Soal Covid-19 Presiden Donald Trump Bak Menepuk Air di Dulang

Presiden AS, Donald Trump, menyalahkan Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) terkait dengan penyebaran virus corona (Covid-19) yang sekarang jadi masalah global, terutama di negaranya.

“WHO benar-benar gagal,” kata Trump dalam posting-an di akun Twitter-nya. Ini ada dalam berita “Donald Trump Tuding WHO Gagal Tangani Virus Corona”, Tagar, 8 April 2020.

Amerika Serikat (AS) jadi episentrum penyebaran virus corona (Covid-19) setelah pandemi menyeberang dari China ke Eropa yaitu di Italia. Setelah kasus Covid-19 lebih dari 100.000 di Italia pandemi lagi-lagi menyeberangi Samudra Atlantik menuju pantai timur AS.

Kasus demi kasus positif Covid-19 terdeteksi di negara-negara bagian di pantai timur AS, seperti New York City. Pada mulanya pemerintah dan warga AS tidak menyangka pandemi akan sebesar sekarang. Maklum, laporan situs independen worldometers tanggal 8 April 2020 pukul 14.29 WIB kasus kumulatif positif Covid-19 di AS mencapai 400.546 dengan 12.857 kematian dan 21.711 sembuh.

  1. Terjadi Jutaan Pergerakan Manusia dari dan ke Wuhan

Di awal penemuan kasus virus corona baru yang kemudian disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Covid-19 di China terjadi silang-pendapat terkait dengan penyebaran virus tsb. Seperti pembatasan kontak dengan China pada tanggal 31 Januari 2020 WHO mengatakan tidak perlu ada pembatasan.

Namun, beberapa negara, termasuk AS, melakukan pembatasan perjalanan dari China pada 31 Januari 2020. Tapi, penerbangan dari dan ke Eropa tidak dihentikan. Padahal, ada analisis pergerakan dari Wuhan sehubungan dengan Tahun Baru sangat masif ke banyak negara.

Belakangan China mengumumkan banyak kasus Covid-19 yang mereka temukan tanpa menunjukkan gejala. Kontak dekat (close contact) warga Wuhan yang tidak menunjukkan gejala dengan orang-orang di banyak negara yang mereka kunjungi bisa jadi mata rantai penyebaran virus corona secara global.

Ketika ditemukan warga di Wuhan dengan keluhan sakit pneumonia kalangan medis bingung karena tidak bisa diobati dengan pengobatan yang biasa. Wabah ‘pneumonia’ terus berlanjut tanpa bisa diobati. Sayangnya, otoritas China tidak menyebarkan informasi tentang wabah ini dan mereka memilih melaporkan ke WHO. Memang, ketika itu WHO menyebarkan informasi yang meredam kepanikan. Otoritas setempat pun mengatakan penyakit tsb. bisa dicegah dan dikendalikan.

Terkait dengan tahun baru diperkirakan ratusan juta warga akan pulang kampung dan pulang kembali ke kota. Otoritas China segera melakukan lockdown, 21 Januari 2020, sehingga penduduk Wuhan tidak bisa ke luar dan pendatang pun tidak bisa masuk. Tapi, ada perkiraan sebelum lockdown sudah terjadi jutaan pergerakan manusia dari dan ke Wuhan, termasuk bepergian ke luar negeri. Kalangan ahli memperkirakan 85 pelancong asal Wuhan terinfeksi tapi tidak terdeteksi, tapi mereka bisa menularkan virus corona.

Ilustrasi. (Foto: weforum.org/REUTERS/Andrew Kelly)

Sebelum lockdown ratusan warga Wuhan diperkirakan terbang tiap bulan ke New York City dan ribuan warga lain terbang ke Sydney, Australia. Belasan ribu lainnya terbang ke Bangkok, Thailand. Kasus dengan indikasi Covid-19 terdeteksi di Bangkok pertengahan Januari 2020 pada seorang perempuan berumur 61 tahun asal Wuhan.

  1. Sesumbar Presiden Donald Trump tentang Virus Corona

Pada tanggal 23 Januari 2020 ada laporan dari Hong Kong, Seoul, Singapura dan Tokyo tentang gejala-gejala Covid-19. AS sendiri melaporkan kasus Covid-19 di dekat Seattle, Washington, di pantai timur AS.

Kalangan ahli memperkirakan pembatasan penerbangan yang dilakukan AS dan negara lain sejak Januari 2020 sudah sangat terlambang karena pelancong dari Wuhan sudah mengunjungi 30 kota besar di 26 negara di seluruh dunia. Tanggal 1 Maret 2020 negara-negara ini, Korea Selatan, Iran dan Italia melaporkan ribuan kasus infeksi Covid-19.

Pada tanggal 11 Maret 2020 Presiden Trump menunda penerbangan dari beberapa negara Eropa, tapi ini disebut sudah sangat terlambat karena kasus infeksi Covid-19 sudah dilaporkan beberapa negara Eropa. Bahkan Presiden Trump sesumbar: “Virus (maksudnya Covid-19-pen) tidak akan memiliki peluang melawan kita (AS-pen.).”

AS juga dinilai ‘telat’ menjalankan tes karena sampai tanggal 8 April 2020 pukul 14.29 WIB, seperti dilaporkan situs independen worldometers, baru 2,082,431 jiwa dari 327,2 juta sehingga proporsinya hanya 6,291 per 1 juta populasi. Bandingkan dengan Korea Selatan yang sudah mengetes 477.304 warganya sebelum terdeteksi kasus Covid-19 di negeri itu. Angka ini membuat proporsi tes sebesar 9.310 per 1 juta populasi.

Kalau kemudian Mr President Trump menyalahkan WHO tentulah dia pun perlu berkaca tentang langkah yang sudah dilakukan negaranya dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 (Bahan-bahan dari: nytimes.com, times.com, WHO, news.un.org, dan sumber-sumber lain) (tagar.id, 8 April 2021). *