oleh

Generasi Emas Indonesia

-Edukasi, YPTD-Telah Dibaca : 51 Orang

Menyiapkan Generasi Emas Indonesia Berkarakter & Berkapasitas Global wajib dilakukan sejak dini. Pendidikan berjenjang merupakan investasi jangka panjang meletakkan pendidikan budi pekerti sebagai modal utama untuk membentuk sumber daya manusia berkarakter.

Sebelum sampai kepada upaya apa yang harus dilakukan dalam menyiapkan Generasi Muda tersebut maka perlu dipahami karakteristik Pemuda Indonesia.

Tiga tanda khas pemuda :

  • Agent of change.
  • Nothing to loose
  • Iron stock.

Sejarah Indonesia mencatat begitu besar peran generasi muda membebaskan rakyat dari penjajahan. Pemuda adalah pelopor perubahan, mereka tidak ada takutnya bahkan sangat berani menglawan tirani. Selain itu pemuda adalah warga negara yang disiapkan untuk menerima tongkat estafet kepemipinan.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sampai Proklamasi 1945 membuktikan pemuda sebagi pelopor perubahan. Demikian pula perubahan orde lama ke orde baru 1966 berlanjut reformasi 1998 menunjukkan agent perubahan itu adalah pemuda.

Dari zaman ke zaman satu hal yang tidak berubah pada diri pemuda. Yaitu Semangat Juang. Tugas para pendidik, mengarahkan dan mengawal potensi semangat juang pemuda dalam menghadapi dampak negatif globalisasi.

Perkembangan kemajuan teknologi komunikasi & informasi adalah suatu keniscayaan yang dihadapi semua bangsa terutama generasi muda. Persaingan antar negara saat ini lebih kepada kemampuan sumberdaya manusia profesional.

Tenaga kerja profesional meliputi penguasaan ilmu Pengetahuan (science) Ketrampilan ( Skill) dan Kepribadian (Attitude). 3 kemampuan ini harus terintegrasi dilandasi atittude berdasarkan ideologi Pancasila terutama Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

SDM Profesional bertaqwa kemudian memiliki nilai tambah (add value) kemampuan Public Speaking, Penguasaan IT serta mampu berbahasa Inggris InshaAllah inilah wujud Generasi Emas Indonesia Berkarakter dan Berkapasitas Global.

Konsep pendidikan merdeka seperti di canangkan Kemendikbud yaitu merubah paradigma anak didik sebagai objek menjadi subjek. Artinya anak didik diberikan kesempatan seluas luasnya untuk ber – kreasi ber-imajinasi dan ber – inovasi pada proses tumbuh kembang sesuai bakat masing masing.

Dengan demikian tugas para pendidik selain sebagai seorang intelektual juga memiliki tanggung jawab moral menghasilkan anak didik yang mampu menerima estafet kepemimpinan dari generasi pendahulu.

  • Salamsalaman
  • BHP 24 Nov 2022
  • TD

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan