oleh

Mak Saudagar Pasar Tempino

-Bisnis-Telah Dibaca : 289 Orang

Pasar Tempino dahulu ramai sekali. Tahun 1960 sampai 1990 Pertamina sedang jaya jayanya. Buruh Pertamina ikut menikmati ransum yang luar biasa banyak.

Kebutuhan sehari hari lainnya bisa terpenuhi di pasar Tempino.  Pasar Itu besar sekali ada bangunan tiinggi yang menaungi kios kios dalam los yang padat.

Ibunda Hajjah Kamsiah binti Sutan Mahmud  memiliki satu warung di pinggiran pasar. Mak berdagang sembako sampai ke kalangan atau pasar mingguan di desa desa sebelah.

Kamis di Desa Sungai Landai, Sabtu  Sebapo, Rabu di Pelempang dan Selasa berdagang ke pasar Pal tigopuluh duo arah Bajubang.

Kini masa jaya pasar Tempino telah lewat seiring dengan semakin menipisnya cadangan minyak mentah di dusun kami. Bangunan pasar itu telah roboh dimakan zaman karena tidak ada dana perawatan dari Pertamina.

Secara bertahap buruh pertamina dikurangi sehingga pasar kekurangan pembeli. Disamping itu jalan raya ke Jambi sepanjang 27 km telah mulus di aspal. Warga Tempino tidak lagi belanja di pasar, tetapi mereka lebih memilih ke kota.

Sekarang hanya ada 5 toko disana. Salah satu toko milik Bapak Haji Syakirin dan ibu guru Hajjah Syafrida. Untunglah masih ada restoran padang milik Pak Kutar yang sangat terkenal.

Sampai sampai orang dari kota Jambi datang untuk menikmati Sop yang cita rasanya nendang bukan kepalang. Toko Mak sudah tutup, berpindah tangan entah berapa kali.  Dulu dari hasil dagang itulah Mak membiayai sekolah 7 orang anaknya.

Putra putri Hj Kamsiah binti Sutan Mahmud 3 orang Polisi,  2 Pegawai Pertamina, 1 Bidan dan  Yahya si bungsu bekerja di farmasi. Alhamdulillah.

Perhatikan toko bercat hijau. Itulah bekas toko Mak seorang wanita minangkabau pengusaha gigih atau kami sebut sebagai saudagar tangguh.

Kini pasar hanya tinggal kenangan,…. Tempino semakin sepi seiring habisnya minyak bumi .

Salam Literasi

BHP 261120

YPTD

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed