oleh

SERPIHAN CERMIN RETAK 19

-Fiksiana-Telah Dibaca : 45 Orang

SERPIHAN CERMIN RETAK 19

Tung Widut

“Kau belum tidur?” suara itu sangat mengagetkan Yuandra.  Dia segera membalikkan badan. Seorang laki-laki sudah berada berdiri di belakangnya.  Segera dia  mengusap air matanya.

“Kau sedih,” tanyanya lagi.

Yuandra hanya menjawab dengan langkah mundur. Seakan dia takut kalau lelaki itu mendekatinya.

“Boleh saya mendekat? Tidak apa-apa kalau kamu masih curiga.  Saya bisa bisa   berdiri  di sini.”

“Ini rumah pak Carlos.” jawab Yuandra.

Pak Carlos  mengulang pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang belum dijawab tadi. Dia juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang Kesehatan Yuandra hari itu.

“Lihatlah rembulan. Dia kelihatan sangat indah. Setiap malam banyak  orang menungguinya.  Semua orang memuja keindahanya. Para penyair  menggunakan menggunakan lambang kecantikan, kedamaian, keindahan dan  sejuta kebaikan                                  untuk rembulan.  Kenyataannya kita tahu, dia  tak mempunyai sinar                               sendiri seperti  yang mereka lihat.“

Yuanta hanya diam dan menunduk. Dia tak tahu harus berkata apa. Ya, hanya bisa diam dan mendengarkan ocehan pak Carlos.

“Begitu juga orang menilai aku. Aku seorang play boy. Orang yang tidak beperasaan. Memacari semua mahasiswa yang cantik.  Yang perlu diketahui, merekalah yang datang padaku,  merekalah yang ngajak ku diskusi di luar dengan segala dalih. Aku hanya menuruti mereka diskusi secara santai.  Aku hanya melayani  mereka, tapi  menganggapnya itu yang romantik. Kelemahanku,  aku tidak bisa menolak wanita walau hati kecilku tak suka. Satu kesalahanku yang tak bisa aku maafkan,” dia berhenti berbicara. Dan memandangi wajah Yuandra dalam dalam.

Sedang Yuandra sendiri melihat wajah sendu pak Carlos.  Wajah yang begitu terlihat sedih. Lalu dia menunduk. Menanti ucapan lanjutan kata-kata pak Carlos.

“Kesalahan kita,”lanjutnya singkat.

Tubuh Yuandra terasa bergetar. Keringat dinginnya mrmbasahi seluruh tubuh.  Lidah rasanya pahit , wajahnya  terasa panas.

“Orang lain boleh  berkata apapun. Tapi kebenaran yang aku rasakan selama                        ini. Akan aku tunjukkan buktinya,” Pak Carlos  berjalan memasuki ruangan. Yuandra mengikuti dari belakang. Dia menuju ke sebuah kamar yang memang tak pernah dibuka selama Yuandra tinggal. Ya kamar itu kamar saat mereka berdua berbuat salah. Di bukannya pintu lalu keduanya dengan berjalan pelan masuk kamar.  Yuandra yang kelihatan ragu  hanya sampai depan pintu saja.

Tentang Penulis: Widut

Widut
Belajar dan belajar di usia tak lagi muda. Lahir di Blitar 49 tahun lalu. Pengajar SMKN 2 Tulungagung ini mulai aktif menulis tahun 2017. Pada tahun 2018 finalis inobel dan lolos naskah buku (novel) Kesharlindungdikmen. Buku tunggalnya berjudul REOG KENDANG UNTUK GERESASIKU, PELANGI BERGAMBAR RASA, CIKAR MBAH BAKRI dan SEIKAT BUNGA TAMAN.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed