oleh

Ending Novel Novelis (37)

Cover buku
Cover buku oleh Ajinatha

Napak Tilas 

 

Suasana rumah di kampung Rindu masih seperti dulu, meski aku sudah lama tak ke sana. Aku tak lagi mengurusi masalah perusahaan. Ada mas Pras yang memimpin perusahaan. Ayah sendiri tampak sangat tenang setelah perusahaan dipegang orang yang tepat. 

Aku tak yakin, apakah Rindu berada di rumah atau rumah mertua. Atau bahkan sudah tinggal di rumah mereka sendiri.

Aku duduk di lincak yang terletak di bagian depan rumah Rindu. Sambil menunggu tuan rumah menyambut kedatanganku, aku terkenang pada saat awal mengenal mas Pras.

Meski sudah lama, namun kenangan itu begitu berkesan dan tak mungkin kulupakan. Entah bagaimana dengan mas Pras.

Aku belum berani berkomunikasi dengan mas Pras. Padahal ayah benar-benar wanti-wanti agar aku menghormati suamiku, apapun keadaannya. 

Aku hanya perlu bertanya dan mencari jawaban, apakah rumah tanggaku perlu kulanjutkan ataukah tidak. Dengan pergi dari rumah, aku ingin introspeksi diri atas perasaanku.

Bagaimana dengan mas Pras?

Terus terang, mas Pras hampir setiap hari mau meneleponku, video call. Bahkan ribuan chat masuk pada kontakku. Semua tak kuhiraukan. Aku ingin tahu, seberapa besar usahanya untuk meyakinkan bahwa kami memang ditakdirkan bersama.

***

“Rasanya nggak mungkin mas Pras sejahat itu, mbak,” ucap Rindu, selepas aku bercerita tentang kemungkinan kami berpisah. Aku tak menceritakan semua yang terjadi. Kukira Rindu juga takkan percaya dengan ceritaku.

“Saya tahu betul bagaimana karakter mas Pras, mbak. Dia dan Budi memiliki karakter yang berbeda. Bagai langit dan bumi.”

“Maksudmu?”

“Saya nggak bisa cerita banyak, mbak. Tapi saya melihat kalau Budi sering menghalalkan ribuan cara untuk hal yang tak diinginkannya. Dia tak suka kalau ada orang lain lebih bahagia atau sukses daripada dirinya.”

Dari cerita Rindu, aku menarik kesimpulan bahwa ucapan Budi atau Tyo hanya untuk merongrong kebahagiaan rumah tanggaku dan mas Pras.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed