oleh

Jalan Non Tol Betung Tempino

Mudik Tiga

Catatan Thamrin Dahlan

Sekarang bercerita tentang jalan non tol atau jalan lama. Itulah jalan darat Palembang Jambi sepanjang 270 kilometer. Tentu berbeda dengan Jalan Tol Pak Jokowi di lihat dari segala sisi sudut pandang.

Rabu 15 September 2021 pukul 07.00 kami keluar di pintu tol Kramasan Km. 365. Kota Mpek mpek Palembang menyambut tamu dengan sedikit merambat menuju jembatan musi dua.

Berkendara lambat bersama angkot merayap melewati stasiun kereta api kertapati. Sementara mata atas perunjuk perut melirik kekiri kanan. Dimana dikau wahai posisi restoran untuk memenuhi hajad kaum kampung tengah alias perut lapar.

Akhirnya bersua jua sebuah kedai masakan padang asli kampung. Disinilah tempat transit perantau mudik . Tersedia semua ragam jamuan

terbaik

seperti makanan khas Palembang bercampur aroma rasa minangkabau..

Jarang jarang ketemu gulai ikan baung. Pilihan utama makan besar dipagi itu menyantap sedap hidangan selintas mata menatap. Setelah berkendara lebih 3 jam pantaslah hak istirahat raga diberikan terutama untuk kememakanda Arifin sang driver.

Pukul 09.00 start setelah cukup istirahat. Diperkirakan perjalanan ditempuh 6 jam tiba ditanah kelahiran Tempino Jambi. Kecepatan rerata 40 km per jam. Tidak bisa melaju cepat bersebab 3 hal. Pertama kondisi jalan tidak rata banyak berlubang. Kedua berpapasan dari lawan arah kendaraan besar, apatah bus atawa truck logistik. Ketiga bahu jalan adalah juga berfungsi sebagai haĺaman runah penduduk.

Semua penguna jalan memasang ilmu sabar agar selamat tiba di tujuan. Lama sekali rasanya mencapai kota Betung. 3 jam berkendara ishoma di desa Bekal Supat. Shalat Dzhuhur di Masjid Al Athar berjamaah di pimpin Imam Rawatib. Masjid bersih, rapi dan menjaga kesucian dengan cara memisahkan jarak jauh antara toilet dan tempat berwudhu.

Lanjut perjalanan ke Sungai Lilin. Kondisi jalan Kabupaten Musi Banyu Asin masih seirama dengan tetangga. Sementara sopir kendaraan dari arah berlawanan saling mengadu kesabaran menelikung lubang. Tidak ada penanda kilometer di pinggir jalan. Pengguna jalan bersahabat dengan google map guna bertanya berapa lama lagi kah kami tiba ditempa tujuan.

Kota Banyung Llncir sudah terlihat didepan.Cukup ramai pelintasan di Kecamatan nan di belah sungai lebar sebagai moda alternatif transportasi air. Istirahat dan menegakkan Shalat Asar. Perbatasan Propinsi Jambi sudah terbanyang sekira 50 kilometer perjalanan.

Menjelang 45 menit tiba di Tempino, terbayangkan kenangan lama ketika melintas perjalanan darat dari Jammbi Palembang pulang pergi.

Tahun 1970 awak dipaksa Emak kuliah ke Palembang. Menempuh jarak 270 kilometer mengikuti jalan tanah disamping pipa minyak Pertamina di tempuh 20 jam.

Betapa tidak jalan bak kubangan kerbau.

Mobil ditarik win ketika tersungkur kedalam lobang. Belum ada lagi jembatan di Banyunglincir, Peninggalan dan Sungai Lilin. Mobil dinaikkan ke atas ponton kemudian ditarik dengan tenaga manusia untuk menyebrangi 3 sungai besar itu.

Tahun 1990 an sudah dibangun 3 jembatan diatas 3 sungai besar itu.Jalan tanah sebagian sudah dikeraskan dan diaspal. Waktu tempuh masiih berkisar 8 – 10 Jam.

Sebenarnya jalan ini termasuk jalan nasional luntas timur Sumatra menghubungkan Aceh sampai Lampung.

Tiba tiba lamunan awak buyar ketika terdengar suara sang Istri setengah berteriak

“Alhamdulillah kita sudah tiba di Tempino”

20 jam perjalan terus menerus cukup meletihkan badan gaek 70 tahun ini.

Berharap Bapak Presiden Joko Widodo menuntaskan proyek jalan tol antar Propinsi Sumatera 2024. Masyarakat Jambi berharap jalan tol dibangun segera di lintasan propinsi penghasil karet terbesar.

Mudik lebaran 2022 semoga Jalan Tol

Palembang Jambi selesai dibangun. Waktu tempuh perantau hanya 10 jam dari Pulau Jawa.

Salam LIterasi

Tempino18 September 2021

YPTD

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed