Repost
Jokowi memang cerdik. Ketika awak bertanya bagaimana Program Pemda DKI dalam menangani anak jalanan, ech malah beliau membalik pertanyaan itu kepada kompasianer. Wajar juga sih, karena baru 100 hari beliau menjabat Gubernur. Masalah banjir dan macet telah menyita waktu dan pikiran sosok pribadi yang sangat sederhana ini, sehingga masalah anak jalanan nyaris luput dari perhatian. Pertanyaan itu awak sampaikan kepada Pak Jokowi ketika berlanmgsung acara diskusi dengan kompasianer pada hari Kamis, 6 Februari 2013 pukul 11.30 di kantor Kompas Palmerah Jakarta Barat.
Masalah anak jalanan adalah masalah klasik ini tidak selesai selesai oleh Gubernur pendahulu. Sampai saat ini warga Jakarta masih saja menyaksikan di tempat tempat umum khususnya di lampu merah simpangan jalan komunitas Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) ini beroperasi. Malah sekarang komunitas ini ditambah oleh kelompok anak muda pengamen berbusana aneh dengan assesoris meriah . Keberadaan Gepeng ini faktual telah menganggu kenyaman warga yang menggunakan fasilitas kendaraan umum. Cara mereka meminta uang sudah mulai dengan sedikit memaksa.
Seolah tidak ada pemerintah disana. Komunitas ini sudah meresahkan, Dinas Sosial yang diharapkan dapat mengatasi masalah ini seolah tidak hadir ditengah warga yang membutuhkan bantuan. Masalah yang sederhana apabila tidak ditangani akan menjadi masalah yang rumit, apalagi bila pembiaran itu sudah menyentuh dimensi waktu yang cukup lama. Akibatnya komunitas ini merasa bahwa kehadiran mereka mendapat ” restu” dari pemerintah. Mereka beranggapan bahwa mereka diizinkan mengamen, boleh meminta minta dan boleh sembarangan melakukan apa saja di tempat umum guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Deskripsi masalah
Mengapa komunitas Gepeng ada di sana dan siapa mereka. Mereka ada disana karena ingin mendapatkan penghasilan guna dijadikan sumber penghidupan. Sebagian besar mereka telah merasakan bagaimana mudahnya mencari uang. Dengan modus menghiba hiba, baik dalam kata atau maupun dalam berbusana jelata, komunitas gepeng ini berhasil menyentuh perasaan (hati) warga agar berbaik hati memberikan sedikit rezeki dalam bentuk sedekah. Mereka adalah warga negara, bisa jadi ada mafia dibelakang sana yang mengkoordinir operasi hiba menghiba ini. Malahan ada anak anak balita yang di operasikan meminta minta tanpa memikirkan bahaya di terjang kendaraan bermotor.
Menurut hemat awak, komunitas ini sudah menggeser niat dari ingin sekedar mendapatkan sesuap nasi menjadi keinginan mendapatkan sekantong uang. Ini masalah moral, malas bekerja karena dengan cara mudah bisa mendapatkan penghasilan. Penghasilan Gepeng yang bisa dipastikan mengalahkan penghasilan kuli angkut pasar induk yang harus berkeringat basah sebelum mendapatkan upah 50.000 perak. Kenikmatan meraup uang belas kasihan ini semakin marak bebas merdeka dengan tidak hadirnya pemerintah disana. Sementara warga yang rajin membayar pajak ke pemerintah merasa terganggu dengan kehadiran komunitas gepeng ini.
Pak Jokowi ini solusi
Masalah gepeng ini mudah dipecahkan kalau ada kemauan dan kemampuan. Kemauan dalam bentuk Program Kerja Dinas Sosial Pemda DKI berupa APBD dan Kemampuan adalah komitment PNS dan Satpol PP dalam menjalankan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab serta konsisten. Bentuk operasinya sederhana saja, komunitas ini didekati kemudian diberikan pengarahan pada tahapan peesuasif. Terus menerus memberikan penyuluhan tanpa bosan di setiap lokasi berkumpulnya mereka. Komunitas ini didata jika perlu didokumentasi dengan rapi baik alamat dan foto.
Tahapan kedua adalah memindahkan mereka ketempat lain Tempat lain itu adalah pulangkan ke kampung atau di tampung di suatu tempat yang jauh serta diberi ketrampilan + modal agar mereka bisa berusaha. Merubah pola hidup dari tangan dibawah menajdi tangan diatas. Semua Program ini, Pak Jokowi, perlu uang yang banyak. Uang yang tepat sasaran dan jangan sampai dikorupsi. oleh anak buah. Tentu saja dalam mengatasi masalah ini tetap dengan cara manusiawi walaupun dilakukan oleh Satpol PP. Gepeng juga berhak mendapatkan pelayanan publik yang santun.
Setelah lokasi tempat bergerombol di lampu merah bersih, Dinas Sosial harus tetap menempatkan petugasnya di lokasi itu. langsung menindak apabila ada Gepeng yang masih beroperasi. Inilah tugas pokok Dinas Sosial bukan duduk duduk di kantor menerima setora. Pekerjaan yang memerlukan konsistensi dan tanggung jawab yang hanya bisa dilakukan oleh Petugas bernafas panjang. Insya Allah Jakarta menjadi kota beradab. Kota yang mampu memberikan kesejahteraan bagi warga dhuafa. Setelah itu kota ini akan terhindar dari musibah dan malapetaka, percayalah,….
Nah dimana Topeng. Topeng yang menutupi diri bahwa sebenarnyan ada oknum yang malas bekrja. Topeng miskin untuk meng hiba hiba meminta belas kasihan orang. Ini adalah masalah mental. Pemerntah dalam hal ini Kementerian Sosial dan jajaran wajib menghajar oknum gelandangan pengemis yang selalu memakai topeng penghibaan.
Salam Literasi
PenasehatpenakawanpenasaraN
YPTD
Baik sekali solusinya, moga dibaca pak Jokowi.