oleh

Oleh Oleh Mudik

Oleh Oleh Mudik

Senin 19 September 2021  subuh tiba kembali di Ibukota Jakarta.  Perjalanan darat cukup melelahkan selama hamper 22 jam.  Waktu tempuh lebih lama 3 jam dibanding ketika berangkat ke Tempino Jambi.

Kendala teknis server tampaknya dialami oleh seluruh pengguna jalan yang akan menggunakan kapal ferry.  Website ferizy error alias tidak bisa diakses. Jadilah antrian panjang mobil pribadi bersanding dengan truk truk besar.

Pemesanan tiket ferry dilakukan secara manual.  Dengan demikian antrian hampir 90 menit sebelum naik keatas kapal penyebrangan. Dalam kondisi seperti ini calon penumpang tidak bisa memilih ferry vip/ekpress  seperti ketika melakukan pemesanan tiket by on line.

Ferry lama menempuh pelayaran Bakahuni Merak lebih dari 150 menit. Kondisi seperti ini tidak perlu berkeluh kesah apalagi ngomel dan marah marah.  Terima saja dengan ikhlas bersebab kendala teknis seperti ini dirasakan oleh penumpang juga oleh petugas.

Setelah 6 Hari off line di website terbitkanbukugratis.id bersebab pulang kampung halaman di Tempino Jambi, Alhamdulillah kini aktif full di media sosial khususnya di Komunitas Literasi YPTD.

Menyelesaikan beberapa pekerjaan antara lain pengusulan ISBN dan Mencetak Buku serta men posting ketertinggalan KMAA.  Semangat Literasi.  Gass poll membuka personal computer (PC) nan nyaris berdebu ditinggal hampir sepekan. Posting 5 artikel sekali gus untuk membayar hutang KMAA

Terima kasih Bang Agus Puguh dan Ibu Monika. Dalam perjalanan mudik saya tetap menulis namun agak sulit posting di website YPTD terbitkanbukugratis.id . Menulis di handphone, akses facebook dan WAG tidak terkendala teknis namun untuk ke website agak sulit terutama ketika menambah dokumentasi foto.

Karena Menulis Aku Ada (KMAA) merupakan tantangan  dan komitment  menuntaskan posting 40 artikel sampai tanggal 30 September 2021. Sejauh ini teman teman “bisa berlari bersama” dalam lomba marathon sehingga mencapai finish.  Semangat Literasi

Alhamdulillah bisa mendapat kesempatan menulis selama mudik.  Diantara kesibukan silaturahim dan kelelahan awak masih sempat menulis.  Bersegera menorehkan tulisan selagi masih fresh inspirasi.  Maklum lansia mudah lupa.  Untunglah dokumentasi foto sangat membantu mengkisahkan perjalanan mudik.

Oleh oleh perjalanan nan abadi ialah tulisan.  Sedangkan oleh oleh kuliner hanya sebatas penyedap lapar dan dahaga. Terlalu banyak jenis makanan dan minuman selama perjalanan.  Rasa Sumatra dengan aroma pedas sudah menjadi selera khas wong kito galo.

Sempat pula pada hari Jum’at Shalat di Masjid Agung Kota Jambi. Bersama Adinda Muhammad Yahya dan Kemekanda Ansor Syahrir yang kebetulan mudik pula. Inilah Masjid Agung kebanggaan orang Jambi.  Masjid nan banyak tiang, sungguh sangat banyak tiang sehingga tak terhitung.  Masjid ini dikenal pula dengan Masjid tak berdinding.

Bada Shalat kami rebutan menikmati Ikan Bakar didekat Bioskop Murni (dulu).  Ramai sekali pengunjung.  Ikan bakar memang enak sekali sayang karena rebuitan itu kami bertiga hanya dapat jatah 1 ikan untuk dinikmati bersama.

Berniat silaturahim dengan Kakanda Raden Chairil di Broni Jambi. Tak direncanakan berangkat pula kami berlima (tambah Uda Chairil dan Dessy) bezoek saudara di Rumah Sakit Swasta Muara Bulian.  Cukup jauh jarak tempuh namun tidak terlalu dirasakan bersebab bercakap dengan saudara sepupu tak habis habisnya.

Kembali ke Tempino melewati kota minyak Bajubang.  Inilah jalan perlintasan ke Padang .  Disana sini ruas jalan masih banyak berlubang. Untunglah kami bisa menikmati sate padang di tengah hutan.  Luamayan emak atau memang lapar.

Untuk sementara itulah oleh oleh dari mudik.  Masih banyak yang belum disampaikan secara detail rekam jejak menginjak kebon warisan orang tua  seluas 10 hektar.   Nantilah awak sampaikan setelah menyelesaikan pekerjaan administrasi kantor YPTD.

  • Salam Literasi
  • BHP, 20 September 2021
  • YPTD

Komentar

Tinggalkan Balasan

4 komentar

News Feed