oleh

A SHOULDER TO CRY ON

-Humaniora-Telah Dibaca : 77 Orang

Gambar ilustrasi: id-id.facebook.com.

 

“And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely on
When the whole world is gone
You won’t be alone, cause I’ll be there
I’ll be your shoulder to cry on….”

Itu adalah kutipan sebagian baris kata dalam bait refrain dari A shoulder to cry on. Sebuah lagu bergendre pop yang dipopulerkan oleh Tommy Page ini dirilis pada tahun 1988. Ia bercerita tentang seseorang yang rela menjadikan bahunya sebagai ‘bak’ penampung air mata. Air mata yang tumpah dari seorang teman lainnya. Entah dia sahabat, entah kekasih.

Kata-kata potongan bait refrain di atas itu kira-kira artinya seperti ini (semoga tidak keliru): Ketika kaubutuhkan bahu untuk menangis, apakala kaubutuh seseorang untuk bersandar, manakala dunia ini lenyap, kau takkan sendiri sebab aku ada, aku akan menjadi bahumu tempat menumpahkan air mata.

Mengikuti dan menelisik kata-kata dalam lagu tersebut, aku ingin membanggakan diri. Dan secara agak berani aku mau bilang bahwa lagu ini mencerminkan gaya hidup seorang guru olahraga. Maafkanlah, jika Anda terganggu. Tapi, kupikir itu sesuatu yang lumrah. Bahwa siapa pun bebas menginterpretasi sesuatu seturut kepekaan kacamatanya.

A shoulder to cry on merupakan cerminan dari salah satu peran yang biasa dimainkan oleh seorang guru olahraga. Ia menjadi bahu tempat tumpahan air mata bagi siapa pun. Artinya seorang guru olahraga menjadi tempat orang lain mencurahkan isi hatinya yang berbeban. Dan di saat itu ia pun melakoni peran yang lain yaitu sebagai pengayom. Sebagai seorang pelindung.

Kok bisa? Bagaimana caranya? Mungkin itu yang ingin kawan lontarkan. Tapi aku tidak akan menjawab kedua pertanyaan itu secara langsung. Aku hanya ingin menceritakan saja sedikit kehidupan guru olahraga di sekolah tempatnya mengajar, di mana pun itu. Semoga dengan keterangan itu sobat mendapat jawabannya.

Begini, teman!

Jam kerja guru olahraga tidak padat. Kalau mengajar di pagi hari berkisar antara jam 07.00 hingga jam 10.00. Tidak lebih karena cuaca matahari yang semakin terik menyengat. Atau di sore hari, dia akan memulai belajarnya dari jam 15.00 hingga pukul 18.00. Ini membuat dia dapat melakukan banyak hal di luar keahliannya.

Dia memiliki waktu luang di jam-jam belajar pagi antara 11.00 hingga pukul 14.00 atau 15.00. Sehingga ada banyak hal yang bisa diisi di sela-sela waktu tersebut. Ia bisa mengembangkan talentanya, mempertajam keterampilannya dan masih banyak hal lagi. Itu dapat ia lakukan bila ada kesadaran dan kemauan untuk berkembang maju.

Dengan fleksibelnya waktu membuatnya dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Banyak yang datang padanya untuk menemukan solusi. Ia menjadi orang kepercayaan di sekolah untuk memberi jalan keluar bagi mereka yang menemui kebuntuan. Apatah itu tentang kehidupan yang dihidupinya di dunia yang luas pun yang di sekolah.

Itu memungkinkannya karena guru olahraga memiliki ruangan sendiri di sekolah. Ruangan yang berfungsi sebagai tempat menyelesaikan tugas. Tempat beristirahat seusai menunaikan tugas mengajar. Tempat menyimpan perlengkapan pembelajarannya. Tempat berdiskusi dengan sesama guru olahraga dan/atau rekan guru lainnya. Termasuk juga dengan para muridnya.

Tempat yang khusus itu membuat dirinya dan orang-orang yang berdatangan menemuinya merasa nyaman. Mereka dengan leluasa berinteraksi. Semua orang bebas berekspresi. Takada hambatan dalam mengeluarkan uneg-uneg apapun yang mengganjal. Tidak perlu takut rahasianya terbongkar. Karena hanya mereka yang tahu.

Tapi dari kondisi ini bisa juga menjadi cela yang membahayakan bagi seorang guru olahraga. Terutama dari guru-guru lelaki terhadap perempuan. Entah terhadap guru, pun siswa. Maka dari itu, perlu dan harus ada keberanian yang mantap ajeg untuk membatasi diri dan mengontrol situasinya.

Kenapa aku mewanti-wanti ini, teman? Sebab sudah banyak kejadian yang terekspos. Berita yang menyebar keluar bahwa oknum guru olahraga melakukan pelecehan seks terhadap mitra bicaranya/diskusinya. Kebanyakan dari mereka yang tersasar adalah siswi. Pelajar perempuan.

Ini bukan rekaan atau hanya terkaan. Sebab di media telah masif diberitakan bahwa ada pelecehan yang dilakukan oknum guru olahraga. Memang pelecehan tidak melulu dilakukan oleh oknum guru olahraga. Tetapi karena aku sedang membahas tentang sosok ini maka tentunya dialah yang aku tonjolkan atau kemukakan kedepankan.

Begitulah teman-teman, sedikit cerita ringan seputar guru olahraga yang aku tahu. Dan melalui tulisan ini aku ingin menyatakan dua hal sekaligus. Ungkapan bangga hati yang tinggi mengawang dan rasa nelangsa yang teramat dalam.

Tabe, Pareng, Punten!

 

 

Tilong – Kupang, NTT

Rabu, 14 Juli 2021 (12.21 wita)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed