oleh

Sepatuku Kebesaran

-Peristiwa, YPTD-Telah Dibaca : 31 Orang

Sweet Memory Wonderfull Tempino

Ujian Sekolah Rakyat (SR) di Kampong Sebelah

Catatan Thamrin Dahlan

Kalau membaca ulang tulisan ini rasanya mustahil anak desa bisa berkarier di ibukota. Alhamdulillah semua terwujud atas karunia ALLAH SWT meng – ijabah doa Almarhumah Ibunda Hj Kamsiah bin Sutan Mahmud dan Almarhum Ayahanda Haji Raden Dahlan bin Affan

Bolehlah mengemukakan pengalaman ikut ujian akhir  SR (Sekolah Rakyat) tahun 1964.  Awak tak paham apakah ketika itu sudah ada ujian nasional atau tidak, tetapi yang jelas kami murid SR Tempino di paksa atau terpaksa meninggalkan desa.  Desa kami Tempino, 30 kilometer dari kota Jambi belum berhak menyelenggarakan ujian sekolah.  Terpaksa awak dan 30 kawan seusia di ungsikan ke desa sebelah yang bernama Bajubang.

Bajubang sebagai pusat kota minyak di kawasan Jambi memang lebih besar dari desa kami. Pak Guru sudah mewanti wanti :

“Kalian akan menginap di Bajubang 3 malam,  siapkan buku, pensil, pakaian dan sepatu”

Waduh sepatu ? manalah awak punya.  Kami anak anak desa semua ceker ayam bersekolah dan bermain.  Kala itu memiliki sepatu adalah kemewahan.  Hanya Doddy yang bersepatu . Dia anak employe, Bapak Kuron Orang Manado atasan buruh minyak  termasuk Bapakku Dahlan Bin Affan.

Saudara sepupuku Chairul Anwar bin Raden Sabirin kawan sekelas (sampai SMA 2 Jambi) tampak tenang tenang  saja. Mungkin Etek Inam Ibunda Irul pasti sudah menyiapkan sepatu.

.” Mak, aku disuruh pak guru pakai sepatu ke Bajubang”

Sehari sebelum mengikuti ujian SR awak tuturkan dengan sedikit berbisik karena takut dimarahi  emak.

” ohhoooiii baa jo angku guru waang, mano ado sipatu angkau”

Mak marah, awak diam saja.  Mak sebenarnya sedih bukan marah benaran, cik gu yang beliau salahkan. Padahal memang demikianlah,  sepatu harus dipakai murid sebagai penghormatan kepada institusi sekolah.

“pakai sipatu uda mu”

Emak akhirnya menyorongkan sepatu kakakku Syahrir  belajar di Sekolah Tehnik (ST) Jambi.    Awak diam saja menurut, patuh dan taat tidak membantah. Sebenarnya awak ingin sekali dibelikan sepatu “bata ” baru. Tapi biarlah, pinjam punya Uda walaupun sepatu nya kebesaran.  Mak tak habis akal, seperti Wanita Minang  banyak akalnya,.  Mak memasukkan carik (sejenis kain gombal ) di ujung dalam sepatu.

” Nah pakai sepatu iko, lai sasuai kan ?”

Awak bawa berjalan sepatu si uda, kebesaran, lobok istilah kampong kami.  Tetapi bisalah dipakai berjalan yang penting jangan dibuat berlari, bisa lepas melayang si sepatu.

Kami murid kelas 6 tiga minggu  sebelum tiba ujian akhir SR.  Pak Guru menyuruh kami sekolah sore.  Tambahan pelajaran atau mengulang ulang katanya agar kalian lulus semua.

Ya zaman itu belum ada kursus tambahan seperti zaman ini.   Kami sekolah pagi tetap, kemudian pukul 16.00 pergi lagi ke kelas.  Bapak Kepala Sekolah langsung  memberi les tambahan.  Bentuk les itu menjawab pertanyaan pelajaran ilmu bumi dan mengerjakan soal soal berhitung.

Banyak kawan yang bersungut, waktu bermain kita berkurang katanya, seharusnya kita berenang  di kolam Pak Kasim,.  Tetapi apa boleh buat  Pak Guru bertingkah pakai sekolah sore segala.

Sejujurnya awak merasakan risau menghadapi ujian sekolah rakyat. Mak terkadang memarahi awak ketika malam malam berteriak teriak keras seperti dikejar harimau.

Dokpri
” Mimpi angkau rupanya, tadi sebelum tidur indak mambaco doa”
Perasaan anak anak kecil seusia 12 tahunan sebenarnya cukup tegang dengan adanya ujian ujian segala. Sebenarnya dari nilai rapor Pak Guru sudah paham bagaimana kepintaran dan kebandelan (bukan bodoh) muridnya muridnya. Jadi buat apalagi ujian ujian yang sejatinya menjadi momok psikologis bagi anak anak kecil.

Waktu berangkat ke Bajubang untuk berjuang tiba.   Emak mengantarkanku ke sus (ruang pertemuan) Pertamina Tempino dekat pasar.  Disanalah kami disuruh berkumpul. Mak menyiapkan satu bungkusan kain (buntelan ?) isinya baju, celana dan buku buku.  Kami tak punya tas atau koper pakaian, hanya kain sarung yang diikat kuat itu bekal awak ujian. Awak juga melihat bungkusan kain dari kawan kawan, seperti mau pergi ke pesantren untuk mengaji rupanya.

Pak Guru mengabsen kami, satu satu naik truk, duduk diatas bangku kayu berhadapan.  Murid perempuan ada yang menangis.  Emak pun ikut segugupan menangis seperti mengantarkan orang naik haji.

Inilah pengalaman pertama kali meninggalkan kampong halaman. Awak terharu melihat Emak menadahkan tangan.  Beliau berdoa semoga anakku selamat di perjalanan dan bisa menjawab soal ujian. Lulus terbaik.  Mak mungkin lupa mengasih awak sedikit bekal  uang jajan, karena mak pikir, keperluan dikau ditanggung semuanya oleh Perusahaan Minyak Pertamina.

Menuju Bajubang 30 kilometer dari kampong  kami, melewati jalan berlubang besar.  Truk Pertamina terayun ayun, penumpang muda belia yang jarang jarang naik oto terguncang guncang. Anak anak perempuan mulai mules dan akhirnya muntah.

Pak Guru duduk di depan disebelah pak  sopir.  Untunglah kekuatan fisik anak kampong akhirnya bisa mengatasi musibah mabok darat itu.

Tiba di Bajubang, kami menginap di perumahan Pertamina.  Hanya dua kamar yang diberikan.  Satu untuk murid lelaki dan satu untuk murid perempuan.  Pak Guru di siapkan kamar khusus.

Tampak kasur tebal dan bantal gemuk di tebarkan di lantai, dibungkus kain seprai putih rapi. Kami berlompatan di atas kasur yang jarang jarang ditemui di dunia keseharian.  Budak Tempino  bergelut diatas kasur, ada yang koprol dan berguling guling.  Nikmat banget jadi orang kaya ya.

Kami jadi lupa tujuan utama ke sini, mau ikut ujian negara.   Seusai makan malam, Pak Guru mengumpulkan murid murid.  Beliau berpesan,

” Kalian  tidur yang nyenyak, tidak usyah belajar lagi, kalian murid pintar pintar, besok kita akan ujian. Berdoa mulai,…”

Demikian sambutan singkat Pak Guru mengantarkan mimpi si pejuang ujian.

Esoknya kami berbaris rapi menuju SR Bajubang.  Semua anak rapi bersepatu. Lupa pakai sepatu kebesaran saking semangat.    Pak Guru menuntun kami memasuki kelas sesuai dengan nomer ujian. Awak agak gugup jua.  Untunglah ingat pesan Emak,

“Baca surat Al Fatehah sebelum mulai, ucapkan dalam hati Salam dan shalawat terus menerus Allahuma  Shali ‘ala Syaidina Muhammad…”

Sementara para pengawas ujian berjalan tegap mengelilingi murid. Pengawas ini berasal dari Dinas Pendidikan Propinsi Jambi. Seorang pengawas mendekati awak, dia menyapa :

” Punya pensil ?,

awak gugup tergagap seraya menjawab

” …puuuu nya pak.”

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah SWT bersebab doa Emak dan Bapak semua soal ujian dengan lancar awak bisa jawab. Ujian 2 hari merupakan peruntungan terakhir apakah awak layak lulus atau tinggal kelas mengulang tahun depan. Syukurlah akhirnya kami lulus semua.

Alhamdulillah semua murid SR Tempino Jambi lulus,

Tantangan selanjutnya  meneruskan pendidikan ke SMP atau sekolah ST, SMEP, SKKP di kota Jambi., Ada juga kawan awak yang memilih  bertani atau berniaga membantu ekonomi orang tua.

Tempino berpesta. Sebagai tanda syukur Kepala Kampong Pak Ahmad Stom menyiapkan makan besar dan banyak.

Spesial di rumah Emak memotong seekor ayam jantan, digulai dengan nenas, sebagai hadiah bagi anaknya yang lulus ujian dengan nilai terbaik bernama Thamrin Bin Dahlan Ibnu Affan.

” waang harus sekolah ke Jambi.  Tinggal dengan Etek Syam, sekolahlah sampai sarjana”

Mustahil menjadi kenyataan.  Alhamdulillah Komisaris Besar Polisi Purnawirawan H. Thamrin Dahlan, SKM, M.Si Jabatan terakhir Direktur Pasca Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional.

Boedak Tempino Jambi berkat doa Emak dan Bapak bisa membanggakan Kampong Kelahiran Tempino.

Catatan : Artikel ini merupakan bagian autobiografi perjalanan hidup seorang anak manusia yang kebetulan di anugerahi nikmat menulis.  Terangkum dalam Buku Tjerito Boedak Tempino.

  • *Salamsalaman
    *BHP, 230123
    *YPTD

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan