oleh

Komentar Pada Portal Bapak Dahlan Iskan disway.id

-Literasi, Media, Peristiwa, YPTD-Telah Dibaca : 165 Orang

Belajar dari orang pintar diusia tua kenapa tidak.  Itulah yang awak lakukan setiap pagi tepatnya bada’ shalat subuh.  Membaca Tulisan Bapak Dahlan Iskan pada portal disway.id.

Bukan sekedar membaca namun awak tergerak pula menyampaikan komentar bersama ratusan pembaca mania tulisan Mantan Menteri BUMN.  Karya tulis Abah (demikian kami memanggil beliau) di jamin anti  hoax.

Pengalaman Abah puluhan tahun sebagai jurnalis dan pemimpin redaksi plus pemilik  Koran Jawa Pos membuktikan bahwa Beliau masih konsisten memberikan masukan bagi negeri ini.

Mari simak Posting disway.id Selasa, 31 Mei 2022 tentang permasalahan kebebasan kepemilikna senjata api di Amerika Serikat yang banyak menimbulkan korban warga sipil.

Senjata Yubo

by Dahlan Iskan

COBALAH sesekali kita pahami jalan pikiran orang yang tidak setuju dengan kita. Misalnya soal kepemilikan senjata itu.

“Kalau kepemilikan senjata dilarang, jumlah korban mati di tangan perampok akan lebih banyak,” ujar Ted Cruz, anggota DPR Partai Republik dari Texas.

Dengan memiliki senjata maka orang yang jadi sasaran rampok bisa membela diri. Mereka juga tidak mudah merampok karena tahu kita pasti punya senjata untuk melawan.

Maka orang seperti Presiden Donald Trump tetap kukuh membela hak warga memiliki senjata.

“Sudah waktunya sekolah yang berubah. Guru harus dipersenjatai,” ujar Trump di acara Kongres Asosiasi Pemilik Senjata (NRA) di Texas dua hari lalu.

Trump juga memberikan jalan keluar lain: pintu-pintu sekolah harus lebih kuat. Juga jendelanya. Dan pagar yang mengelilingi sekolah harus disesuaikan. Harus lebih kukuh. Agar tidak terjadi lagi orang bersenjata bisa masuk kompleks sekolah.

“Juga harus pakai teknologi modern untuk mengamankan sekolah,” ujar Trump.

Awal mula kehebatan Amerika memang dari kehidupan individual penduduknya. Terutama yang kulit putih. Mereka bekerja keras. Sendiri. Bersama istri dan anak. Tidak ada yang membantu. Tidak juga pemerintah –mereka benci pemerintah yang hanya mencampuri urusan pribadi. Karena itu mereka juga benci pajak.

Mereka harus mati-matian melindungi hasil kerja kerasnya itu. Sendirian. Mereka tidak rela hasil kerja keras itu dirampok orang begitu saja. Baik sesama kulit putih atau oleh ras lain. Mereka jaga kekayaan mereka dengan taruhan nyawa. Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Atau polisi.

Mereka harus punya senjata. Suami punya satu pistol. Istri juga. Lalu suami punya lagi senjata laras panjang. Itulah peralatan standar rumah tangga mereka.

Ibarat punya piring dan sendok. Seperti itu juga di rumah teman-teman saya di sana. Ditunjukkanlah kepada saya di mana menyimpan pistol. Di mana letak senjata laras panjang. Saya pernah juga diminta mencobanya. Di halaman belakang.

Di Kongres NRA itu juga dinyatakan bahwa tidak satu pun anggota NRA yang pernah terlibat penembakan masal seperti yang baru terjadi di kota kecil Uvalde, bagian barat daya Texas.

“Kami bukan teroris. Tangan kami tidak berlumur darah. Kami taat hukum Amerika. Kami hanya ingin menjaga diri dan keluarga kami. Kami bangga jadi anggota NRA,” bunyi publikasi resmi di NRA.

Berarti masyarakat Amerika tetap terbelah. Presiden Joe Biden yang kemarin ke Uvalde diteriaki sebagian masyarakat di sana. “Lakukanlah sesuatu agar tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini,” teriak mereka seperti dilaporkan media di sana. “I will do,” balas Biden.

Apa maksud I will do kita tahu. Tapi bagaimana merealisasikannya itulah persoalan besarnya.

