Warga Australia Dikabarkan Kian Gemar Makan Jamur Sebagai Pengganti Daging

Kandungan gizi yang dimiliki jamur sudah lama mendapatkan perhatian dari para peneliti dan ahli gizi

Oleh:  Fiona Broom – ABC Rural

Jamur semakin banyak dihidangkan rumah-rumah warga di Australia. Meningkatnya harga makanan membuat daging juga semakin mahal dan jamur sebagai penggantinya.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan lembaga penelitian CSIRO di Australia mencoba menemukan kandungan gizi yang dimiliki jamur dan mencari tahu apakah bisa bermanfaat bagi kesehatan, terutama bagi yang memiliki kolesterol tinggi atau berpotensi terkena demensia.

Jamur adalah bahan makanan yang unik yang berdiri sendiri, karena jamur tidak termasuk tanaman namun juga bukan golongan binatang.

Kandungan gizi yang dimiliki jamur sudah lama mendapatkan perhatian dari para peneliti dan ahli gizi.

Saat harga bahan pokok yang semakin meningkat di Australia, banyak warga mulai mengurangi santapan daging dan produk makanan laut dari menu sehari-hari mereka.

Jamur semakin populer dikonsumsi di Australia. (Foto: abc.net.au/indonesian – ABC Rural/Fiona Broom)

Pengganti daging

Para pakar masalah perubahan iklim mengatakan mengurangi konsumsi daging akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sebenarnya jamur sudah lama disebut-sebut sebagai pengganti daging.

Peneliti juga menemukan ketertarikan untuk melakukan pola makan beragam membuat sebagian orang mencari bahan makanan dari tumbuhan.

Mereka juga mencoba makanan pengganti daging karena rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga ingin mencoba makanan alternatif lebih menjadi alasan utama ketimbang masalah lingkungan.

Produksi jamur terus meningkat setiap tahunnya di Australia, terutama di negara bagian Victoria dan New South Wales sebagai produsen utama.

Nilai industri jamur naik 25 persen dari tahun 2021 ke tahun 2020 dengan nilai $368 juta.

Konsumsi jamur di Australia adalah sekitar 70 ribu ton per tahun, naik dari 65 ribu ton di tahun 2013.

Ada sekitar 50 petani jamur dalam skala besar di Australia, namun jamur bisa diproduksi atau dilakukan juga dalam skala kecil.

Josef Sestokas memiliki usaha bertanam jamur setelah berhenti jadi polisi. (Foto: abc.net.au/indonesian – ABC Rural/Fiona Broom)

Josef Sestokas sebelumnya bekerja sebagai polisi selama 40 tahun namun sekarang menanam jamur di pondok di belakang rumahnya yang berukuran 9 kali 4 meter di kawasan Gippsland sekitar 322 km dari ibu kota Victoria, Melbourne.

Josef dan istrinya memiliki usaha bernama Flooding Creek Fungi yang memasok jamur ke restoran dan keluarga di kawasan Gippsland.

“Kami pergi membuka dagangan di pasar tiap kali ada kesempatan. Kami pergi hampir setiap Sabtu sepanjang tahun dan kemudian permintaan meningkat dari bulan November dari restoran,” katanya.

“Kemudian sebelum akhir pekan, produksi jamur kami sudah terjual habis dan karenanya kami tidak lagi ke pasar untuk menjual.”

“Permintaan kemudian turun lagi karena beberapa alasan, kokinya pindah, keadaan ekonomi memburuk dan sebagian warga mulai berhemat untuk pengeluaran makanan.

“Namun bukan berarti jamur adalah makanan mewah, bagi sebagian orang ini malah makanan pokok khususnya bagi vegan.”

Nilai gizi penting

Menurut ahli gizi Flavia Fayet-Moore, rasa dan tekstur jamur mirip dengan daging. “Dari sisi makanan, jamur memang cocok sebagai pengganti daging,” kata Dr Fayet-Moore.

“Jamur juga memberi rasa umami. Jadi kalau kita tambahkan rasanya semakin mendekati daging, dan membuat rasanya lebih enak.”

Namun yang paling menarik menurut Dr Fayet-Moore adalah manfaat kesehatan dari jamur.

Dr Fayet Moore adalah peneliti utama dari lembaga riset dan pengembangan Hort Innovation yang sudah terlibat dalam proyek selama tiga tahun untuk mengumpulkan bukti mengenai manfaat jamur dari nilai gizi.

Jamur kaya dengan chitin, yang membuatnya terasa seperti daging dan sumber makanan bagus karena mengandung serat.

Jamur juga mengandung beta-glucans, bahan yang bisa mengurangi kolesterol.

Jamur juga bisa menyerap vitamin D bila dijemur di sinar matahari selama 10 menit, sama seperti manusia.

Sehingga membuat jamur menjadi salah satu makanan yang secara alamiah mengandung vitamin D.

Lembaga penelitian CSIRO sedang menyelidiki apakah antioksidan asam amino ergothioneine yang dikandung oleh jamur bisa mengurangi demensia dan meningkatkan daya ingat.

Lembaga tersebut sedang melakukan uji klinis tahap kedua untuk menentukan dampak dari ergothioneine yang dibuat dalam bentuk sintetis terhadap fungsi kognitif bagi populasi umum.

“Ada berbagai penelitian baru yang mengatakan mengonsumsi jamur ada hubungannya dengan bagusnya jaringan otak,” kata peneliti senior CSIRO Naomi Kakoschke.

“Ini karena jamur mengandung komponen seperti ergothioneine yang diperkirakan memiliki kadar antioksidan dan mencegah pembengkakan.”

Tekstur jamur sebagian mirip dengan daging. (Foto: abc.net.au/indonesian – Supplied/Mountaintop Mushrooms)

Jamur untuk demensia

Dr Kakoschke mengatakan penelitian sudah menunjukkan kadar ergothioneine menurun seiring dengan meningkatnya usia dan juga bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif.

“Penelitian juga menghubungkan konsumsi jamur yang lebih tinggi dengan tingkat demensia yang lebih rendah,” katanya.

Dr Kakoschke mengatakan bahan ergothioneinekini sedang diproduksi untuk berisi satu bahan saja, yang tidak dibuat dari jamur.

“Kita sedang melihat manfaat mengkonsumsi ergothioneine setiap hari terhadap fungsi kognitif bagi mereka yang mengeluhkan adanya masalah dengan ingatan mereka,” katanya.

Josef yang sudah menanam jamur selama empat tahun mengatakan manfaat kesehatan adalah salah satu alasan mengapa dia melakukannya setelah berhenti jadi polisi.

“Saya tertarik dengan fakta jika jamur memiliki manfaat untuk mencegah demensia atau paling tidak menunda demensia,” katanya. (Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News)/abc.net.au/indonesian. *