Sepasang Sepatu dan Kisahnya

Dokpri

Sepasang Sepatu dan Kisahnya

Pembicaraan dari beberapa hari lalu hingga kini seputar sepatu pembagian. Namanya juga pembagian pasti selalu ada kelebihan dan kekurangannya baik dari model, ukuran dan kenyamanan dikenakannya.

Sahabatku diseberang sana bercerita, jika dia menerima pembagian sepatu dengan ukuran berbeda, sepatu kiri ukuran 39 dan sepatu kanan ukuran 40. Dia bercerita via group WhatsApp. Mulailah berbagai tanggapan tentang sepatu meramaikan obrolan di group. Saling menimpali cerita membuat lengkap informasi tentang keunikan pembagian sepatu.

Aku sendiri mengungkapkan kalau aku mendapatkan 2 pasang pembagian sepatu dinas harian celana panjang dengan alas luar sepatu yang mudah remuk jika diinjak. Akhirnya kedua sepatu itu aku musiumkan di gudang. Sempat terbersit untuk membawa kedua sepatu itu ke tukang sol sepatu namun karena aku pulang sore, tukang sol sepatu sudah tidak ada. Pada saat hari libur inginnya bersih-bersih rumah dan mencuci baju, dll. Jadi sedikit malas untuk keluar mencari tukang sol sepatu yang mangkal agak jauh dari rumah.

Saat itu aku belum menggunakan sepatu-sepatu itu karena aku sudah memiliki sepatu pengganti yang aku beli dari toko sepatu di sebuah Mall di Cilengsi. Awalnya aku beli sepatu hitam dengan motif polos sederhana untuk suamiku. Namun suamiku jarang pakai maka sepatu itu menjadi bagian dari kelengkapan dinasku. Di instansi lama tidak mewajibkan sepatu dengan satu model yang terpenting warna hitam polos tidak ada asesoris lainnya. Sepatu itu sangat ringan dan nyaman aku pakai sehingga aku tidak begitu memperdulikan lagi sepatu-sepatu pembagian.

Ketika aku kembali ke base dimana aku dibesarkan, aku mulai memikirkan untuk membeli sepatu senada dengan sepatu pembagian namun sepatu itu harus nyaman jika aku kenakan. Aku mendapatkan solusi dari adik leting di Surabaya pada saat aku dinas disana. Solusi tentang sepatu pembagian sedikit demi sedikit terselesaikan. Bagi sahabat-sahabatku yang dinas di luar Jawa memang harus menyiasati sendiri agar sepatu pembagian mereka menjadi nyaman. Banyak dari mereka mengganti sol sepatu mereka dan terpaksa harus mengorbankan sepatu yang lain.

Beberapa dari mereka enggan melapor ke pusat bukan karena mereka malas untuk melapor namun lebih kepada pasrah dengan apa yang diberikan. Ketika mereka melapor belum tentu akan mendapatkan solusi cepat. Benar juga, segala pemberian harus disyukuri dan dicari solusinya sendiri agar hidup lebih nyaman. Walau sepatu tampaknya perlengkapan sederhana namun dengan sepatu kami bisa berdiri lama dan berjalan jauh.

Kami berharap pada pembagian-pembagian selanjutnya sepatu lebih nyaman dipakai dan membuat leluasa bagi kami untuk melakukan aktivitas sehari-hari di kantor.

 

Jakarta, 17 November 2023

Nani Kusmiyati

Tinggalkan Balasan

1 komentar