Sepuluh hari lalu Biden juga ”melayat” ke korban penembakan masal di Buffalo, bagian paling utara Amerika. Dan kini melayat serupa di bagian paling selatan negara itu. Bahkan di saat Biden ke Uvalde ini pun ada penembakan lainnya di Alabama.

Bisa jadi pekerjaan utama Biden nanti hanya melayat seperti itu. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat.

Tentu ada yang selalu bisa disalahkan. Dalam kasus Uvalde, yang diincar adalah Pedro ”Pete” Arredondo. Umurnya 50 tahun. Ia adalah kepala polisi sekolah distrik Uvalde.

Pete dianggap terlalu lambat mengambil keputusan. Kelak akan diungkap berapa dari 19 siswa yang tewas itu bisa selamat. Kalau saja Pete tidak lelet. Siapa tahu di antara 19 itu sebenarnya ada yang belum meninggal. Ia hanya terluka. Tapi terlalu lama tergeletak di lantai. Sekitar 1 jam. Sampai mati kehabisan darah.

Padahal doktrin keadaan krisis seperti itu tegas: lakukan ICE. Isolate, Catch, Evacuate. Pojokkan pelakunya. Ringkus pelakunya. Evakuasi korbannya.

Polisi sebenarnya sudah tiba di lokasi hanya beberapa menit dari peristiwa. Tapi yang didatangi pertama justru lokasi di depan rumah mayat. Di sebelah sekolah.

Dari situ memang ada pengaduan ke 911. Yakni ketika dua orang yang baru keluar dari rumah mayat ditembak Salvador Ramos remaja 18 tahun itu. Lokasi rumah mayat yang di sebelah sekolah menyebabkan polisi tidak mengira ada juga penembakan di sekolah. Yang justru lebih dahsyat. Dengan pelaku yang sama.

Polisi akhirnya juga ke sekolah itu. Tapi lebih banyak berkumpul di koridor. Tidak segera bertindak. Sampai ada orang tua siswa yang minta ke polisi agar memberikan senjata dan rompinya. Ia sendiri yang akan mendobrak masuk ke dalam kelas.

Di lain pihak, beberapa siswa yang tergeletak di lantai, sempat menelepon 911. Dengan ketakutan. Minta tolong. Agar dikirim segera polisi.

Siswa itu meraih HP milik guru mereka yang tergeletak tewas di sebelahnya. Itu berani mereka lakukan karena Ramos, Si pembawa senjata, lagi ke kelas sebelah. Mereka juga berani meraih darah dari lantai untuk diusapkan ke seluruh badan. Juga darah dari teman mereka yang sudah tewas. Lalu pura-pura sudah mati.

Komandan Pete berpikiran lain. Ia tetap menunggu kunci cadangan. Untuk bisa masuk ke kelas. Kunci itu masih diambil dari petugas pembawa kunci cadangan.

Lama sekali.

Ia tetap tidak mau mendobrak pintu atau jendela. Ia berpikir Ramos sedang berlindung dan siap menembak.

Pikiran Pete lainnya: toh sudah tidak ada suara penembakan lagi. Itu ia anggap keadaan tidak membahayakan siswa lagi. Sama sekali tidak terpikirkan siapa tahu sudah banyak yang tertembak dan masih bisa diselamatkan.

Itulah yang akan jadi pusat penyelidikan atas Komandan Pete. Padahal ia sudah mengikuti pelatihan intensif keadaan seperti itu. Ia sudah 25 tahun mengabdi di kepolisian.

Pete juga tahu aturan baru menghadapi peristiwa seperti itu. Langsung dobrak. Aturan baru itu dibuat sebagai koreksi cara lama. Terutama setelah terjadi penembakan serupa di pantai timur 10 tahun lalu. Agar tidak terjadi lagi.

Ternyata berulang.

Bukan main kemarahan masyarakat Uvalde. Dan seluruh Amerika.

Rupanya perhatian Pete kini sudah terbagi ke bidang lain. Ia lagi ingin jadi politisi. Ia ikut Pilkada di Uvalde. Untuk menjadi anggota dewan kota. Sudah terpilih. Ia bisa segera berhenti dari jabatan komandan polisi di situ. Dengan pangkat kapten.

Latar belakang Ramos sendiri kian terkuak. Ternyata ia cukup aktif di medsos. Yakni di Yubo. Yang 90 persen anggotanya anak berumur 25 tahun ke bawah. Menurut Yobo ada 79 juta anak muda di medsos tersebut. Termasuk Ramos.

Ramos juga sering live di Yubo. Anak berumur 18 tahun ini sering bicara mesum di situ. Live.

Juga sering mengancam lawan bicaranya. Khususnya wanita. Ia pernah mengancam si wanita untuk diperkosa dan dibunuh. CNN juga menulis Ramos pernah mengancam akan menembaki sekolah si wanita.

Dalam satu live Ramos pernah mengalihkan kamera HP ke senjata yang ia miliki. Sambil memberikan ancaman tersebut. Polisi akhirnya menemukan Ramos memiliki 60 magazine dengan peluru sebanyak 1.657 buah. Sebagian ditemukan di rumah Ramos.

Hannah, 18 tahun, juga anggota Yubo. Dia dari Ontario Kanada. Hannah pernah melaporkan tingkah Ramos seperti itu ke pengelola Yubo. Ramos sempat di-blacklist di Yubo. Tapi, kata Hannah, hanya sebentar. Lantas boleh aktif lagi

Ramos kini sudah tidak mikir apa-apa di kuburnya. Justru Pete yang sibuk menyelamatkan akhir karirnya.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Aplikasi Migor

Jimmy Marta
Nyesek aku nyoba2 kalkul. 1m lbr = 0,09%. Dibulat 0,1 brarti sepersepuluh persen. Hasilnya seperseribu. Ada seribu m lebih lbr diedar goto. Harga ipo 380. tksl yg 6,3 t dapetnya 2,08 mumet aku ngalinya, Ji…

kagami Shanks
Nanya ah. Apa iya telkomsel investasi di goto 6,3 T. Cuma dapat (2,08%). Itu serius?.

Ibnu Shonnan
Untuk sekalian kalinya. Benda cair ini (migor) tidak bisa mengalir sebagaimana karakternya. Kali ini tersendat. Tidak karena dibuntu jalannya. Tapi, dikasih jalan liku-liku. Supaya, lebih jernih jika nanti sampai pemakainya..

thamrindahlan
Anda Sudah Tahu (7 x) Minyak Goreng menjadi Masalah Nasional dan juga menjadi bulan bulanan media massa maca negara. Ada rasa miris plus malu di hati WNI. Sebegitu parahkah sistem tata kelola manajemen pemerintahan sehingga soal yang seharusnya bisa diatas oleh seorang Direktur di Kementerian Perdagangan “terpaksa” di tangani langung Presiden. Malah akhir akhir ini Pak Presiden menugaskan Mr. LBP untuk menyelesaikan carut marut perdagangan minyak goreng. Entah sudah berapa kali disway.id menaikkan masalah minyak goreng dan sudah ratusan komentator loyal menyampaikan pendapat. Bukan sembarang pendapat tetapi ada juga saran produktif untuk ikut serta menyelesaikan masalah pelik emak emak se nusantara. Berpantun sajalah kawan Nasi uduk setara nasi lemak Nikmati sekeluarga jangan sendirian Minyak goreng oh derita emak emak Semoga selesai jangan berkepanjangan Salamsalaman Entah sampai kapan penderitaan

Asep Koding
Web disway.id sering banget macet … hang .. , kadang untuk baca satu artikel disway aja harus refresh 2-3 kali, sangat mengganggu. Silahkan cek bouncing pengunjung di Google Analytics, bisa lebih dari 90%. Kalo bukan karena Abah yang nulis, web begini pasti gak ada yang mau balik lagi.

Lukman bin Saleh
Migor curah d kemas. Distribusi online dan offline. Online dr aplikasi market place. Offline dr jaringan ritel modern. Tugas pemerintah tinggal sedikit. D wilayah2 yg tdk terjangkau dg 2 sistem itu. Bisa mengerahkan instansi yg ada. Maka harga migor yg melalui sistem distribusi itu 100% terkontrol…

Komentar awak pada topik Senjata Yubo
thamrindahlan
Mari sobat kita menambah wawasan kemanusiaan dengan cara membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan.  Insha Allah bermanfaat.
  • Salam Literasi
  • BHP, 31 Mei 2022
  • YPTD

 

Komentar

Tinggalkan Balasan