oleh

Catatan Perjalanan Kepala Sekolah Dacil

-Fiksiana, Novel, Terbaru-Telah Dibaca : 534 Orang

100 Hari Pertama (Bagian 3)

Satu Bulan sudah berlalu, dengan segala ceritanya, dan  bulan Agustus pun datang. Biasanya banyak momen lomba-lomba antar sekolah yang dilaksanakn oleh Panitia Peringatan Hari Besaar Nasional (PHBN) Kecamatan Cipanas. Sudah mentradisi setiap menjelang Hari Kemerdekaan RI Panitia mengadakan lomba gerak jalan antar sekolah tingkat kecamatan. Namun ternyata sekolah kami belum pernah mengikutinya. Padahal SD sebelah selalu rutin mengirimkan pasukannya.

Aku menawarkan kepada guru-guru apakah kami akan mengirimkan pasukan lomba gerak jalan. Di luar dugaan guru-guru sangat antusias karena akan menjadi pengalaman pertama bagi anak-anak mengikuti lomba tersebut. Anak-anak pun bersorak gembira begitu mendapat kabar akan mengikuti lomba tersebut. Hmmm.. kasihan anak-anak sepertinya haus akan kegiatan-kegiatan, apalagi ke luar sekolah dan turun gunung. Pastinya akan membuat mereka sangat gembira.

Terdengar dari luar kelas Bu een yang lantang berkata kepada anak-anak,” Sekarang sama Ibu didata, siapa aja yang siap ikut lomba gerak jalan? Cung!”*

“Saya,Bu!”

“ Saya, Bu!”

“Kami, Bu!”

Hiruk pikuk suara anak-anak, ingin mendapat persetujuan gurunya untuk bisa mengikuti lomba. Luar biasa bersemangatnya anak-anak itu.

Tentu, Bu Een merasa bingung sejenak, karena semua anak ingin dituliskan namanya sebagai peserta lomba. Lalu dia memberi solusinya, tak apa mereka semua berlatih dan nanti akan dipilih yanag terbaik untuk satu regu putra dan satu regu putri . Masing-masing regu berjumlah 22 orang.

Anak-anak rajin berlatih selama dua minggu dibimbing oleh pembina pramuka yang merupakan alumni sekolah kami.

Alhamdulillah pada saatnya kami dapat mengikuti lomba, yang merupakan pengalaman pertama bagi sekolah ini memberangkatkan anak-anak ke ajang lomba tersebut. Mereka diangkut dengan truk yang biasa memuat kayu dari hutan. Kami menyewanya sehari penuh. Guru-guru pendamping meleporkan bahwa banyak anak yang mabuk. Hmm.. karena mereka jarang naik mobil, bahkan ada yang belum pernah!

Pada lomba itu, bila dilihat dari kualitas yang mereka tampilkan, sangat jauh di bawah sekolah-sekolah lain yang sudah tiap tahun menjadi peserta. Namun target kami adalah anak-anak dapat mengenal dunia luar dengan turun gunung. Target spirit yang ingin kami tanamkan dalam benak anak-anak. Agar tumbuh motivasi belajar yang lebih tinggi. Mudah-mudahan tahun depan dapat berprestasi.

Pada tanggal 18 Agustus 2016, Setelah disepakati sebelumnya sekolah mengadakan lomba-lomba untuk ikut memeriahkan Hari Kemerdekaan RI. Tujuh macam lomba tradisional kami gelar, seperti: balap karung, balap kelereng, tarik tambang, hulla hop, makan keurpuk, mengambil uang dengan mulut dari buah jeruk bali yang dilumuri kecap dan panjat pinang.

Di bawah ini foto-foto yang menggambarkan kemeriahan lomba. Anak-anak begitu menikmatinya. Bahkan ibu-ibu, muda-mudi, penduduk di kampung itu pun berdatangan untuk menontonya. Maklum kegiatan begitu sangat langka adanya di kampung mereka.

Tak terasa tiga bulan pun berlalu aku menjalankan tugas di tempat baru. Walaupun belum mencapai target yang ditetapkan dalam target Kinerja 100 Hari Pertama, namun aku berusaha mengembangkan delapan Standar Nasional Pendidikan.

Kami para kepala sekolah, baik yang baru dipromosikan maupun yang rotasi, diwajibkan mempresentasikan kinerja 100 hari kerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, yang dihadiri oleh para pengawas dan pejabat dari kantor Dinas Kabupaten.

Aku menyadari belum ada prentasi apa-apa yang kuraih. Namun, beberapa usaha yang telah aku usahakan dan dilaporkan dalam presentasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan pembinaan kompetensi pedagogik guru baik internal sekolah maupun mengirimkan guru mengikuti MGMP, yang sebelumnya mereka belum pernah dikirim mengikutinya.
  2. Optimalisasi SDM untuk peningkatan Standar Kelulusan melalui kegiatan- kegiatan ekstrakurikuler dan pembentukan OSIS, yang sebelumnya tidak dilaksanakan.
  3. Mengembangkan karakter siswa dengan membiasakan upacara bendera setiap hari Senin, yang sebelumnya tidak dilaksanakan. Menyelenggarakan lomba-lomba menyambut hari kemerdekaan , walaupun murah tetapi meriah. Mengikutkan siswa dalam lomba gerak jalan tingkat kecamatan yang belum pernah diikuti.
  4. Pelayanan minimal kesejahteraan guru, mengupayakan konsumsi guru setiap hari untuk makan siang yang murah meriah, dengan cara guru bergiliran memasak di sekolah.
  5. Pengelolaan manajemen partisipatif, efektif dan akuntabel.

Alhamdulillah dengan upaya-upaya di atas, kinerja dan semangat guru terbangun dengan baik. Pada diri siswa juga tumbuh semangat belajar. Mereka begitu antusias mengikuti English Club yang kubimbing. Begitu pula kegiatan lain seperti pramuka, paskibra, dan Klub MIPA berjalan dengan baik.

Tiga bulan pertama adalah membangun spirit pada diri siswa dan gurunya, belum ditargetkan pada prestasi. Kekuatan manajemen partisipatif menjadi target utama, agar guru dan siswa sejahtera secara spirit. Masih begitu banyak yang harus mendapat sentuhan, diantaranya kompetensi pedagogik guru yang masih rendah.

  • angkat tangan

(Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar