Sumber foto : https://umumsekali.com/2018/05/mengapa-rumput-tetangga-terlihat-selalu/

 

Dulu,

ketika tetangga mempunyai mobil baru.

Aku pun ingin mengganti mobilku,

dengan merek yang lebih bergengsi.

 

Dulu,

saat tetangga memesan springbed baru.

Aku pun ingin membeli springbed terbaru,

dengan harga yang lebih mahal dari milik tetanggaku.

 

Dan benarlah kata pepatah lama,

“Rumput tetangga lebih hijau!”

 

Kini di zaman pandemi,

saat tetangga pamer keahlian memasaknya.

Aku tak tertarik memamerkan keahlianku,

karena memasak “bukanlah” hobiku.

 

Kini di zaman pandemi,

saat tetangga meng-upload video karaokenya.

Aku tak mau latah ikut-ikutan memamerkan video serupa,

meski alasannya “bukan” karena aku tak pandai menyanyi.

 

Namun aku tetap meyakini,

bahwa bunyi pepatah lama “belum bisa” dipatahkan jua,

meski di zaman pandemi.

“Rumput tetangga (masih) lebih hijau!”

 

Dan, aku masih menjadi penonton saja,

karena dengan uang ternyata tak mampu kubeli:

keahlian memasak dan keberanian menyanyi “secara instan.”

Sekalipun kuotaku berlimpah ruah!

 

Dan aku lalu hanya bisa gigit jari,

sambil bergumam dan mengamini,

“Rumput tetangga (masih) lebih hijau!”

Meski di zaman pandemi!

 

Banjarmasin, 31 Mei 2020

 

Sudah pernah tayang di Kompasiana di alamat:

https://www.kompasiana.com/agus-puguh-santosa/5ed2a6dcd541df6b0453dd62/puisi-rumput-tetangga-masih-lebih-hijau-di-zaman-pandemi

Tinggalkan Balasan