maaf baru baca …. terima kasih …. Pertama, tentu saja berdoa dan berusaha. Kedua, saya niat baik, tapi guru agama itu yg memanfaatkan kebaikan saya …. Smg YMK memberikan ganjaran yg setimpal ….

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed