PENSIUN: BANYAK PENGETAHUAN, MENULISLAH

Menulis buku: Dokumen Pribadi

Oleh” MUCH. KHOIRI

TATKALA pensiun tiba, sangat disayangkan jika tidak menulis. Padahal hakikatnya para pensiunan pun pasti bisa menulis. Masalahnya, mau atau tidak mau menempuhnya. Bagaimanapun, saat pensiun, orang punya banyak pengetahuan yang bisa dituangkan.

Lain kata, orang pensiun itu gudangnya pengetahuan, tentang dunia kerja yang ditekuninya dan tentang hidup sendiri. Begitu banyak ragam pengetahuan yang siap menjadi materi bagi tulisan. Sampai ada ungkapan “sudah makan asam garam kehidupan”. Maksudnya, pengetahuannya banyak dan beragam.

Kendati bukan pembaca buku atau media massa sekalipun, orang seusia pensiun lazim punya banyak pengetahuan yang diperoleh karena mengalami dan menghayati hidup. Dia juga memahami pengalaman hidup orang lain. Selain itu, pemahaman lain juga bisa diserap lewat pancainderanya.

Itulah mengapa “banyaknya” pengetahuan orang seusia pensiun sangat relatif antara satu orang dan lainnya. Terlebih jika tingkat pendidikan dilibatkan, relativitas itu lebih kentara. Kendati demikian, tidak tepat untuk mengatakan bahwa mereka miskin pengetahuan atau tidak berpengetahuan sama sekali andaikata mereka tidak suka membaca, misalnya.

Jika pengetahuan banyak, materi untuk ditulis pun banyak, maka menulis itu sebenarnya hanya masalah niat dan teknisnya. Meski demikian, justru inilah masalah beratnya. Niat dan teknik menulis. Bagaimana membangun dan menjaga niat, dan bagaimana teknik menuangkan gagasan?

Salah satu niat yang pantas diperjuangkan adalah menulis untuk jariyah ilmu atau pengetahuan. Jika kematian tiba, terputuslah segala amalan manusia kecuali tiga perkara, salah satunya adalah amal jariyah ilmu yang bermanfaat. Ia akan menemani seseorang setelah kematian nantinya.

Maka, menulis tentang kebaikan mutlak harus dilakukan. Sama-sama menghabiskan energi-pikiran-biaya, menulis kebaikan akan memberi dampak berkelanjutan. Jika kebaikan yang ditulis, ia akan berbuah kebaikan, meski dalam prosesnya, mungkin akan ada ketidakbaikan. Namun, jika ketidakbaikan yang ditulis, mustahil akan tumbuh kebaikan.

Adapun teknik menulisnya, perlu menggunakan teknik bertutur–teknik menulis berbasis menulis bebas (free writing) yang dilakukan sebagaimana orang sedang berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Benar, ia berkomunikasi, bukan secara lisan, melainkan lewat tulisan yang dihasilkannya.

Pada tahap awal, menulis dengan teknik ini mungkin tidak mudah bagi sebagian orang. Namun, tak dimungkiri, apal kaji karena diulang, apal jalan karena ditempuh. Menulis itu keterampilan; karena itu, semakin banyak latihan, semakin besar untuk menjadi terampil atau mahir menulis. Banyaknya latihan ini dikuatkan oleh kuatnya niat yang dimilikinya.

Sekarang, bagi Anda yang menjelang pensiun, pertimbangkan untuk mencurahkan sebagian waktu emas untuk menulis memoar atau pengetahuan terunggul yang dimilikinya. Apakah itu? Renungkan sejenak, tanyakan pada hati nurani, dan temukan tema paling menarik untuk ditulis dan dijadikan buku. Dengan begitu, Anda sudah melampaui diri sendiri, dan menulis sejarah diri yang bakal abadi.*

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar