oleh

Karena Menulis Saya Masih Beredar

-BUKU, Gaya Hidup, Literasi, Peristiwa, YPTD-Telah Dibaca : 56 Orang

Karena Menulis Saya Masih Beredar

Makna masih beredar itu sebenarnya hanya cocok bagi orang pensiunan. Sudah menjadi hukum alam, bahwa apabila seseorang telah selesai pengabdian kepada negara karena faktor usia maka dia dianggap habis atau tidak beredar lagi.  Namanya hanya tinggal kenangan, kegiatan semakin berkurang.

Hanya teronggok didepan televisi sembari terkantuk kantuk menunggu. menunggu sesuatu yang tidak jelas karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara ancaman penyakit pikun datang beruntun bersebab  aktifitas atau tantangan kerja otak semakin menurun

Biasanya setelah memasuki usia  pensiun menyebabkan seorang anak manusia hilang dari peredaran. Menganggap diri sudah tidak berguna lagi, mentasbih kan bahwa diri sudah cukup berbhakti dan kemudian menghilang dari peredaran. Keadaan bertambah ruwet seandainya para  mantan pejabat yang terkena gejala Post Power Syndrom.

Padahal matahari sejak diciptakan tidak pernah pensiun, begitu pula dengan bulan, kenapa pula dengan penghuni bumi makhluk mulia yang bernama manusia menjadi segan tampil (lagi) di permukaan. Mengapa pula menarik diri dari peredaran, bukankah ilmu pengetahuan dan pengalaman bisa di bagikan kepada generasi kemudian.

19 Agustus 2010. Untung ada kompasiana. Peruntungan luar biasa bagi saya ditakdirkan berkenalan dengan si Ana. Hanya sempat menghilang 18 hari dari peredaran bumi, saya tampil lagi di permukaan. Ada gairah baru dalam kehidupan yang sempat redup ketika 1 Agustus dinyatakan selesai melaksanakan tugas pemerintahan. Menulis.

Pekerjaan yang selama ini sudah dilakukan namun sebatas menulis proposal atau surat dinas. Berbeda dengan menulis di social media. Bersyukur bersua dengan kompasiana (terbaik di dunia), satu-satunya media yang tidak pernah menolak kiriman tulisan dari penulis pemula.

Betapa senangnya hati ini melihat tulisan itu bertengger di content tulisan baru.  Rasanya seperti mendapat piala citra bahwa tulisan saya dianggap plus ditanggap admin kompasiana.   Tidak usyahlah mengharapkan penghargaan, tulisan diterima saja  bahagianya bukan main.

Artinya tulisan itu paling tidak terdokumentasi.  Inilah anugerah terbaik setelah memasuki usia pensiun, disibukkan oleh kegiatan tulis menulis yang ternyata sangat menyenangkan dan menghibur bila dibandingkan hanya bengong tak tahu bagaimana menghabiskan waktu luang yang begitu banyak.

Satu lagi kekuatan (strength) kompasiana terletak pada content tanggapan atau komentar sesama penulis.  Saling berinteraksi membuat penulis semakin paham bahwa dirinya  ADA  justru ketika ada penganggap atas karyanya. Menurut hemat saya, ROH  di website Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) terbitkanbukugratis.id itu justru terletak pada komentar kompasianer. Tulisan menjadi bernyawa ketika diberi apresiasi oleh sobat sesama penulis dan para pembaca.

Terlepas apresiasi itu bernada positf atau negative, sang penulis patut bersukacita bahwa tulisannya telah beredar, tulisannya telah memberi makna dalam khasanah jurnasilitik dunia. Menulis di album harian atau mungkin di blog pribadi seakan tak bernyawa karena hanya di nikmati sendiri.

Karena kompasiana dan kini YPTD serta Facebook.com serta media sosial lainnya saya beredar.  Media sosial menghadiahkan begitu banyak sahabat maya.  Sahabat sesama penulis dengan latar belakang beragam semakin memperkaya  wawasan nusantara bahwa kehidupan ini menjadi sangat indah ketika pelangi menghampiri kita.

Itulah sebabnya saya memaksakan diri hadir di setiap kopdar beragam komunitas dengan tujuan meningkatkan kualitas sahabat maya menjadi sahabat nyata. Luar biasa persahabatan itu semakin menyadarkan diri bahwa banyak kekurangn diri akan dilengkapi sahabat sejati.  Seringnya mengikuti aktifitas bersilaturahmi inilah yang mungkin menjadi obat mujarab untuk menunda datangnya penyakit pikun.

Tulisan ini dicukupkan 7 paragraf saja seiring pesan sponsor dalam rangka memasuki tahnu baru 2022. Izinkan saya berbagi bahagia untuk keluarga  terdekat, sobat sesama pengarang YPTD serta sahabat para pensiunan dan komunitas beragam yang awak perankan.

Kebahagiaan itu muncul ketika peristiwa luar biasa yang selama ini tak terduga bahkan tak termimpikan. Terinspirasi dari petuah bahwa muara menulis itu adalah buku, maka dengan segala daya saya menjilid posting di YPTD  dalam bunga rampai sehingga akhirnya terbitlah 7 buku bersampul depan dengan nama Thamrin Dahlan menjelang ulang tahun ke 70 : 7 Juli 2022.

Yes karena menulis saya tetap beredar.

Salamsalaman

YPTD, 5 Januari 2022

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed