oleh

Cerpen: Cinta di Tepi Laut

-Cerpen-Telah Dibaca : 562 Orang

Sekarang hari Sabtu. Tepat pukul sembilan malam Jumat kemarin, aku telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dari Bu Guru, untuk dikumpulkan Senin depan. Aku tidak ingin Sabtuku terganggu. Ajakan teman-teman untuk jalan kutolak. Drama Korea kesukaan, yang tayang pagi di hari itu kulewatkan. Sabtu merupakan hari paling berharga dalam seminggu. Bagiku.

Ketika aku melewati Sabtu, aku serasa punya energi baru menghadapi penatnya pelajaran-pelajaran seminggu ke depan. Pernah, aku tidak belajar di hari Minggu. Padahal, Senin aku ujian. Ternyata, hasil ujianku memuaskan. Aku satu-satunya yang dapat nilai A saat itu. Temanku tidak percaya ketika kubilang aku tidak belajar. Itu hanya karena Sabtuku tidak terganggu.

Sabtu adalah hari di mana ayah pulang. Selama seminggu, ayah kembali ke rumah dari pekerjaan di luar kota di hari Sabtu. Kewajiban bekerja hingga malam di perusahaan swasta yang sudah ayah ikuti bertahun-tahun, tidak memungkinkannya setiap hari pulang ke rumah. Apalagi, jarak antara kantor dengan rumah kami cukup jauh. Tiga jam bila ditempuh kendaraan pribadi. Mustahil, di tengah kelelahan, ayah bisa menyetir selama itu. Aku juga tidak tega dan bila tahu, pasti melarangnya.

Ketika ayah sudah di rumah, seluruh waktu sepanjang hari kuhabiskan bersamanya. Barang sedetik aku tidak ingin menjauh dari ayah. Ibu terkadang cemburu. Dia pernah sekali tidak memasak di Sabtu itu, hanya karena ayah keluar seharian bersamaku. Lama-kelamaan, ibu bisa memahami.

“Sinta, udah siap?” Tanya ayah padaku. Dia merapikan kotak peralatan. Beberapa kaos ganti diselipkan di sana. Tak lupa, botol minuman dan bekal makan siang dari ibu ditatanya.
“Bentar Yah, Sinta ke toilet dulu” Selang beberapa menit setelah aku menyiapkan kotakku, kami berangkat. Sudah menjadi kebiasaan, hari Sabtu adalah hari memancing. Ibu saat itu memilih tinggal di rumah. Tidak enak badan.

Matahari mulai meninggi. Di tengah panas yang menyengat, burung-burung camar beterbangan mencari makan. Beberapa kapal terlihat bersandar di pelabuhan. Para nelayan bercengkerama, sembari menghitung banyaknya ikan tangkapan semalam. Laut yang selalu kami kunjungi setiap Sabtu, saat itu tenang sekali. Tak ada debur ombak. Warna biru airnya meneduhkan. Langit pun tak kalah teduh. Hamparan kebiruannya terlihat menyatu dengan biru laut di ujung mata. Awan-awan berkumpul, seperti melindungi kami dari teriknya mentari.

Kami bergegas mengeluarkan peralatan memancing.
“Sin, jangan lupa pakai mata pancing yang itu ya” Kata ayah sembari jarinya menguliti umpan udang yang dibeli ibu dari pasar semalam.
“Iya Yah” Jawabku. Kendati aku perempuan, aku suka memancing. Bukan karena ikan yang kudapat. Bukan pula karena ketenangan air laut dan embusan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Tetapi, karena Ayah.

“Syiiiuu”
Kail yang terpasang umpan kulemparkan. Ayah sudah duluan. Di tepi laut itu, kami duduk berdua. Ayah di sebelah kiriku.

“Sin, kamu tahu tidak mengapa ayah mengajakmu memancing?” Ayah bertanya di sela menunggu umpannya dimakan ikan.
“Gag tahu Yah, memang kenapa?” Aku tidak terlalu ingin tahu jawabannya. Sekadar bersama ayah saja, aku sudah senang. Saat kecil, aku dekat dengannya. Tangannya yang kokoh menggendongku. Aku sering bermain-main di atas pundaknya. Kaki kecilku kusilangkan di lehernya. Daguku kusandarkan di kepalanya. Tempat bermain kesukaanku.

Saat ibu membentak, ayah paling bisa menenangkan tangisku. Ketiga kakak lelakiku masa bodoh. Malahan, mereka mengejekku. Bila tangisku semakin menjadi, ayah langsung membawaku keluar jalan-jalan. Ayah paling mengerti suasana hatiku. Aku tidak pernah sekalipun melihat ayah marah padaku. Kendati aku tahu raut mukanya kesal, bahkan hendak marah karena kelakuan nakal kakak-kakakku, ayah tetap tersenyum padaku.

“Ayah ingin kamu jadi anak sabar ya, jangan cepat emosi” Ayah menjelaskan.
“Maksudnya Yah?”
“Iya Nak. Seperti kita menunggu lamanya umpan ini dimakan. Kita dilatih bersabar. Kalau kakak-kakak menjahilimu, kamu jangan cepat marah. Mereka sebetulnya hanya ingin menggoda. Seperti itulah caranya. Kamu harus sabar. Jadi anak perempuan yang kuat. Jangan cengeng”
Aku tersentuh nasihat Ayah. Ayah kembali mengingatkan untuk selalu tenang. Ayah tahu aku gampang naik darah.
“Iya Yah” Mataku menatapnya. Garis-garis keriput di wajahnya mulai banyak. Badannya agak membungkuk. Rambutnya di pinggir beberapa memutih.

“Trrrrkkk”
Kailku bergerak seperti ada yang menarik. “Yah, aku dapat” Teriakku gembira. Tangan kananku memegang kencang kail itu, sementara tangan kiriku menarik senarnya.
“Jangan tarik dulu. Diulur, ikannya sedang melawan” Seru ayah.
Aku pun cepat-cepat mengulur senar. Tarikan itu kuat sekali. Kailku sampai bengkok. Karena melihat sepertinya aku tidak sanggup, ayah menghampiri. Tangannya menggenggam tanganku. Kami memegang erat kail itu.

“Tarik.. tarik”
Kami bersama menarik. Hampir lima belas menit, tarik ulur dengan ikan itu berlangsung. Ikan itu tidak menyerah, apalagi kami. Sudah lama kami tidak menangkap ikan besar.

“Byuur”
Ikan itu melompat ke udara. “Yah, besar sekali ikannya” Seruku senang setelah melihat sekilas ikan itu.
“Tarik Sin! Tetap konsentrasi” Ayah mengencangkan pegangan. Tangan kirinya mengambil handuk di sebelah. Dilapnya keringat yang mengucur deras di lehernya.

Akhirnya ikan itu menyerah. Ikan tongkol berukuran dua kali telapak tangan orang dewasa berhasil kami dapat. Mata pancingku tersangkut dalam di bibir atasnya. “Yeaaayyy” Aku bersorak kegirangan.
“Tuh kan, hasilnya memuaskan bukan?” Kata ayah. Aku tersenyum.
Ikan itu kemudian kami taruh dalam jaring yang ujungnya dilekatkan pada sebuah paku dekat kami duduk. Jaring itu sebagian kami lepaskan ke laut. Terperangkap di dalam, ikan itu menyibak-nyibakan air. Kami tidak ingin ikan itu tidak segar dibawa ke rumah.

Hari semakin siang, beberapa ikan menyusul kami dapatkan. Aku mulai lelah. Setelah menikmati bekal makan dari ibu, secara spontan, kusandarkan kepalaku di paha ayah. Ayah mengelus-elus rambutku. “Tidurlah sebentar Nak” Kata ayah sembari melanjutkan pancingannya.

Aku selalu merindukan saat-saat itu. Saat di mana aku berdua bersama ayah. Saat di mana aku mendengar ayah bercerita. Saat di mana aku bisa tidur di pangkuan ayah. Saat di mana kucurahkan keluh kesahku padanya. Ayah selalu mendengar dan menjawab dengan senyuman. Tak pernah sekalipun aku dimarahi. Bila aku menangis, dia akan mengusap air mataku dan mengelus rambutku. “Yang sabar ya, jangan cengeng” Nasihat memancing dari ayah selalu kuingat. Ayah lelaki pertama dan terbaik dalam hidupku.

Aku kembali memancing di lain Sabtu. Bersama kail kesayangan dari ayah, aku mengulang kisah cintaku. Kupegang erat-erat kail itu, kulemparkan senarnya jauh-jauh sebisa tenagaku. Terasa bayangan tangan ayah membantuku menggenggam kail itu. Kehangatan cinta menggelora di hatiku.

Sementara ibu, duduk di belakangku berteduh di bawah pohon. Dia tersenyum. Dia menemaniku. Sesekali, ibu memandang awan-awan. Melayangkan pikiran. “Kamu tahu kan, aku sudah menantinya sembilan tahun?” Dia teringat kata-kata ayah yang membuatnya berhenti cemburu.

Jakarta
12 Desember 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar