oleh

Seri Santet #2 – Orang-orang yang Tak Tau Diuntung

-Terbaru-Telah Dibaca : 159 Orang

Bantuan, upaya, usaha, dukungan, dll. yang diberikan kepada seseorang merupakan bagian dari kegiatan sebagai makhluk sosial.

Tidak selamanya bantuan mengharapkan imbalan, tapi paling tidak bantuan dibalas dengan (ucapan) terima kasih.

Tapi, fakta berbicara lain. Pada kasus terkait gaib, seperti santet, ternyata sebaliknya. Bantuan, dll. yang diberikan kepada seseorang bukan berbuah terima kasih, tapi caci-maki, ejekan, sindiran, umpatan, dll.

  1. Cara Gaib

Itulah yang terjadi yang merupakan pengalaman secara empiris.

Bantuan yang diberikan kepada saudara dan teman untuk ‘berobat’ menghadapi serangan gaib ternyata berbuah petaka.

Saudara yang saya bawa berobat pun menyebar kabar buruk di kampung, di sebuah kota di bagian selatan Sumatera Utara, bahwa saya sudah jadi ‘budak belian’ seorang dukun di Banten. Padahal, saya tidak pernah ke dukun.

Ironisnya, saudara itu ‘dikerjai’ oleh keluarganya. Saya pun tidak luput dari ulah keluarga istrinya. Mereka mengirim santet. “Ini kiriman dari keluarga saudara Bapak yang pernah berobat di sini,” kata Pak Ajie di Cilegon, Banten.

Untuk apa?

Rupanya, saudara itu didorong untuk menjual harta warisan bagiannya. Tanah warisan hanya bisa dijual jika ada izin dari saya.

Mengapa harus pakai santet?

Itulah yang tidak masuk di akal saya. Kenyataannya ada yang memilih cara-cara gaib untuk mendapatkan keinginannya.

Saudara itu sendiri ketika datang ke Jakarta kondisinya sangat parah. Kalau berjalan kakinya diseret-seret. Mulutnya merot kalau berbicara. Omongannya tidak jelas seperti orang sengau.

”Ini karena stroke, Pak,” kata dokter di sebuah klinik 24 jam di dekat rumah di bilangan Pisangan Timur, Jakarta Timur.

Saudara itu tidak pernah stroke karena dia tidak mengidap penyakit darah tinggi.

Kondisinya itu karena ada benda-benda di dalam tubuhnya.

Tapi, setelah saya bawa ke Banten jalannya mulai membaik dan suaranya terdengar jelas.

Apakah ada ucapan terima kasih?

Yang ada justru fitnah yang menyebar di kampung: jadi musyrik, punya bini simpanan, dll. Selain itu juga menjelek-jelekkan orang-orang yang mengobati kami dengan mengatakan bahwa mereka sebagai dukun.

Tentu perlu dibedakan antara dukun dan ’orang pintar’. Dukun bekerja di ruang tertutup, seperti di kamar, dengan dupa dan sesajen.

Sedangkan ’orang pintar’ yang mengobati di Banten sama sekali tidak memakai dupa dan sesajen. Ada yang memakai pisang ambon sebagai media mencabut benda-benda dalam badan. Yang lain memakai sirih, belimbing dan minyak (disuling dari kayu tertentu yang hanya ada di Turki).

”Biarkan saya berpendapat sendiri tentang santet.” Ini bentakan dari seorang teman yang juga saya bawa berobat ke Banten.

Saya tidak tahu persis apakah dia sudah menemukan pengobatan yang cespleng sehingga menyepelekan saya yang bolak-balik berobat ke Banten.

2. Terima Kasih

Kalaulah dia menemukan orang yang tepat tentu dia orang beruntung dan saya ketiban pulung dan mendapat buntung.

Teman itu tahu persis kalau ke Banten harus mengeluarkan uang untuk ongkos dan makan. Agar lancar selalu menyewa mobil dari rental sehingga biayanya besar.

”Kalau tidak ada duit, apa mereka mau mengobati?”

Itulah pertanyaan dari teman tadi. Memang, ketika berobat ada uang sebagai imbalan, tapi jumlahnya tidak ditentukan. Hanya uang terima kasih, sebagai perbandingan jika ke mantri dan dokter juga tetap ada bayaran.

Ternyata dugaan teman itu meleset 100% karena sampai sekarang pun saya sering hanya mengucapkan terima kasih dengan salaman selesai berobat. “Uang saya hanya cukup untuk ongkos.” Itu alasan yang sering saya sampaikan jika uang saya pas-pasan.

”Pak, kalau terasa ada yang sakit di badan langsung ke mari. Tidak usah pikirkan yang lain-lain,” kata Bu Haji yang juga mengobati saya di Pandeglang, Banten.

Satu hal yang tidak masuk akal adalah banyak orang yang selalu mengejek: Mengapa mau berobat terus-menerus ke Banten?

Pertama, yang membantu saya di Banten tidak ada mahar dengan patokan harga. Kedua, tidak ada yang perlu dibawa, kecuali ke Bu Haji bawa satu atau dua buah pisang ambon. Ketiga, biaya hanya diperlukan jika ada benda kiriman di rumah atau di kantor yang harus ditarik yaitu membeli minyak, beberapa nama, yang berasal dari Turki.

Tapi, ketika yang mengejek ditanya: Bagaimana caranya agar tidak kena santet? Eh, mereka sama sekali tidak bisa memberikan jalan yang pas. Hanya dengan mengatakan ini itu yang justru tidak realistis.

Misalnya, ada yang mengatakan jangan tidur di ranjang. Busyet, semua orang yang menginap di hotel sudah kena santet, dong! Ada lagi yang bilang baca ayat suci. Nah, bagaimana dengan orang yang tidak Beragama? Ternyata mereka juga tidak otomatis jadi korban santet.

Yang jelas korban santet itu orang yang ditentukan oleh yang membayar dukun untuk mengirimkan santet dengan persyaratan dan pembayaran tertentu.

Biarlah orang-orang mencibir, mengejek dan mencemooh sehingga menempatkan saya pada ranah kehinaan di mata mereka.

”Tuhan yang Maha Kuasa, biarlah saya hina di hadapan orang-orang yang menghina, tapi muliakanlah saya di hadapan-Mu dan hinakanlah mereka di hadapan-Mu.” Inilah yang selalu saya jadikan doa dalam berbagai kesempatan (Kompasiana, 12 Juli 2013). *

Komentar:

gustaf parinussa (20 Juli 2013) Menarik

Leili Qoriatun (20 Desember 2013) kalo seperti Umi Zubaidah yang ngobatin Dewi Persik yg pake media telur itu namanya orang pinter ya Pak?

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed