Remaja Smart Itu… Remaja yang Membenci Sampah

REMAJA SMART ITU…

REMAJA YANG MEMBENCI SAMPAH

Oleh: Nanang M. Safa

 

Apakah yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar kata sampah?

Ya, pasti kamu memiliki anggapan sama dengan saya, mereka, dan kebanyakan orang.

“Sampah”, satu kata yang mengandung sejuta masalah. Ketika mendengar orang menyebut kata sampah, kamu pasti merasa jijik, sarang penyakit, atau sumber mala petaka.

Sebagian kecil sampah memang masih bisa dimanfaatkan dengan cara didaur ulang. Namun 90% sampah tetaplah menjadi sumber masalah. Banjir yang selalu menjadi masalah di kala musim hujan di wilayah perkotaan, juga berawal dari sampah yang tidak tertangani dengan baik. Ribuan pasien yang memenuhi rumah sakit juga bermula dari sampah.

Kamu juga pasti setuju jika sampah bisa menimbulkan pencemaran lingkungan. Udara kotor, tanah menjadi tandus, air menjadi busuk, semua karena sampah.

Bahkan sampah juga bisa menimbulkan dampak negatif yang besar bagi otak manusia. Oksigen yang kamu hirup melalui paru–paru setiap waktu sebagian besar berfungsi untuk memperlancar peredaran darah melalui saraf di otakmu. Jika oksigen yang telah tercemari oleh bau sampah yang menyengat itu yang seringkali kamu hirup, maka sudah pasti otakmu akan ikut terkena dampak negatif dari bau busuk sampah tersebut. Makanya ada orang yang gampang marah ketika berada di lingkungan yang tercemari oleh bau busuk dari sampah. Maklum saja, bau sampah bukanlah sekedar bau tapi bau yang mengandung ribuan bibit penyakit. Makanya orang selalu menganggap sampah sebagai biang masalah.

Padahal kalau saja kita mau jujur, sebenarnya sampah hanyalah kambing hitam dari kebiasaan buruk kita sendiri.

Bagaimana tidak?

Sampah itu hanyalah benda mati yang tidak bisa melakukan apa-apa. Sampah tetap akan pasrah terhadap apapun perlakuan manusia sebagai subyek. Manusialah yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap masalah yang ditimbulkan akibat sampah. Manusia memang cenderung mencari sasaran pembenaran terhadap benda mati sebagai akibat buruk dari kesalahannya.

Nah, kamu sebagai remaja smart tentu tidak lantas ikut-ikutan bersikap demikian. Kamu tentu juga tidak ingin bersikap masa bodoh terhadap keberadaan sampah di lingkungan sekitarmu kan.

Sebagai indikator atas sikap perdulimu terhadap lingkungan sekitarmu, kamu bisa uji diri ketika berada di sekolahmu. Apakah kamu termasuk siswa yang masa bodoh terhadap lingkungan sekolahmu, atau sebaliknya kamu termasuk siswa yang perduli terhadap kebersihan lingkungan sekolahmu.

Sekarang coba lihat di laci mejamu, apakah laci mejamu menjadi tempat sampah dadakan? Lihat juga apa yang kamu lakukan ketika ada temanmu yang membuang sampah seenaknya. Atau lihat apa yang kamu lakukan ketika ada sampah berceceran di kelasmu. Semua itu akan menjadi indikator sikap, apakah kamu termasuk remaja smart atau bukan.

Kebersihan sebagian dari iman, bersih itu sehat, bersih itu indah. Inilah slogan yang melekat dalam jiwa remaja smart. Maka biarpun tidak ada sanksi atau denda yang dikenakan, remaja smart tetap tidak akan membuang sampah sembarangan. Biarpun tidak ada hadiah yang dijanjikan, remaja smart tetap akan perduli terhadap kebersihan lingkungannya.

Ayolah! Ini adalah kesempatanmu untuk menjadi remaja smart. Jadilah remaja yang membenci sampah.

 

 

Tinggalkan Balasan