Posting ini terinspirasi dari Tulisan Bapak Dahlan Iskan pada Portal Disway.id Ahad, 15 Oktober 2023 Topik Perang Gaza

 

Selamat sore. Saya absen kemarin bersebab Sabtu sampai Ahad siang ke Bogor menghadiri acara lamaran anak kemenakan.

Absen menulis komentar rasanya kog seperti ada yang kurang. Pasalnya saya tidak bisa mengunakan ponsel untuk berkometar ria di disway.id. Sedih, hanya bisa membaca komentar sobat rusuhwan.

Untunglah pada acara keluarga saya bisa konsultasi ke seorang cucu yang ahli komputer. Namanya Herdy Agusthio. kini status menjadi komentator disini. Ternyata cara menjadi komentator memang agak rumit.

Untunglah Thio berhasil . Lihatlah kebawah Thio menulis satu kalimat saja “kapan perang ini selesai”

“Wahai Datuk ponsel ini tampaknya ada masalah”

Demikian jawaban Thio setelah tidak juga berhasil meng utak atik menemukan jalan berkomentar.

Alhamdulillah setelah tiba dirumah langsung saja mengetik komentar di PC (personal computer). Ponsel tampaknya perlu di install ulang atawa beli baru.

Demika in kisah suka duka menjadi rusuhwan mania. Sementara itu berita gembira 15-16 Desember 2023 ada kopdar jilid 2. Menjadi angan angan akankah menang undian lagi menjadi peserta.

 

Oh ya Abah kini sudah mengaku. Beliau juga seorang komentator emosi tinggi hehehe

Salamsalaman.

Reply

TIDAK perlu sumpah: saya sudah menyiapkan tulisan tentang perang di jalur Gaza.

Lalu saya baca komentar Bung Mirza Mirwan: saya mundur. Tulisannya tentang Hamas bagus sekali. Lebih bagus dari seandainya saya jadi menulis soal Gaza.

Saya menyadari: pengetahuan saya tentang perang di Gaza sama dengan pengetahuan Anda.

Sama-sama mengandalkan berita media mancanegara. Kalau toh beda-beda tipis hanya keterlibatan emosinya.

Tulisan Pak Mirza terasa lebih bersimpati pada Palestina. Kalau saya yang menulis mungkin tidak bisa semenarik itu.

Saya tahu: tulisan yang menarik adalah yang ada campuran emosi di dalamnya. Pun saya. Tidak bisa lepas dari emosi itu.

Hanya saja karena terbiasa sebagai wartawan saya harus berusaha imbang. Pasti tidak bisa 100 persen. Setidaknya ada berusaha –dan sering gagal.

BACA JUGA:Equitable Remedy

Dalam perang kali ini hati nurani tidak bisa dimungkiri: militan Palestina menyerang duluan.

Tiba-tiba. Tidak disangka. Berhasil menerobos perbatasan disway.id/listtag/3338/israel”>Israel di bagian selatan.

Aneh. Perbatasan yang dijaga ketat bisa diterobos. Betapa kuat serangan militan Palestina ini. Betapa lengah penjagaan perbatasan.

Saya harus mengikuti pemberitaan media yang pro Israel juga. Ingin tahu dari sisi sana.

Umumnya mirip: banyak menampilkan sisi penderitaan manusia yang kampungnya diserang dan diduduki militan Palestina. Warga sipil. Wanita. Anak-anak.

Media pro Palestina juga menampilkan sisi penderitaan manusia di Palestina. Warga sipil. Wanita. Anak-anak. Yakni ketika Israel membalas serangan itu lebih dahsyat. Dengan kekuatan militer negara. Masih dibantu Amerika, Inggris dan Jerman.

Kekuatan pun menjadi tidak imbang. Yang bergerak di Palestina hanya unsur militan. Sekitar 50.000 orang. Di sisi Israel yang bergerak seluruh militer dan polisi negara: sekitar 500.000.

Maka tugas saya menjadi sangat ringan. Terutama di saat sangat sibuk belakangan ini.

BACA JUGA:Pasca TikTok

Bung Mirza telah membuat pembaca Disway tidak ketinggalan isu besar. Komentar dari Bung Baihaqi kemarin pun terjawab.

Saya jadi teringat komitmen tahun lalu: perlunya dibuka rubrik khusus untuk menampung tulisan-tulisan pembaca. Setelah dibuka hasilnya kecewa: tidak ada yang berminat. Tidak ada tulisan yang dikirim.

Tapi saya tidak kecewa. Belakangan banyak sekali komentar yang sangat berbobot. Sampai bingung memilih.

Dulu saya batasi maksimum memilih 29 komentar. Alasannya: teknis. Melebihi 29 tidak bisa saya kirim. Sudah begitu susah memilih akhirnya ”hilang”. Harus memilih lagi. Kirim lagi.

Belakangan kuota 29 itu diperlonggar. Beberapa hari lalu saya memilih lebih dari 36. Sulit mengurangi jadi 29. Ternyata kuota 29 itu sudah diubah Google. Kirim 36 pun bisa sekaligus.

Ide pembaca kemarin baik sekali: buka kolom ”like”. Saya tidak harus membaca semua komentar. Tidak harus memilih. Tapi saya tidak mau seperti itu.

Saya ingin membaca sendiri semua komentar. Saya sering terhibur. Juga sering tersinggung. Campur aduk. Semua itu bagus untuk latihan mengendalikan emosi. Juga baik untuk latihan tahu diri.

BACA JUGA:Jag-EV

Saya setuju dengan komentar pekan lalu: jumlah komentar yang jenaka menurun. Saya semakin jarang tertawa sendirian.

Tentu manusia memerlukan sisi-sisi hiburan. Pun kalau manusia itu bernama Gibran.

Maka saya juga sering memilih komentar aneh sebagai komentar pilihan. Saya tahu ada yang protes. Tapi hidup tidak boleh selalu dalam tegangan tinggi. Bisa meledak.

Rasanya rubrik baru tidak usah dipaksa hidup. Kita kubur saja. Pemakamannya bisa dilakukan di pertemuan perusuh tanggal 15 atau 16 Desember.

Biarlah tulisan bagus dari bung-bung Liang, Liam Then, Zuve Zhang, Jimy Marta, Soedjoko Sp, Handoko, Thamrin Dahlan, Udi Salemo dan banyak lainnya tetap bercampur di komentar.

Bisa jadi rujak cingur: ada pedasnya, manisnya, asinnya, dan ada nikmatnya.

Tulisan Liang misalnya: bagi saya sangat penting. Bisa menutupi kelemahan saya: lemah di bidang musik.

Saya tidak mengerti musik sama sekali. Kasihan pembaca Disway yang kangen musik. Untung ada bung Liang. Bung Liang begitu kaya literatur.

Maka saya bukan lagi hanya penulis Disway. Saya juga pembaca Disway. (Dahlan Iskan) 

  • Salam Literasi
  • BHP, 15 Oktober 2023
  • TD