oleh

Episode Minta Izin

-Cerpen, KMAB, YPTD-Telah Dibaca : 78 Orang
Cover oleh Ajinatha

Meski mbak Ummu menasehati dan memberi masukan, aku tak perlu minta izin untuk menyusun naskah buku kepada mas Rizal, aku tetap merasa tak enak hati.

Bagaimana pun aku seorang penulis pemula, jadi harus menghormati seniorku. Tak boleh sembarangan dalam comot-mencomot hasil tulisan orang lain. Sekalipun tulisan dalam chat WhatsApp.

Karenanya, pagi ini aku memberanikan diri untuk menghubungi mas Rizal, setelah sekian purnama tak menyapanya.

“Mas…” ketikku membuka percakapanku dengan mas Rizal. Terus terang aku ragu dan khawatir juga kalau misalnya mas Rizal tak merestui naskah bukuku nanti.

Hadeh, bingung rep matur piye.” (Hadeh, aku bingung mau bilang gimana). Tulisku kemudian.

Alhamdulillah, tak seperti biasa, mas Rizal cepat merespon WAku. Biasanya aku harus WA di grup, saking dia sibuk di dunia nyata dan grup WA.

“Kenapa, Mbak?” Tanya mas Rizal.

Melihat jam di layar HP menunjukkan pukul 06.29, aku bergegas siap-siap menuju ke sekolah, tempat kerjaku.

Mengko, mas. Aku ta otw sekolahan sik.” Izinku.

“Orait.”

**

Sesampai di sekolah, dan absen, aku baru mengetikkan pesan untuk mas Rizal. Kebetulan jadwal jam pertama kedua adalah mata pelajaran Olahraga.

Terus terang, dalam menyampaikan pesan kepada mas Rizal bingung juga memulainya. Persis mahasiswa bertemu dosennya ketika mau bimbingan skripsi. Haduh. Jadi ingat pas masa-masa kuliah dulu.

“Mas, maaf sebelumnya. Aku kan ikut grup YPTD (pendirinya pak Thamrin Dahlan). Terus ada event nulis selama 40 hari. Temanya Karena Menulis Aku Bahagia. Dari aturannya naskah harus baru. Daaaan… Aku tadinya nggak mau ikut. Tapi akhirnya ikut juga. Aku siapkan materinya. Materi itu kuambil dari ilmu-ilmu mas Rizal. Chat mas Rizal juga aku comoti. Nah, naskahnya sampai sekarang sudah 34an. Kurang 6 lagi. Mas Rizal nggak keberatan kan kalau chat dan ilmunya kujadikan cerita berseri? Kalau keberatan ya sudah, mandheg le ngurus ISBN. Njur ta hapuse wae. Tapi nek ta hapus, eman-eman. Bingung kan jadinya? Padahal kalau aku nanti bukunya bisa dipake penilaian. Hehehe.” (Kalau keberatan ya sudah, aku nggak jadi ngurus ISBN. Terus aku hapus saja. Tapi kok sayang juga kalau dihapus). Chatku panjang lebar. Tak peduli mau dibaca mas Rizal kapan. Yang penting aku menceritakan hal yang sebenarnya.

Intine aku buat naskah tentang ilmu-ilmu dan chat mas Rizal ta comoti. Ngunu. Diacc ya.Pleaseeeeee…” chatku kemudian, setengah memaksa kesannya. (Intinya, aku buat naskah buku tentang ilmu-ilmu dan chat mas Rizal aku copas. Begitu).

“Nanti rencana naskah kumintakan Kata Pengantar ke Pengawas dan Kabid SD kab GK.” Lanjutku.

Rupanya mas Rizal belum sibuk dan masih pegang HP. Artinya anak-anaknya sudah sekolah offline. Jadi mas Rizal bisa membalas chatku.

“Iya. Monggo,Mbak. Terima kasih, ya?”

Aku tertawa. Antara percaya dan tidak. Tapi hatiku jelas lega.

“Alhamdulillah. Muga-muga lancar yo, mas. Terus nama Rizal perlu dicantumke di cover pora? Kuatir nek dikira plagiat.” (Nama mas Rizal perlu dicantumkan di cover apa nggak? Aku khawatir kalau dikira plagiat).

Ojoooooooo!” (Jangaaaan!)

“Lha ngapa? Nek nganggo jenenge njenengan kan sakjanne ya apik. Wong ya aku copas-copas ngono kok.”(Lha kenapa? Kalau ada nama njenengan kan sebenarnya bagus. Wong aku cuma copas gitu kok).

“Aih.” Komentarnya.

Aku langsung mengklarifikasi ke mas Rizal. Menghindari kesalahpahaman dengannya lagi. Terus terang aku capek kalau harus berdebat dengannya.

Ora neh, mas. Aku ki ngerti nek mas Rizal ora kersa ditulis neng cover buku. Paling-paling janne mas Rizal ya memeng pas ngerti namane neng buku Ini Duniaku.” (Nggak kok, mas. Aku tuh tahu kalau mas Rizal pasti nggak mau ditulis di cover buku. Paling-paling mas Rizal dulu juga males kan pas tahu namanya kucantumkan di buku Ini Duniaku).

Iyo.”

“Ya maaf. Bukan maksud gimana-gimana. Gur gemes pas cover buku emak-emak kae. Gek aku omong mas Elang, blurb seka mas Rizal ditaruh di cover depan. Iki ora balas dendam lho yaaa. Heheheh.”(Aku cuma gemes pas bikin cover buku Emak-emak. Terus aku bilang ke mas Elang, blurb dari mas Rizal ditaruh di cover depan. Ini bukan ajang balas dendam lho).

“Nggak apa-apa. Di luar itu, tetaplah semangat, Cekgu. Berbagi kebaikan. Walau setengah butir embun. Melalui apapun. Yo bisanya nulis, hajar aja. Hahaha.”

“Iyaaa. Muga-muga ilmu mas Rizal sing ta masukke neng buku ya ana manfaate.” (Semoga ilmu dari mas Rizal yang kumasukkan ke naskah buku ada manfaatnya).

“Ilmu Cekgu tuh…” emoticon tangan kekar tampil setelah kalimat itu. Padahal kan aku nggak kekar. Hahaha.

“Bukan ilmuku. Bukaaaannn. Kan nek chat-an akeh ilmu seka mas Rizal. Ilmuku isih cetek.” (Kan kalau chat itu yang banyak ilmunya dari mas Rizal. Kalau ilmuku masih cetek).

 

Melikan-Branjang, 4 Agustus 2022

 

Komentar

Tinggalkan Balasan