oleh

Menengok Rumah Masa Depan

-Humaniora-Telah Dibaca : 60 Orang

Hidup di dunia bisa jadi sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Namun bisa melenakan jika tidak mempunyai bekal yang cukup dalam memaknai kehidupan. Banyak hal yang terbuang sia-sia sehingga merugikan diri sendiri.

Manusia lupa akan kehidupan selanjutnya. Padahal setiap manusia diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan saat ini untuk bekal kehidupan selanjutnya. Ya, kehidupan kedua setelah kematian mendatangi setiap insan manusia.

Ini berkaitan dengan tujuan kita diciptakan dan dilahirkan di muka bumi. Tujuannya jelas saat kita mengikrar janji kepada Sang Khalik pada saat di alam ruh.  Setiap insan manusia mengikrarkan janji untuk setia bahwa Allah adalah Tuhan, tiada yang lain untuk disembah.

Namun, sifat manusia yang mudah lalai menjadikannya lupa bahkan ingkar janjinya. Sehingga apa yang diberikan di dunia ini seolah-olah dapat dinikmati sampai seterusnya. Padahal, Sang Pencipta memberikan apa yang kita terima sebagai titipan dan bekal hidup. Bekal hidup saat ini, juga bekal hidup saat kematian mendatangi.

Introspeksi Diri

Jika ada yang belum tahu, ada sebuah riwayat di mana Imam Syafi’i pada usia 40 tahun memutuskan menggunakan tongkat untuk menemaninya dalam setiap jejak langkahnya. Banyak sahabatnya yang mempertanyakan, mengapa beliau memakai tongkat padahal badan masih sehat dan bugar pada usia tersebut. Lalu, apa jawaban Imam Syafi’i? “Agar aku mengingat bahwa aku seorang musafir yang sedang menuju kampung akhirat.”, jawab beliau.

Sungguh luar biasa hikmah yang telah beliau contohkan. Dari hal sederhana, tongkat kayu mampu memberikan makna yang mendalam tentang arti kehidupan. Memaknai kehidupan di dunia seolah sedang melakukan perjalanan panjang. Perjalanan yang membutuhkan bekal dan kesiapan mental untuk kembali ke kampung halaman. Kampung halaman untuk para ruh-ruh yang akan dibangkitkan kembali suatu masa nanti.

Lalu, bekal apakah yang sudah kita persiapkan? Mengingat manusia tempatnya lupa dan khilaf, maka sudah sepantasnya, setiap perbuatan sekecil apa pun itu harus mempunyai nilai kebaikan. Jika kebaikan itu gugur satu karena keburukan, maka munculkan lagi kebaikan-kebaikan yang lain. Karena kita tidak pernah tahu, seberat apa timbangan kebaikan kita saat ini. Seberapa banyak kebaikan kita yang telah terkikis karena riya’.  Seberapa banyak keburukan yang menggerogoti kebaikan-kebaikan yang telah kita kumpulkan.

Kabar Kematian

Kematian merupakan kabar yang menggetarkan bagi setiap manusia. Kematian mampu memberikan nasihat yang terkandung di dalamnya. Bahwa manusia punya batas waktunya masing-masing di dunia ini. Itulah mengapa waktu begitu penting untuk diupayakan sebaik mungkin. Jangan sampai tersia-sia dengan kegiatan yang merugikan. Karena ketika kematian menjemput peran apa pun yang kita lakukan di dunia, akan seketika itu berakhir.

Begitu pula, kematian mengabarkan bahwa hidup ini hanya sementara. Tak ada yang hidup selamanya di dunia. Setiap makhluk pasti akan menemui titik kematian. Titik di mana semua akan kembali kepada sang Pencipta.

Rumah Masa Depan

Sejatinya rumah masa depan saat ini tengah kita bangun saat ini. Semua bahan baku serta finishing-nya sedang kita kerjakan di alam dunia ini. Sebaik apa pun bentuk rumah masa depan kita, bergantung sejauh mana upaya kita dalam memperbaiki hidup kita. Semakin baik perjuangan kebaikan kita, tentu rumah masa depan yang kita bangun selayaknya juga semakin bagus nantinya.

Mumpung Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menghirup napas, mari kita membaguskan rumah masa depan kita. Dengan cara yang terbaik yang bisa kita lakukan di dunia ini. Mari!

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed