oleh

KABUT DALAM BADAI 6

-Fiksiana-Telah Dibaca : 147 Orang

KABUT DALAM BADAI 6

Tung Widut

 

 

Sengaja dia tidak menyalakan musik dalam perjalanan itu. Dia benar-benar ingin mengenang semasa melewati jalan itu bersama Arera.  Masih seminggu lalu,  jalanan itu sebagai  saksi kemanjaan Arera. Arera duduk di sampingnya dengan senyum manis.  Dia membukakan air minum untuk Indu, menyuapi makanan kecil. Dia memperlakukan Indu layaknya seorang raja,  semua keinginannya dituruti.

“Arera,”  tak sengaja Indu menyebut nama itu sambil tersenyum simpul. Lalu dia menghela nafas panjang. Nafas yang menyiksanya hari itu.  Nafaz yang seharusnya dipersembahkan saat bercinta. Kini nafas itu itu dihembuskan sendirian dalam perjalanan.

Kini HP Indu berkedip. Dibukanya pesan wa.

“Mas sudah sampai di mana?” tulisan dari nomor Arera.

“Mojokerto,” jawab Indu singkat.

Indu tak berani menjawab panjang. Dia takut kalau tulisan itu sebenarnya tulisan suami Arera.

Mulai memasuki hutan mobil Indu dipelankan.  Pemandangan samping kiri dan kanan yang sangat indah membuatnya kembali teringat saat bersama Arera.  Harum parfum Arera kembali tercium semerbak.  Harum parfum yang menenggelamkan keduanya  dalam sebuah selimut hotel yang hangat. Serasa surga bagi kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Kini dedaunan di samping kiri dan kanan jalan menyapanya dalam keadaan sendirian. Membisu seakan tak mau jadi saksi kisah cinta  diantara belokan tajam jalanan menuju Cangar.

Setelah setengah perjalanan Indu sengaja memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.  Pintu dikunci rapat-rapat. Dia menuju sebuah warung yang berada di pinggir  jalan. Sebuah warung makan dengan menu ayam bakar. Warung itu termasuk  warung istimewa. Warung yang pernah disinggahi bersama Arera.  Pemandangan alam yang sangat menakjubkan sebelah depan warung. Bukit hijau menjulang tinggi.

 

 

Di belakang warung terlihat sungai yang jernih dengan bebatuan yang  besar Gemericik  air yang terdengar membawa kedamaian di hatinya.

“Ayam bakar satu dan teh anget satu,” pinta Indu pada pemilik warung.

Sambil menunggu sajian,  Indu membuka hp-nya.  Sudah ada pesan dari nomor     Arera.

“Naanti langsung saja ke alamat yang saya berikan,” bunyi tulisan dari nomor       Arera.

“Ya,” jawaban Indu singkat.

Tentang Penulis: Widut

Belajar dan belajar di usia tak lagi muda. Lahir di Blitar 49 tahun lalu. Pengajar SMKN 2 Tulungagung ini mulai aktif menulis tahun 2017. Pada tahun 2018 finalis inobel dan lolos naskah buku (novel) Kesharlindungdikmen. Buku tunggalnya berjudul REOG KENDANG UNTUK GERESASIKU, PELANGI BERGAMBAR RASA, CIKAR MBAH BAKRI dan SEIKAT BUNGA TAMAN.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed