oleh

Tujuh Dosa Sosial

-Ekonomi, Humaniora, Politik, Sosbud, YPTD-Telah Dibaca : 209 Orang

Dalam kamus politik tidak ada kawan sejati yang ada adalah kepentingan sejati.  Itulah ungkapan populer di dunia politik.  Kita berteman ketika masih mempunyai kepentingan yang sama.  Kita bermusuhan ketika kepentingan berseberangan.

Politik diartikan sebagai poli artinya banyak, tik dimaknai cara, Jadi politik itu didefinisikan sebagai sesuatu organisasi yang menggunakan banyak cara guna mencapai tujuan.

Tidak peduli cara itu legal atau ilegal. Politik berbanding lurus dengan kekuasaan.  Partai Politik dijadikan sebagai kendaraan untuk mempertahankan kekuasaan. Partai Politik juga digunakan untuk merebut kekuasaan.

Kekuasaan itulah yang menjadi fokus utama dari partai politik.  Partai Politik tanpa kekuasaan ibarat kendaraan tanpa bahan bakar.  Partai Politik  sedang  berkuasa ibarat kendaraan yang sangat kencang larinya, menerabas sana sini, menabrak kiri kanan.

Kekuasaan itulah yang menjadikan parpol  lupa akan platform, mensejahterakan rakyat. Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil seleksi administrasi partai politik kemarin.  Beberapa  partai dinyatakan lolos seleksi dan beberapa Parpol lainnya gagal.

Ada beberapa partai baru.  Maksudnya partai dengan nama baru namun orang dibelakang partai itu adalah pemain yang itu itu juga atau stock lama. Wajar apabila ada beberapa parpol gagal seleksi mengajukan  protes keras atas keputusan KPU.

Protes itu wajar dari sisi mereka, karena partai dijadikan kendaraan untuk mengusung cita cita kemakmuran bagi anak bangsa termasuk kesejahteraan para pengusung  partai tersebut. Inilah dunia politik yang tanpa prinsip.

Politik tanpa prinsip telah dinyatakan jauh jauh hari oleh Tokoh Dunia Mahatma Gandhi sebagai salah satu dari 7 dosa sosial . Berpolitik tanpa mempertahankan prinsip (platform partai) ketika partai itu telah bersinggungan dengan kekuasaan.

Dosa itu semakin bertambah dan berakibat memunculkan dosa dosa lain seperti

  1. Politik Tanpa Prinsip
  2. Kekayaan Tanpa Kerja Keras,
  3. Perniagaan Tanpa Moralitas,
  4. Kesenangan Tanpa Hati Nurani,
  5. Ilmu Pengetahuan Tanpa Kemanusiaan,
  6. Pendidikan Tanpa Karakter
  7. Peribadatan Tanpa Pengorbanan.

 

Akibat dari 7 dosa sosial itu siapa lagi kalau bukan rakyat terutama rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan.

Para elit politik sibuk dalam perebutan kekuasaan sementara kalangan  grass root sibuk pula memperebutkan rezeki mengais apa yang bisa dikais dari tong tong sampah.  Inilah kejadian faktual dinegeri ini.

Lihatlah masih banyak anggota masyarakat yang memikirkan hari ini mau makan apa.  Beda nasib namun hidup dalam alam demokrasi yang sama. Partai tanpa prinsip telah memporak porandakan bukan saja sistem politik, tetapi berdampak pada perekonomian negara.

Kekuasaan memiliki kewenangan untuk mengendalikan keuangan negara. APBN menjadi bancakan para eksekutif dan legislatif, dan yudikatif pun kini ikutan menikmatinya.

APBN yang seharusnya digunakan untuk kemakmujran sebesar besaranya rakyat banyak, ternyata terhenti pada titik kemakmuran segelintir orang yang sedang berkuasa. Nampaknya KPK perlu menambah personilnya,….

Mahatma Gandhi mensinyalir terdapat 7 Dosa Sosial.  Dosa Dosa kolektif yang dilakukan secara bersamaan oleh masyarakat dengan komando para penguasa.  Sadar atau tidak sadar salah satu dari dosa sosial itu adalah peribadatan tanpa pengorbanan. Tokoh Dunia sekaliber Mahatma Gandhi mengatakan bahwa dunia ini semakin diperburuk oleh perilaku manusia akibat dari sistem  pendidikan tanpa karakter.

Salah satu dosa sosial itu adalah peribadatan tanpa pengorbanan.  Begitulah peredaran bumi terus berlangsung bersamaan dengan merasuknya hawa nafsu manusia dalam menjalankan kehidupan sehari hari.

Terkait dengan hari Raya Idhul Adha, maka relevan kalau kita melihat lagi bahwa berkurban bagi umat Islam adalah suatu kewajiban bagi yang mampu.  Mampu dalam arti memiliki harta yang harus dikorbankan. Nabi Ibrahim sebagai Bapak Tauhid telah memberikan contoh teladan baik tentang makna sejati berkurban.  Beliau mengorbankan harta yang paling disayanginya yaitu anak kandung sibiran tulang Nabi Ismail.

Ya itulah makna sebenarnya dari berkurban.  Memberikan yang kita sayangi dan cintai sebagai pembuktian iman kepada Sang Khaliq.  Kurban itu akan diterima Allah SWT sebesar apa pengurban umat.  Semakin besar nilai hakiki kurban maka semakin tebal pula keimanan yang terkandung didalam dada.

Mengurban sesuatu yang disayangi bukan mengurban harta jelek. Janganlah  mengurbankan harta yang buruk,( bahkan kita sendiri tak menginginkannya.) Berikanlah yang terbaik, kurbankan yang paling disayangi, keluarkan harta senilai seekor kambing atau seekor sapi untuk komunitas kelaurga.

Mengalirkan darah khewan yang ditakdirkan sebagai kurban adalah suatu pembuktian bahwa keimanan dan ketaqwaan itu masih bersemayam di dalam qalbu.  Inilah hari raya haji, hari raya kurban yang memberikan dimensi sosial bagi sesama umat.   Betapa tidak masih banyak saudara kita yang berada dalam status sosial dan status ekonomi dibawah garis kemiskinan.  Inilah hari raya bagi mereka, hari raya kasih sayang dimana saudara saudara kita itu bisa menikmati hidangan Tuhan.

Selamat berkurban, kurbankan apa yang disayangi, inilah makna sesungguhnya dari peribadatan dengan berkurban, bukan peribadatan yang bersifat ritual semata.

Salam salaman

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan