oleh

MENGAPA HARUS TANTE RANI (BAG 2)

-Novel-Telah Dibaca : 363 Orang

Tante Rani berdiri mematung. Wajahnya pucat, bibirnya tampak gemetar. Tiara dan reihan langsung masuk tanpa memperdulikan tante Rani yang berdiri disamping pintu.

“Tiara, Reihan darimana kalian tahu rumah saya..?”, suaranya terdengar gemetar.

“Tante… mengapa tante melakukan ini, bukankah Mamah sudah melarang Tante mendekati papah?”, Tiara menatap tajam.

“Tante minta maaf…”, Tante Rani menangis.

“Apa yang tante lakukan melukai kami, apakah tante menyadari itu?”, Reihan menarik napas dan berusaha menahan amarahnya.

Tante Rani hanya terdiam. Tiba-tiba seorang anak perempuan berusia 5 tahun menghampiri tante Rani dan memintanya untuk mengantar ke sekolah. Tante Rani nampak bingung.

“Putri jangan ke sekolah dulu, Bunda sedang ada tamu, minta bibi saja yang nganter…”.

Suara tante Rani lembut sambil membelai gadis kecil di depannya. Namun gadis itu tidak mau dan tetap meminta bundanya yang mengantar.

Tiara mendekati gadis kecil itu dan berbicara dengan lembut.

“Nak… jangan khawatir, bunda pasti mengantar kamu ke sekolah”, Tiara memberi isyarat ke Tanti Rani untuk mengantarnya sekolah. Tante Rani mengangguk. Dia meminta gadis kecil itu menunggu sebentar. Kemudian kembali dan pamit untuk mengantar gadis kecil itu sekolah.

Reihan melihat-lihat rumah yang didiami Tante Rani. Rumah yang sederhana namun rapih dan terawat. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang membawakan minuman.

“Bi… bibi siapanya tante Rani..?”, tanya Reihan.

“Saya pembantunya Den… bapak meminta saya menemani ibu, takut terjadi sesuatu dengannya, beliau baru di sini dan tidak punya siapa-siapa”, jawabnya.

Reihan hanya mengangguk. Tidak lama tante Rani kembali.

“Bi.. tolong tunggu Putri di sekolah, takut dia menangis kalau tahu saya tidak ada”, pinta tante Rani ke Bibi.

Wanita itu segera pergi dan meninggalkan tante Rani bersama Reihan dan Tiara.

“Tante tolong ceritakan apa sebenarnya yang terjadi”, tanya Reihan

Tante Rani menceritakan kalau dirinya sudah menikah dengan pak Farid papahnya Reihan. Pernikahan itu terjadi saat kecelakaan menimpa pak Farid, secara tidak sengaja mereka bertemu. Tante Rani menolong pak Farid yang mengalami kecelakaan. Kemudian tante Rani menghubungi bu Yeni mamahnya Reihan. Tidak lama bu Yeni datang menjemput pak Farid. Namun dari pertemuan itu pak Farid sering ke rumahnya dan kemudian mereka menikah. Kini dirinya sedang mengandung anaknya.

“Mengapa Tante mau diajak menikah sama Papah, bukankah tante tahu kalau Papah punya keluarga..?”, Reihan tampak geram

“Sudahlah Rei… ini semua sudah terjadi, yang perlu kita pikirkan bagaimana supaya mamah tidak tahu hal ini, kakak takut kalau dia tahu sakitnya kambuh”.

Tiara berusaha menenangkan Reihan terdiam, tante Rani mulai menangis. Reihan menatapnya kesal.

“Kenapa menangis..?, harusnya Tante tidak melakukan ini, kalau terjadi apa-apa dengan mamah, saya pasti menyalahkan Tante”, Reihan berdiri dan berusaha menahan amarahnya.

“Tante… begini saja, saya akan memikirkan jalan keluarnya, nanti kalau sudah ada, saya telpon tante, saya minta jangan menunjukan diri di depan mamah atau siapapun yang dekat dengan mamah, dan ingat jangan bilang ke Papah kalau kami kesini”, lanjut Tiara

Tante Rani mengangguk. Reihan dan Tiara bergegas keluar. Mobil kembali melaju di jalanan yang mulai ramai.

“Kak… darimana kakak tahu tentang ini, mengapa baru bilang sekarang?”, Reihan tampak putus asa.

“Kakak tahu dari suami kakak yang tidak sengaja bertemu Bu Lely bekas sekretaris papah itu, bu Lely bilang melihat tante Rani dan Papah di Bogor waktu menemani suaminya menghadiri undangan rekan kerjanya, lalu suami kakak mencari tahu keberadaan tante Rani ternyata seperti yang kamu lihat tadi…”.

Reihan menarik napas panjang. Betapa sedihnya jika mamah tahu papah sudah menikah, bahkan sebentar lagi akan mempunyai anak dari tante Rani.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang kak..?”, Tanya Reihan.

“Kakak juga tidak tahu Rei… kakak tidak mungkin memisahkan Papah dan tante Rani, karena mereka sebentar lagi akan memiliki anak, yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana caranya agar Mamah tidak tahu kejadian ini, kakak takut mamah sakit lagi..”, jawab Tiara.

“Kak… selain kita apa ada yang tahu kejadian ini?”.

“Ada… Mas Iwan suami kakak, bu Lely dan suaminya, dan pak Ujang sopir papah”.

“Kalau begitu kita harus bicara dengan mereka agar tetap menjaga rahasia ini”.

“Kakak setuju..”.

Mobil terus melaju. Reihan dan Tiara menyusun rencana agar perselingkuhan papah dan tante Rani tidak terdengar oleh Mamah.Bersambung

Penulis,

Yuningsih

NPA: 10111300311

#Menulis PGRI ke-20

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed