oleh

Film India

-Film, Hiburan-Telah Dibaca : 36 Orang

Film India

Saya termasuk orang yang suka film India. Sedih gembira pasti ada jogetnya. Banyak perjuangan hidup manusia ditampilkan. Mulai dari masalah percintaan hingga masalah keluarga. Film India jadi tempat hiburan buat saya di kala banyak pekerjaan datang bertubi-tubi tiada henti. Dari pagi hingga malam hari.

Seperti kemarin, saya sudah harus menyelesaikan tugas Diklat sekolah guru penggerak hari pertama. Pukul 06.00 pagi sudah harus selesai. Habis sholat subuh saya langsung menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Dirjen GTK Kemdikbud membuatnya menggunakan LMS moodle. Keren banget tampilannya. Jadi ingat e-learning untuk rakyat yang digagas oleh pak Onno W. Purbo .

Pukul 07.00 wib saya sudah harus rapat virtual pengawas penilaian akhir tahun atau PAT. Setelah itu masuk ke kelas Maya sebentar di kelas 8B untuk memastikan semua siswa hadir mengikuti ujian PAT.

Pukul 07.30 wib saya sudah diminta bergabung di google meet. Kami harus mendengar secara langsung informasi yang disampaikan oleh instruktur kami. Namanya pak Arsenal. Kami tergabung dalam kelompok informatika.

Senang bisa melihat wajah kawan kawan guru dari sekolah penggerak lainnya. Kami diminta membuat jadwal piket dan berbagi tugas. Pukul 09.30 wib acara dialog langsung selesai. Saya langsung masuk LMS dan mengerjakan semua tugas.

Pukul 10.00 wib sempat berbagi ilmu sebentar tentang etika digital di acara Kominfo melalui zoom. Saya kebagian di kota Bojonegoro Jawa Timur. Banyak ilmu baru saya dapatkan dari narasumber lainnya.

Untuk menghilangkan kejenuhan, saya putar film India di YouTube. Ceritanya tentang percintaan sepasang kekasih yang sedih sekali. Saat hendak mau menikah, calon pengantin wanita mengalami kecelakaan. Kakinya harus diamputasi. Jadilah wanita tersebut tanpa kaki dan harus berada di kursi roda. Ceritanya sedih sekali. Saya lupa judul filmnya. Tapi sangat membantu saya menghilangkan kejenuhan.

Habis sholat dhuhur, saya melanjutkan kembali tugas tugas yang diberikan secara mandiri lewat LMS moodle. Diklat PKP sekolah penggerak ini dilaksanakan secara sinkronus dan asinkronus. Ada yang tatap Maya secara langsung lewat google meet dan ada yang tidak langsung lewat aplikasi moodle.

Ajaran Ki Hajar Dewantara begitu memukau hati saya. Sampai saya larut dalam perjuangan beliau di masa lalu. Pendidikan di zaman kolonial Belanda belum berpihak kepada rakyat kecil. Pendidikan baru dirasakan oleh kaum bangsawan. Padahal seharusnya pendidikan itu diberikan untuk semua. Bahasa kerennya education for all.

Sambil menonton film India berikutnya, saya lanjutkan Diklat hari kedua. Isinya tentang kurikulum sekolah penggerak dan profil pelajar Pancasila. Sangat menarik sekali pertanyaan demi pertanyaan yang dibuatnya. Saya diminta untuk menjawabnya satu demi satu sesuai dengan pertanyaan yang disiapkan pppptk IPA.

Sedih juga pppptk Informatika belum ada. Jadi kita masih gabung dengan IPA. Seharusnya kita punya lembaga sendiri. Namun karena ini mata pelajaran baru, jadi kami digabungkan di Diklat pppptk IPA. Saya mengikuti saja dengan lapang dada.

Film India terus saya putar. Saya melakukan multitasking. Sambil menyelesaikan tugas Diklat, saya putarkan film India berikutnya. Kali ini tentang kisah persahabatan dua anak manusia. Mereka akhirnya menikah walaupun dengan jalan berliku-liku. Persis seperti saya yang mulai pusing menjawab pertanyaan yang berliku-liku jawabannya.

Di dalam LMS moodle ada video pernyataan banyak pakar. Salah satunya bunda Itje Chodidjah. Wanita yang satu ini adalah idola saya sejak dulu. Pernyataan beliau sebagai pelatih para guru memang luar biasa. Banyak motivasi yang sangat membantu kami sebagai guru.

Di wa group saya membaca info. Satu demi satu kawan kawan kuliah S3 teknologi pendidikan UNJ melaksanakan ujian kelayakan. Desertasi saya sampai saat ini belum selesai. Saya masih selesaikan siklus keempat. Semoga bisa segera saya selesaikan dan saya laporkan kepada Prof. Basuki Wibawa yang menjadi promotor saya.

Setiap hari saya mencicil sedikit demi sedikit. Tinggal menunggu angket siswa yang baru 50 persen mengisi datanya. Memang butuh kesabaran dalam melakukan penelitian. Supaya hasilnya sesuai dengan harapan.

Waktu terus berputar. Seperti halnya film India yang saya putar sampai malam. Sedikit demi sedikit tugas selesai. Baik tugas mandiri maupun kelompok. Semalam kami yang berada di kelompok 1 saling bekerjasama. Alhamdulillah sudah ada produk yang kami hasilkan dan diupload di LMS moodle.

Malam hari masih sempat membuka acara belajar bicara PGRI. Kami melaksanakan kegiatannya setiap hari Selasa dan Kamis pukul 19.00 wib melalui aplikasi zoom. Alhamdulillah selalu banyak pesertanya dan buat anda yang belum sempat mengikutinya, dapat melihat siaran ulangnya di Chanel youtubenya Fajar Tri Laksono.

Acara saya berikan kepada ibu Rifatun dari Salatiga. Beliau kepala sekolah dasar di sana. Malam ini beliau bersedia menjadi moderator acara. Saya minta beliau memimpin acara. Sementara saya melanjutkan kegiatan mandiri mengerjakan tugas tugas Diklat PKP sekolah penggerak.

Film India saya putar di laptop sebelah kiri untuk menemani saya supaya tidak mengantuk. Sementara laptop di sebelah kanan saya gunakan untuk mengerjakan tugas Diklat yang loadingnya membutuhkan kesabaran. Mungkin banyak guru dari seluruh Indonesia yang mengaksesnya.

Seorang kawan memberi kabar kalau ada gangguan di servernya. Pembimbing kami dari pppptk IPA juga menyampaikan infonya di wa group. Sambil menunggu proses loading saya menonton film India. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 23.00 wib. Saatnya saya beristirahat. Istri sudah tertidur pulas. Ingin sekali menciumnya. Seperti yang ada di film India. Tapi saya khawatir membangunkannya. Biarlah istri tercinta menikmati mimpinya. Seperti saya yang telah menikmati film India.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog http://wijayalabs.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed